Tampilan pintu masuk Peken Kidung Mbah Gombel, Desa Sumberejo, Klaten. (PKMG)
Pasar Kuliner Kelangenan Peken Kidung Mbah Gombel Klaten : Tampilan pintu masuk Peken Kidung Mbah Gombel, Desa Sumberejo, Klaten. (PKMG)
Tampilan pintu masuk Peken Kidung Mbah Gombel, Desa Sumberejo, Klaten. (PKMG)

Pasar Kuliner Kelangenan Peken Kidung Mbah Gombel Klaten

Pasar ini terinspirasi kisah pelarian Majapahit yang melahirkan Dukuh Jombor.


Tri Rahardjo
Kepala Desa Sumberejo Klaten

 

Kejatuhan Kerajaan Majapahit akibat serangan Demak Bintara menyisakan banyak kisah pelarian yang legendaris. Salah satunya adalah kisah Ki Rangga dan istrinya, Rara Keniten, yang memilih kabur ke arah barat demi menyelamatkan diri. Tidak hanya membawa nyawa, mereka juga membawa sebuah bende pusaka (gong kecil) yang kelak menjadi penentu sejarah sebuah wilayah di Klaten.

Setelah berhari-hari berjalan, Ki Rangga dan Rara Keniten kelelahan. Mereka memutuskan beristirahat di bawah pohon beringin yang sangat lebat. Anehnya, tanah di sekitar tempat itu selalu tergenang air (jember) akibat sebuah mata air (belik) yang memancar tanpa henti.

Demi membendung air agar bisa berteduh dengan nyaman, Ki Rangga mencabut bende pusakanya. Ia menggunakan gong tersebut untuk menyumbat sumber mata air. Sejak saat itu, Ki Rangga berucap bahwa jika kelak wilayah ini ramai maka harus dinamakan Dukuh Jombor, berasal dari kata jember yang berarti becek atau digenangi air.

Ketenangan mereka tidak bertahan lama. Kehadiran pasangan ini mengusik empat jin penunggu kawasan tersebut. Pertempuran sengit pun pecah antara Ki Rangga dan para makhluk gaib.

Berbekal kesaktian yang tinggi, Ki Rangga berhasil menundukkan keempat jin tersebut. Alih-alih memusnahkannya, Ki Rangga membuat mereka menyerah dan berjanji setuju untuk membantu menjaga serta memakmurkan wilayah Jombor.

Untuk mengelabui musuh yang mengejar, pasangan pelarian ini mengganti identitas mereka. Ki Rangga berganti nama menjadi Mbah Gombel. Rara Keniten berganti nama menjadi Nyi Rara Musiyem.

Di tempat baru ini, keduanya hidup membaur dan berjasa besar bagi masyarakat. Mbah Gombel dikenal sebagai tabib sakti yang menyembuhkan warga menggunakan air belik pusaka. Sementara itu, Nyi Rara Musiyem adalah sosok yang mengajari warga bercocok tanam, menanam sayur, buah, hingga rempah-rempah sebagai bahan obat herbal.

Mereka juga memelihara sepasang burung merpati ajaib yang selalu berbunyi memberikan tanda bahaya kepada warga jika ada ancaman datang.

Hingga hari ini, jejak mistis dan sejarah Mbah Gombel masih dijaga ketat oleh warga Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten. Setiap kali ada tradisi bersih dusun yang menanggap wayang kulit atau kesenian srandul, para seniman wajib melakukan ritual mucuki (tarian pembuka) di kompleks makam Mbah Gombel terlebih dahulu.

Kini, warisan sejarah itu disulap menjadi destinasi wisata budaya yang unik. Pemerintah Desa Sumberejo bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) resmi meluncurkan Peken Kidung Mbah Gombel.

Pasar wisata ini menjadi surga kuliner tempo dulu yang membangkitkan roda ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Pengunjung yang datang ke Dukuh Jombor kini bisa menikmati beragam jajanan tradisional legendaris yang mulai langka, seperti thiwul, gathot, pecel gendar, sate kere, lopis, sawut, plencing, soto bathok, dan dawet ayu.

Sebuah kisah pelarian politik masa lalu, kini telah berubah menjadi harmoni budaya dan berkah ekonomi bagi masyarakat Klaten.

Menghidupkan Ekonomi Desa

Tersembunyi di Dukuh Jombor, terdapat sebuah oase budaya yang menarik perhatian. Di kompleks Peken Kidung Mbah Gombel, sebuah sanggar seni bernama ‘Sanggar Jogan Seni’ berdiri sebagai wadah pelestarian seni tradisional.

Didirikan oleh Kristiaji, seorang alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sanggar perorangan tersebut menjadi pusat penggemblengan berbagai disiplin seni tradisi, mulai dari seni tari, karawitan, pedalangan, waranggana, ketoprak, hingga seni tatah wayang kulit.

Sanggar Jogan Seni tidak sekadar tempat berlatih, tetapi juga ruang penciptaan prestasi. Setiap akhir semester, tempat ini rutin menggelar uji kompetensi terbuk. Bukan hanya wadah evaluasi bagi para siswa, ajang ini juga menjadi tontonan dan hiburan yang dinanti-nanti oleh para orang tua serta masyarakat sekitar.

Prestasi sanggar kian bersinar. Pada tahun 2025 lalu, Sanggar Jogan Seni dipercaya menjadi tuan rumah sekaligus ajang perhelatan Festival Ketoprak Siswa SD dan SMP se-Kabupaten Klaten. Sebuah keberhasilan yang semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai kawah candradimuka bagi seniman-seniman muda berbakat di Klaten.

Keunikan Peken Kidung Mbah Gombel terletak pada konsep kawasannya yang memadukan berbagai elemen kehidupan masyarakat. Di tempat yang sama, pengunjung dapat menikmati wisata kuliner tempo dulu, aktivitas kesehatan, serta pusat seni dan budaya.

Ketiga elemen itu berkolaborasi secara harmonis, tidak hanya melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian UMKM di lingkungan sekitar. Peken Kidung Mbah Gombel membuktikan bahwa tradisi, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi dapat tumbuh bersama dalam satu orkestrasi yang indah.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik