Sesarengan Ngopeni Nglakoni Bareng Ormas
/ Opini
Program Ngolabor dapat berperan sebagai instrumen revitalisasi identitas kultural masyarakat Jawa Tengah.
Rahmad Winarto
Pegiat Literasi Kebangsaan
Alumnus Fakultas Hukum UNS
Arus globalisasi yang kian deras dan pergeseran lanskap sosial politik yang serba-cepat menghadapkan bangsa Indonesia pada sebuah ironi klasik tentang kemajuan infrastruktur dan digitalisasi yang sering kali berjalan tidak seirama dengan penguatan kohesi sosial serta pelestarian nilai-nilai kebudayaan lokal.
Jawa Tengah, sebagai salah satu episentrum kebudayaan Nusantara dengan warisan sejarah Mataram yang agung, tidak luput dari tantangan zaman ini. Namun, di provinsi inilah sebuah pendekatan unik dan membumi lahir untuk menjembatani jurang antara birokrasi pemerintahan dan denyut nadi masyarakat akar rumput.
Pendekatan tersebut terangkum dalam sebuah gerakan kolaboratif yang diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah, yakni ‘Ngopeni Nglakoni Bareng Ormas’ atau yang populer dengan akronim ‘Ngolabor’.
Lebih dari sekadar program birokrasi atau forum dialog formal, Ngolabor hadir sebagai manifestasi modern dari filosofi luhur masyarakat Jawa yang diterjemahkan ke dalam tata kelola pemerintahan kolaboratif (collaborative governance).
Mari membedah gerakan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan-persoalan sosial di tingkat lokal ini, tetapi juga menjadi instrumen vital dalam merawat dan meneguhkan kembali jati diri entitas Jawa Tengah.
Filosofi dan Sinergi
Makna dari dua kata kunci utama dalam dialek Jawa, ‘ngopeni’ dan ‘nglakoni’ tak lain sebuah laku batin dan filosofi hidup yang telah diwariskan turun-temurun. Kata ‘ngopeni’ secara harfiah berarti merawat, memelihara, menjaga, atau memperhatikan dengan penuh kasih sayang.
Ketika diadopsi ke dalam kepemimpinan, ‘ngopeni’ bermakna bahwa pemerintah tidak boleh berjarak dari rakyatnya, tetapi hadir sebagai pengasuh yang merawat warganya dan memperhatikan kelompok rentan.
Pada sisi lain, kata ‘nglakoni’ berarti menjalankan atau membuktikan sesuatu melalui tindakan nyata (laku lampah), menolak retorika kosong dan mengutamakan kerja berdampak.
Ketika dua filosofi ini digabungkan dengan kata ‘bareng Ormas’ atau bersama Organisasi Kemasyarakatan maka terciptalah sebuah sintesis sosial menakjubkan.
Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) memegang peran krusial sebagai urat nadi demokrasi yang menjembatani negara di tingkat makro dengan realitas masyarakat di tingkat mikro. Melalui ruang-ruang dialog yang interaktif, terbuka, dan inklusif dalam program Ngolabor, sekat-sekat formalitas birokratis dicairkan.
Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi ormas untuk menyampaikan aspirasi, memberikan kritik konstruktif, sekaligus menyelaraskan program kerja organisasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Manfaat konkret dari sinergi tersebut sangatlah nyata di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Dalam bidang pendidikan politik, misalnya, Ormas dilibatkan secara aktif untuk memberikan pencerahan agar masyarakat tidak terjebak dalam pusaran politik uang (money politics), polarisasi identitas, serta penyebaran hoaks menjelang pemilu.
Sementara itu, di sektor kesejahteraan sosial dan penanganan krisis, ormas di Jawa Tengah tak jarang bergerak cepat dan menjangkau wilayah-wilayah yang belum tersentuh program formal pemerintah, mulai dari penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, mitigasi bencana alam, hingga rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan narkoba bekerja sama dengan BNN.
Potensi besar Ormas diorkestrasikan secara harmonis, sehingga menghasilkan daya dorong pembangunan yang jauh lebih masif dan tepat sasaran.
Menjaga Jati Diri Jawa Tengah
Jawa Tengah bukan sekadar batas teritorial administratif, tetapi sebuah entitas kultural. Sebuah ruang hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur seperti andhap asor (rendah hati), tepa selira (tenggang rasa), gotong royong, dan harmoni sosial.
Namun, di era disrupsi informasi saat ini, jati diri kultural tersebut menghadapi ancaman serius berupa lunturnya semangat komunal akibat individualisme serta potensi konflik akibat polarisasi sosial.
Program Ngopeni Nglakoni Bareng Ormas dapat mengambil peran sebagai instrumen revitalisasi identitas kultural masyarakat Jawa Tengah.
Pertama, program ini menghidupkan kembali semangat komunal gotong royong melalui konsep sesarengan. Pemerintah dan Ormas membuktikan bahwa tantangan pelik seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial hanya bisa diselesaikan jika dikerjakan secara bersama-sama, bahu-membahu tanpa sekat.
Kedua, gerakan ini merefleksikan gaya kepemimpinan yang membumi dan humanis, di mana pemimpin tidak sekadar duduk di balik meja, melainkan mau turun langsung ke akar rumput untuk mendengar keluh kesah rakyatnya.
Ketiga, sebagai wilayah yang majemuk, Jawa Tengah melalui ormas-ormas keagamaan dan sosial yang dirangkul dalam Ngolabor terus merawat kerukunan umat beragama, mencegah radikalisme, serta meredam potensi konflik horizontal dengan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan kultural.
Tentu saja, mempertahankan gerakan kolaboratif yang melibatkan ratusan ormas bukanlah perkara mudah. Sebab, program ini dituntut untuk terus beradaptasi, mulai dari peningkatan kapasitas kelembagaan Ormas agar semakin profesional dan transparan, perluasan partisipasi generasi muda melalui medium yang relevan bagi Gen Z, hingga menjaga keberlanjutan program agar dampaknya selalu dirasakan langsung oleh masyarakat marginal.
Pada akhirnya, Ngopeni Nglakoni Bareng Ormas telah membuktikan bahwa kearifan lokal bukanlah artefak masa lalu yang disimpan di museum, tetapi jangkar moral yang hidup untuk memecahkan persoalan kontemporer.
Melalui semangat merawat dengan kasih sayang (ngopeni) dan membuktikan dengan kerja nyata (nglakoni) secara bersama-sama (sesarengan), Jawa Tengah sedang merajut kembali kohesi kebangsaan.
Terlebih, membangun daerah seyogianya dilakukan dengan hati yang tulus, tangan yang terbuka untuk merangkul, serta kaki yang teguh melangkah bersama rakyat demi masa depan yang harmonis dan berkeadilan.
