Ketua Takmir Masjid Ar Rohmah, Teguh Sarosa (kiri), dan Koordinator Presidium KAHMI Solo, Agung Nur Probohudono bersalaman saat Launching Daerah Binaan dan Pelatihan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ketahanan Pangan Keluarga . (PSA Bocah Pintar)
Masjid Hijau, Cara FORHATI Solo Raya Dekatkan Keluarga dengan Masjid : Ketua Takmir Masjid Ar Rohmah, Teguh Sarosa (kiri), dan Koordinator Presidium KAHMI Solo, Agung Nur Probohudono bersalaman saat Launching Daerah Binaan dan Pelatihan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ketahanan Pangan Keluarga . (PSA Bocah Pintar)
Ketua Takmir Masjid Ar Rohmah, Teguh Sarosa (kiri), dan Koordinator Presidium KAHMI Solo, Agung Nur Probohudono bersalaman saat Launching Daerah Binaan dan Pelatihan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ketahanan Pangan Keluarga . (PSA Bocah Pintar)

Masjid Hijau, Cara FORHATI Solo Raya Dekatkan Keluarga dengan Masjid

Masjid hijau berorientasi jangka panjang pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.


PURWODININGRATAN, Jebres | Tanpa jamaah, masjid tak lebih semata bangunan fisik. Dalam sudut pandang syiar Islam, masjid dan jamaah tidak dapat dipisahkan. Karena itulah, rupaneka cara dapat dilakukan agar jamaah tersimpul di masjid. Selain ibadah sehari-hari, masjid dapat pula dirancang untuk berdampak luas pada keluarga-keluarga jamaahnya.

Seperti gerakan Masjid Hijau yang didorong Majelis Daerah Forum Alumni HMI-Wati (MD FORHATI) Solo Raya. Pada Jumat (30/1/2026), bekerja sama dengan Takmir Masjid Ar Rohmah Jebres, FORHATI Solo Raya menyelenggarakan Launching Daerah Binaan dan Pelatihan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ketahanan Pangan Keluarga yang bertempat di Masjid Ar Rohmah Jebres.

“Melalui pemanfaatan pekarangan rumah, keluarga tidak hanya memperoleh sumber pangan tambahan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan sehat dan bergizi, terutama bagi perempuan dan anak,” ujar Koordinator Presidium FORHATI Solo Raya, Nining Sholikhah, kepada Surakarta Daily.

Kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan berbagi gratis beras dan sayur untuk jamaah yang rutin dilaksanakan FORHATI Solo Raya itu merupakan bagian dari gerakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berbasis masjid. Sebuah inisiasi untuk mendorong masjid sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan penguatan ketahanan keluarga yang ramah perempuan dan anak.

“Program ini merupakan bagian dari gerakan ketahanan pangan keluarga sebagai fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat dan mandiri,” tutur Bunda Nining, begitu ia akrab disapa.

Program Masjid Hijau, sambungnya, dirancang berkelanjutan (sustainable) dan dapat terus dikembangkan melalui pendampingan serta praktik langsung oleh jamaah.

“Harapannya, program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang memberi dampak jangka panjang bagi ketahanan pangan keluarga,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu.

Sejumlah 50 peserta turut Pelatihan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ketahanan Pangan Keluarga, terdiri dari 40 jamaah ibu-ibu dan 10 jamaah bapak-bapak. Semua peserta berkomitmen untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi bagi keluarga.

Difasilitasi Founder PSA Bocah Pintar dan Rumah Belajar ABA, Rahadi Al Paluri, para peserta antusias mengikuti pelatihan dan melakukan praktik. Mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan langsung mengenai teknik penanaman sayuran dan tanaman yang mudah diterapkan di lingkungan rumah.

Selain peningkatan kapasitas peserta, kegiatan ini juga menjadi ruang penguatan jejaring antar-jamaah untuk saling berbagi praktik, baik dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan.

Nining berharap, program daerah binaan dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi komunitas masjid lain dalam mengoptimalkan potensi pekarangan rumah sebagai solusi sederhana namun berdampak nyata bagi ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak.

Nunik, salah satu peserta, menyampaikan rasa senangnya atas program tersebut. Ia menyebut, pelatihan juga beririsan dengan penyelesaian sampah rumah tangga yang selama ini sulit teratasi.

“Saya senang sekali dengan pendampingan Forhati Solo Raya ini. Saya suka dengan model menanam yang dilatihkan tadi, karena selain kami bisa menanam dengan baik, kami akan bisa menyelesaikan masalah sampah dapur kami,” terangnya.

Triple Bottom Line

Acara launching Daerah Binaan FORHATI Solo Raya dihadiri oleh Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Solo, Agung Nur Probohudono. Ia memberikan apresiasi atas peran aktif FORHATI Solo Raya dalam mengembangkan program pemberdayaan berbasis komunitas masjid.

Prof Dono menyampaikan konsep Triple Bottom Line (TBL) atau 3P tentang kesuksesan sejati dalam bisnis dan hidup yang tidak hanya diukur dari keuntungan finansial (profit), tetapi juga dari kontribusi positif terhadap kesejahteraan sosial (people) dan pelestarian lingkungan hidup (planet).

Serupa itu, Ketua Takmir Masjid Ar Rohmah, Teguh Sarosa, menyampaikan apresiasi atas terbangunnya kerja sama antara FORHATI Solo Raya dan Takmir Masjid Ar Rohmah, sekaligus secara resmi membuka program kerja sama dan pelatihan pemanfaatan pekarangan rumah bagi jamaah.

Editor: Rahma Frida


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik