Alvin Group memperluas jejaringnya hingga ke Kabupaten Tegal. (Alvin)
Dari Kota Tegal Menuju Jepang : Alvin Group memperluas jejaringnya hingga ke Kabupaten Tegal. (Alvin)
Alvin Group memperluas jejaringnya hingga ke Kabupaten Tegal. (Alvin)

Dari Kota Tegal Menuju Jepang

Biaya pelatihan menjadi pendorong penting tahapan awal pemberangkatan PMI ke Jepang.


Umar Jahidin
Direktur Utama LPK Alvin Group
Alumnus FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta
Mahasiswa S3 Ekonomi Manajemen UMJ Jakarta

 

Betapa aktivitas hidup ini sering kali berjalan di luar rencana. Ada sesuatu yang sudah kita persiapkan dengan matang, tetapi ternyata batal. Sebaliknya, ada pula sesuatu yang awalnya tidak terlalu kita pikirkan, justru tiba-tiba menemukan jalannya.

Mungkin karena itulah dalam Islam kita dianjurkan mengucapkan kata ‘insya Allah’ ketika merencanakan sesuatu. Bukan sekadar kebiasaan dalam berbicara, tetapi sebuah kesadaran bahwa manusia boleh merencanakan, tapi Allah pulalah yang menentukan hasil akhirnya.

Saya kembali merasakan hal itu beberapa hari lalu. Awalnya saya sudah mantap hendak bertemu seseorang. Namun, karena satu dan lain hal, pertemuan tersebut batal.

Sementara ada rencana lain yang sebenarnya bisa diwakili staf, yaitu memenuhi permintaan tim PT Alvin Duta Mandiri (PT ADM) di wilayah Jawa Tengah dan DIY untuk melakukan pertemuan di Tegal.

Karena rencana pertama batal, akhirnya saya memutuskan berangkat sendiri ke Tegal, ditemani oleh seorang staf sekaligus sebagai driver. Ternyata, keputusan sederhana itu membuka cerita yang menarik.

Salah satu agenda utama saya, bertemu dengan jajaran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tegal. Dari pertemuan itu saya merasakan sesuatu yang sangat menggembirakan.

Alhamdulillah, Kepala Dinas beserta jajaran menyambut baik kehadiran kami dengan program utama pelatihan bahasa dan penyiapan ketrampilan kerja kepada calon pekerja migran Indonesia (CPMI) ke Jepang yang kami kembangkan melalui LPK PT ADM.

Bahkan pihak Disnaker tidak berhenti pada pertemuan formal. Mereka mengundang pula puluhan SMK sederajat untuk mengikuti sosialisasi peluang kerja ke Jepang. Menariknya, masing-masing sekolah diminta dapat membawa dua sampai tiga orang alumninya.

Dukungan Lembaga Keuangan

Bagi saya, pendekatan seperti ini amat penting. Sebab, berbicara tentang bekerja ke luar negeri tidak cukup dengan membicarakan peluang kerja. Anak-anak muda perlu mendapatkan informasi yang benar sejak awal, seputar bagaimana prosesnya, kompetensi apa yang diperlukan, bahasa apa yang harus dikuasai, bagaimana mempersiapkan diri, dan yang tidak kalah penting, dari mana biaya pelatihannya.

Justru persoalan terakhir yang selama ini sering menjadi hambatan. Banyak anak muda sebenarnya mempunyai keinginan kuat untuk bekerja ke Jepang. Mereka mau belajar bahasa, mengikuti pelatihan, bahkan bersedia tinggal di asrama untuk menjalani proses belajar secara lebih disiplin.

Tetapi, tidak semua keluarga mempunyai kemampuan menyediakan biaya pelatihan. Padahal, sebelum seseorang berangkat bekerja ke Jepang, ada proses panjang yang wajib dilalui. Bahasa Jepang harus dipelajari, keterampilan harus dipersiapkan, administrasi harus dilengkapi, dan berbagai tahapan seleksi harus dijalani.

Saya sendiri hampir satu tahun terakhir giat mencari model pembiayaan untuk membantu para siswa mengikuti pelatihan bahasa Jepang. Sampai sebuah BMUN telah menanda tangani pembiayaan pelatihan untuk 100 orang siswa, tapi karena satu dan lain hal toh akhirnya pembiayaan tersebut urung terealisasi.

Tidak mudah memang. Beberapa gagasan sudah dicoba, tetapi belum menemukan bentuk yang benar-benar bisa berjalan.

Namun, seperti yang sering terjadi dalam banyak perjalanan kehidupan. Ketika kita sudah berusaha dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah, tiba-tiba jalan datang dari arah yang tidak kita duga.

Saya kemudian diperkenalkan kepada sebuah lembaga yang memiliki perhatian terhadap pembiayaan berbasis qardhul hasan. Dari sinilah muncul solusi untuk mengurai secara perlahan kesulitan pembiayaan yang selama ini saya cari.

Alhamdulillah, akhirnya berhasil ditandatangani kerja sama pembiayaan untuk 150 siswa, dengan nilai pembiayaan sekitar Rp8 juta per siswa. Dari tiga tahap pencairan, tahap pertama dan kedua bahkan sudah terealisasi.

Bagi saya, hal ini bukan sekadar angka, tetapi contoh bahwa persoalan pembiayaan pendidikan dan pelatihan anak-anak muda sebenarnya bisa dicari jalan keluarnya melalui kolaborasi.

Karena itu, saya cukup tertarik ketika dalam pertemuan di Tegal, pihak pemerintah daerah juga menghadirkan lembaga keuangan yang bersedia membantu pembiayaan pelatihan. Salah satu BPR daerah bahkan menawarkan skema pembiayaan dengan bunga yang relatif rendah dibandingkan bunga BPR pada umumnya.

Saya berpikir, mengapa model seperti ini tidak dikembangkan di lebih banyak daerah? Bayangkan jika Tegal dan beberapa kabupaten/kota di sekitarnya memiliki ekosistem yang sama.

Pemerintah daerah membuka akses informasi, SMK menyiapkan calon peserta, LPK memberikan pelatihan, lembaga keuangan membantu pembiayaan, dan perusahaan penempatan sebagaimana contoh gabungan konsorsium perusahaan penempatan yang dibangun oleh LPK Alvin, selain juga secara langsung membangun mitra di Jepang untuk membuka akses pekerjaan di negeri sakura tersebut secara lebih optimal.

Persoalan biaya yang selama ini menjadi tembok bagi sebagian anak muda perlahan dapat diubah menjadi jembatan.

Jepang Datang Lewat Zoom

Menariknya, cerita belum berhenti di Tegal. Sehari setelah saya kembali dari Tegal, tiba-tiba seorang sahabat dari Cilegon menghubungi saya. Ia kebetulan mempunyai sahabat yang memiliki hubungan baik dengan salah satu agency pekerja di Jepang dan mengajak bertemu melalui Zoom.

Sebenarnya, pertemuan tersebut sudah cukup lama direncanakan. Bahkan sebelumnya kami telah mengirimkan Letter of Intent (LOI) kepada perusahaan Jepang tersebut sebagai bentuk keseriusan dan niat baik untuk membangun kerja sama.

Tetapi waktu yang tepat belum juga bertemu. Sampai akhirnya, sehari setelah saya pulang dari Tegal, pertemuan itu pun terlaksana.

Kami berdiskusi bersama dengan pihak agency yang diwakili oleh Mr. Mamoto bersama tim. Sementara dari PT. Alvin diwakili langsung oleh saya dan staf, membicarakan mengenai kemungkinan kerja sama penempatan tenaga kerja Indonesia ke Jepang.

Ada beberapa hal penting yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Pertama, terdapat peluang kebutuhan tenaga kerja di bidang kaigo (caregiver) sekitar 100 orang dan kebutuhan driver sekitar 200 orang, dengan kualifikasi SIM yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Kedua, kami sepakat untuk menindaklanjuti kerja sama dalam bentuk kontrak jangka panjang. Ketiga, kami sepakat membangun komunikasi yang lebih intensif melalui sebuah grup bersama agar koordinasi antara pihak Indonesia dan Jepang dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.

Bagi saya, dan mungkin bagi kita semua, layar Zoom Meeting itu teramat sederhana. Tidak ada ruang pertemuan yang mewah dan tidak ada perjalanan ke Jepang. Kami hanya duduk di tempat masing-masing, membuka laptop atau telepon, lalu berbicara melalui layar.

Tetapi dari layar yang sederhana itu, terbuka kemungkinan sebuah perjalanan panjang bagi ratusan anak muda Indonesia menuju Jepang

Di sinilah saya kemudian melihat hubungan antara perjalanan ke Tegal dan pertemuan Zoom dengan Mr. Mamoto.Keduanya sebenarnya tidak saya rancang sebagai satu rangkaian.

Pertemuan pertama batal. Saya kemudian berangkat ke Tegal untuk menjalankan agenda lain. Di Tegal, justru muncul pembicaraan tentang pembiayaan pelatihan yang selama hampir setahun saya cari.

Sehari kemudian, melalui Zoom, muncul pula peluang baru kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Tentu di luar peluang yang sudah terbangun sebelumnya.

Terkadang jalan kehidupan memang seperti itu. Kita membuat plan A, kemudian Allah mengubahnya menjadi plan B. Tetapi ternyata plan B justru membawa kita kepada jalan yang lebih panjang.

Saya tidak buru-buru mengatakan bahwa semua peluang tersebut pasti akan menjadi kenyataan. Masih ada proses yang harus dijalani. Masih ada kontrak yang harus disiapkan, persyaratan yang harus dipenuhi, kompetensi calon pekerja yang harus ditingkatkan, dan komunikasi yang harus terus dijaga.

Tetapi setidaknya, sebuah pintu baru menuju dunia kerja ke Jepang sudah terbuka. Tugas kami adalah mengetuknya dengan kerja keras, menjaga kepercayaan, serta menjalankan prosesnya dengan sungguh-sungguh.

Bagi PT ADM, perjalanan menuju Jepang bukan hanya tentang mengirim orang untuk bekerja. Kami ingin membangun sebuah ekosistem.

Anak-anak muda mendapatkan kesempatan belajar. Sekolah mendapatkan akses informasi. LPK memberikan kompetensi. Pemerintah daerah membantu membuka ruang kolaborasi. Lembaga keuangan membantu menjawab persoalan pembiayaan. Mitra di Jepang membuka akses pekerjaan.

Jika semua unsur itu dapat bertemu maka bekerja ke luar negeri tidak lagi sekadar cerita tentang keberangkatan seorang anak dari kampung halamannya, namun dapat menjadi sebuah perjalanan peningkatan kualitas manusia sekaligus peningkatan kesejahteraan keluarga.

Mungkin itulah hikmah perjalanan saya dari Tegal. Saya berangkat karena satu rencana yang gagal, tetapi pulang membawa cerita tentang peluang pembiayaan. Sehari kemudian, dari sebuah layar Zoom, muncul pula cerita tentang peluang kerja baru di Jepang.

Akhirnya, kita boleh membuat rencana. Kita wajib bekerja dan berikhtiar. Tetapi jangan lupa, selalu ada ruang bagi Allah untuk menunjukkan jalan baru yang tidak pernah kita duga. Jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Insya Allah.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik