Kendalikan Volume Sampah, UMS dan Desa Gonilan Hadirkan Insinerator
/ Surakartan
Dalam sehari, sampah yang dapat diproses mencapai 240 hingga 400 kilogram.
GONILAN, Kartasura | Kian hari, wilayah di sekitaran kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus berkembang. Jumlah bangunan yang tumbuh pesat, berbanding lurus dengan peningkatan jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun. Bila dahulu Kampus Pabelan masih dikelilingi areal persawahan, sekarang semakin padat permukiman.
Setiap kali populasi bertambah signifikan, gaya hidup biasanya turut berubah, termasuk pola konsumsi. Walhasil, kenaikan volume sampah pun tak dapat dihindari serta wajib menjadi perhatian pemangku kepentingan dan warga penghuni wilayah.
Misalnya, wilayah RW X Desa Gonilan. Sebuah area yang berperan penting sebagai penyangga kehidupan kampus UMS melalui penyediaan rumah kos, warung makan, dan fasilitas pendukung lainnya. Volume sampah W X mengalami peningkatan yang signifikan.
Sementara itu, penumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) setempat berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti bau tidak sedap, penurunan kualitas lingkungan, serta risiko terhadap kesehatan masyarakat sekitar.
Sebagai respons cepat dan solutif, UMS menjalin kemitraan dengan Pengurus Pengelola Sampah Mandiri (P2SM) RW X Desa Gonilan untuk mengendalikan sampah berbasis teknologi.
“Sampah telah menjadi isu strategis yang semakin mendesak, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas perkotaan. UMS bekerja sama dengan P2SM Desa Gonilan mengendalikan volume sampah di TPS RW X Desa Gonilan,” ujar Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik UMS, Ramzul Irham Riza, Jumat (28/11/2025), di kantornya.
Salah satu inisiatif utama, terangnya, adalah penerapan insinerator sebagai sarana pengurangan volume sampah secara efisien dan terkendali. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengatasi permasalahan akumulasi sampah, tetapi juga mendukung terwujudnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan di wilayah sekitar kampus.
Pembuatan insinerator menjadi langkah awal pengelolaan volume sampah yang sudah tidak terkendali. Dengan menggunakannya, volume sampah dapat dikendalikan secara cepat sambil mempersiapkan proses pengelolaan sampah dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle sebagai rencana jangka panjang.
Program didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui pendanaan skim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) 2025.
Alat berukuran 800 x 800 x 600 cm itu didesain oleh mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMS. Kapasitas insinerator mencapai 30-50 kilogram per jam. Dengan menggunakannya, dalam sehari selama 8 jam kerja, dapat memproses sampah hingga 240-400 kilogram, tergantung pada jenis sampah yang diproses di insinerator.
Dukungan Penuh
Sementara anggota tim, Nur Aklis, menambahkan, rangkaian kegiatan lain yang dilakukan untuk memaksimalkan penggunaan insinerator, yakni dengan mengadakan kegiatan workshop di TPS RW X Desa Gonilan. Tema yang diangkat, ‘Pengelolaan Sampah dengan Menggunakan Insinerator’. Workshop memperkenalkan cara-cara penggunaan alat, berikut fitur-fitur dan aspek keamanannya.
“Kegiatan juga mendapat dukungan penuh dari perangkat Desa Gonilan dengan memberi fasilitasi, mulai dari Rapat Koordinasi hingga penyediaan tempat untuk menempatkan insinerator yang akan digunakan,” ucap Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMS tersebut.
Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mengurangi dan mengendalikan volume sampah, sehingga kebersihan lingkungan dapat terjaga dengan baik. Dengan begitu, kelak akan diikuti oleh kegiatan-kegiatan lain yang dapat memaksimalkan pengendalian sampah, terutama pendukung aspek reduce, recycle, dan reuse.
Editor: Astama Izqi Winata
