Dinilai Berkemampuan, Sofyan Anif Jabat Anggota Majelis Wali Amanat UGM
/ Surakartan
Terpilih dari unsur alumni, Prof Anif berkomitmen mendorong UGM supaya melahirkan generasi berkemajuan.
BULAKSUMUR, Yogyakarta | Guru Besar Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sofyan Anif, ditetapkan sebagai Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2026-2031, bersama 15 nama lain.
MWA UGM adalah organ tertinggi yang menetapkan kebijakan umum, mengesahkan rencana strategis dan anggaran (RKAT), serta mengangkat atau memberhentikan Rektor.
MWA UGM 2026-2031 resmi ditetapkan melalui Rapat Pleno Khusus Senat Akademik pada Jumat (24/4/2026). Sofyan Anif dinilai berkemampuan dan terpilih dari unsur alumni. Penetapan MWA UGM 2026-2031 menjadi bagian penting keberlanjutan tata kelola universitas yang akuntabel dan berorientasi pada kepentingan publik.
Ketua Ad Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM, Deendarlianto, menuturkan, seluruh proses pemilihan anggota MWA UGM sesuai regulasi yang berlaku, yakni Peraturan MWA UGM No. 4 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Majelis Wali Amanat UGM No. 2 tahun 2021 terkait Persyaratan dan Tata Cara Pemilihan Anggota MWA UGM.
Selain itu, anggota MWA terpilih telah disetujui oleh seluruh anggota pleno. Persisnya, dari total 88 nama, sebanyak 82 anggota Senat Akademik UGM telah memberikan suaranya.
Menurutnya, proses pemilihan melibatkan kerja kolektif banyak pihak yang terlibat sejak tahap awal hingga penetapan akhir.
“Banyak sekali pihak yang bekerja dari pagi hingga malam hari. Proses ini bukan sesuatu yang sederhana, tapi justru di situ terlihat komitmen bersama untuk menjaga kualitas dan integritas pemilihan,” ungkap Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM tersebut.
Penggunaan sistem berbasis aplikasi dalam proses pemungutan suara menjadi bagian dari upaya transparansi dan akuntabilitas. Sistem itu telah melalui proses verifikasi oleh tim ahli guna memastikan keandalan dan keamanan selama pelaksanaan.
“Kami berupaya memastikan setiap tahapan berjalan transparan, termasuk dalam proses pemungutan suara yang dilakukan secara sistematis dan terverifikasi,” terang Guru Besar Ilmu Teknik Mesin UGM ini.
Deendarlianto menyebutkan ke-16 anggota MWA UGM yang ditetapkan berasal dari berbagai unsur, yakni tokoh masyarakat, alumni, dosen non-guru besar, dosen guru besar, mahasiswa, serta tenaga kependidikan.
Selain Sofyan Anif, dari unsur alumni, terpilih Mochamad Soleh (PLN Puslitbang). Sementara dari unsur tokoh masyarakat, terpilih Martin Basuki Hartono (CEO GDP Venture), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (Ketua Tanfidziyah PBNU), Mohammad Nuh (Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November), Suroso Isnandar (Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN Persero), Agus Taufiqurrohman (PP Muhammadiyah), dan Erwan Agus Purwanto (Deputi di Kementerian PAN-RB).
Selanjutnya, anggota dari unsur dosen non-guru besar adalah Hakimul Ikhwan, Hilda Ismail, dan Muslim Mahardika. Terpilih dari unsur dosen guru besar, yaitu Tumiran, Agus Heruanto Hadna, dan Pujo Semedi Hargo YuwonoA. Anggota MWA dari unsur mahasiswa adalah Andi Batara Gemilang, sedangkan Fitria Yuniarti terpilih dari unsur tenaga kependidikan.
Pemimpin Transformasional-Progresif
Sofyan Anif lahir di Demak, 25 Juni 1963. Jejak pertamanya dalam dunia akademis bermula dari gelar Sarjana Biologi Lingkungan yang ia sandang pada tahun 1988 dari Universitas Gadjah Mada. Ia lantas melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama dan memperoleh gelar Magister Ilmu Lingkungan pada tahun 1999. Prof Anif, begitu ia akrab disapa, selanjutnya menuntaskan Program Doktoral Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Semarang tahun 2014.
Kepemimpinannya di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) terbilang ‘jaminan mutu’. Dengan tangan hangatnya, ia melakukan transformasi progresif saat menjabat Rektor UMS periode 2017-2021 dan 2021-2025, lalu Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) sejak 2022, serta Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO) sedari 2025.
Di lingkup Persyarikatan Muhammadiyah, Prof Anif menjabat sebagai Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Ia adalah Ketua Panitia Penerima atau Tuan Rumah gelaran Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta tahun 2022.
“UGM sebagai perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia tentunya memiliki tanggung jawab besar terhadap proses pembangunan dan kemajuan bangsa. Oleh karena itu, saya akan mendorong UGM untuk terus melakukan pengembangan akademik secara institusi,” ujar Sofyan Anif, saat dihubungi Surakarta Daily.
Dengan begitu, sambungnya, UGM mampu mencetak lulusan (output) yang memiliki integritas, dan karakter yang tinggi, berwawasan ke depan (visioner), serta komitmen nasionalisme terhadap bangsa dan negara. Misi untuk mencetak kader-kader bangsa ini tidak terlepas dari upaya UGM dalam mempersiapkan SDM unggul yang siap menyongsong era Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang.
Prof Anif berpandangan, secara umum, sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam menyongsong Indonesia Emas adalah SDM yang memiliki kekuatan akademik andal dan kekuatan kompetensi spiritualitas yang tinggi.
Ia lalu menjelaskannya. Kekuatan akademik didukung rumpun keilmuan beragam yang ditunjukkan oleh 93 program studi pada 18 fakultas dan 1 sekolah vokasi, serta 26 kelas internasional undergraduate program yang dimiliki UGM.
Sementara kekuatan kompetensi spiritual didukung oleh kemandirian, kedewasaan, dan pengalaman UGM sebagai kampus rakyat, kampus pejuang Pancasila, dan kampus moderat dengan mengedepankan capaian hasil temuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (Ipteks) yang berdampak pada kemajuan bangsa.
“Ada dua potensi yang dapat terus dikembangkan UGM dalam menyongsong era Indonesia Emas. Pertama, peningkatan peran dalam penguatan program pemerintah terkait ketahanan pangan, dengan pemanfaatan sumber daya alam, terutama sumber daya hayati yang melimpah, dan kedua, peningkatan peran UGM dalam penguatan civil society yang mampu memperkuat dan mempertajam masyarakat dalam pembangunan bangsa,” ucap Prof Anif bernada optimis.
