Lurah Sriwedari yang baru, Hanif Assabib Rosyid (tengah), saat Pisah-Sambut, didampingi Camat Laweyan. Isnan Wihartanto (kiri) dan lurah sebelumnya, Warsidi (kanan). (Set Kelurahan Sriwedari)
Pisah-Sambut Lurah Sriwedari, Hanif Assabib Rosyid Fokus Program Strategis Berdampak : Lurah Sriwedari yang baru, Hanif Assabib Rosyid (tengah), saat Pisah-Sambut, didampingi Camat Laweyan. Isnan Wihartanto (kiri) dan lurah sebelumnya, Warsidi (kanan). (Set Kelurahan Sriwedari)
Lurah Sriwedari yang baru, Hanif Assabib Rosyid (tengah), saat Pisah-Sambut, didampingi Camat Laweyan. Isnan Wihartanto (kiri) dan lurah sebelumnya, Warsidi (kanan). (Set Kelurahan Sriwedari)

Pisah-Sambut Lurah Sriwedari, Hanif Assabib Rosyid Fokus Program Strategis Berdampak

Rotasi kepemimpinan adalah modal besar penyelesaian masalah riil di masyarakat.


SRIWEDARI, Laweyan | Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta menyambut datangnya Lurah baru, Hanif Assabib Rosyid. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut meneruskan tongkat estafet lurah sebelumnya, Warsidi, disaksikan Camat Laweyan, Isnan Wihartanto, pada Selasa (10/2/2026), di aula Kelurahan Sriwedari.

“Rotasi kepemimpinan bukan lagi dimaknai sebagai bagian dari proses politis, tapi justru modal besar untuk menyelesaikan permasalahan riil di masyarakat. Dari berbagai aspek, mulai dari kesejarahan, budaya, pengetahuan, hingga potensi ekonomi lokal, Kelurahan Sriwedari begitu potensial. Mari berkolaborasi dan berfokus pada program strategis yang memang berdampak untuk masyarakat,” ujar laki-laki kelahiran Delanggu, Klaten, itu.

Ia mencontohkan, bertumpu pada aspek budaya, Kelurahan Sriwedari dapat menjadi pusat penguatan budaya Jawa, bermula dari lagu dolanan dan permainan anak. Dalam lingkup lebih kompleks, merawat budaya Jawa sebagai identitas, terang Hanif, membutuhkan upaya kolektif.

Mangga sesarengan. Budaya Jawa itu berarti kita menjaga keluhuran tradisi, bahasa, dan tata krama sebagai bagian dari jati diri. Budaya Jawa juga bukan hanya tentang masa lalu, tetapi kearifan lokal yang dinamis dan relevan dengan kehidupan mutakhir,” kata Hanif.

Menurutnya, pelestarian identitas Jawa terepresentasi kuat saat penggunaan bahasa Jawa, pembelajaran aksara Jawa, serta melestarikan sastra Jawa berupa tembang macapat atau cerita wayang yang mengandung nilai-nilai moral dan filosofis. Selanjutnya, penting pula untuk nguri-uri tradisi, kesenian tradisional, dan busana Jawa.

Selain budaya, aspek-aspek lain tak kalah potensialnya. Lusinan ikon Sriwedari telah dikenal publik begitu jamak. Misalnya, Wayang Orang Sriwedari, Stadion Sriwedari, Taman Sriwedari, Gua Swara, Segaran Sriwedari, Pasar Buku Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Museum Keris Nusantara, dan Museum Batik Danar Hadi.

Lurah Hanif menggarisbawahi dampak positif yang akan berpengaruh bila semua potensi itu diorkestrasi dengan strategis dan optimal. Ia hendak memulainya dengan langkah-langkah sederhana tapi lestari, hingga tiba pada gerakan besar yang monumental.

“Tiada keberhasilan tanpa gotong royong. Tiada entitas tanpa kepemimpinan. Tiada kepemimpinan tanpa ketaatan. Betapa penting persatuan, kepemimpinan, dan ketaatan dalam membangun Kelurahan Sriwedari secara terorganisasi,” terangnya optimis.

Pada gelaran Pisah-Sambut tersebut, ia juga menyampaikan pentingnya kolaborasi Pentahelix antara pemerintah dengan akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Produk inovasi di berbagai bidang dapat diupayakan masif bila kolaborasi ini berlangsung intensif dan saling membutuhkan.

“Mari membayangkan, Sriwedari punya pusat literasi. Di sana tempat pengetahuan disemai. Semua tentang Sriwedari. Bisa juga menjadi destinasi wisata baru, lantas berhasil berkontribusi pada perekonomian Sriwedari. Lebih jauh, mampu dijadikan sebagai ikon Solo Literasi,” jelas Hanif.

Lebih dari semua itu, sambungnya, keberlanjutan adalah hal utama. Sebagus apa pun program dan kebijakan, bila tidak lestari, dapat kontraproduktif. Ketika kepemimpinan berubah, transformasi yang diusung tidak lantas bermula dari nol lagi.

Nilai Historis untuk Masa Depan

Dalam kesempatan berbeda, founder Laweyan Library, Taufik Nandito, berharap, kepemimpinan Lurah Hanif bersumbangsih signifikan bagi tumbuh-kembangnya literasi di Kecamatan Laweyan. 

“Literasi menjadi fondasi penting untuk mengenali identitas diri dan komunitas. Dengan literasi, warga bisa saling bertemu, berinteraksi, dan memperkuat jejaring sebagai sesama warga Laweyan, terutama Sriwedari,” ucap Taufik kepada Surakarta Daily.

Pegiat literasi yang aktif menulis tentang tema-tema kedaerahan ini berpandangan bahwa literasi beserta produk-produk turunannya bisa memperkukuh jati diri sekaligus menegaskan modal sosial warga Sriwedari pada khususnya, dan Laweyan pada umumnya.

“Sejarah Laweyan, khususnya Sriwedari, telah membentang panjang sejak berdirinya Solo hingga sekarang. Sriwedari tak hanya strategis di masa kini, tapi ia juga bernilai historis di masa depan. Inilah potensi penting untuk membuat Sriwedari menjadi referensi penting dalam pengkajian wilayah di Surakarta,” tandasnya.

Acara Pisah-Sambut merupakan lanjutan dari pelantikan di Balai Kota Solo, Selasa (3/2/2026). Sejumlah 28 lurah baru dari total 54 lurah di Kota Surakarta dilantik berikut 209 pejabat lain. Sewaktu memberi sambutan, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menandaskan pentingnya kepercayaan publik dan bekerja dengan semangat pengabdian tinggi.

Editor: Astama Izqi Winat


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik