Founder Etika Consulting Klaten, Etik Rahmawati. (Dok Pribadi/Gemini)
SDM Kita Banyak yang Unggul, Tapi... : Founder Etika Consulting Klaten, Etik Rahmawati. (Dok Pribadi/Gemini)
Founder Etika Consulting Klaten, Etik Rahmawati. (Dok Pribadi/Gemini)

SDM Kita Banyak yang Unggul, Tapi...

‘Talent war’ sungguh terjadi, dan bila negara tak segera bergerak, generasi unggul Indonesia bisa saja pergi.


Etik Rahmawati
Psikolog alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta
Founder Etika Consulting Klaten
Co-Founder Brilliant Consulting Semarang

 

Akhir-akhir ini, slogan ‘SDM Unggul’ sering kita dengar, terutama bila berkaitan dengan agenda menyongsong Indonesia Emas 2045. Masa di mana Indonesia telah mencapai usianya yang ke seratus tahun.

Menghadapi persaingan industri dunia, kemampuan sumber daya manusia sangat penting, selain teknologi. Faktor sumber daya manusia inilah yang ditengarai menjadi penyebab sebuah negara kalah atau menang ketika bersaing dengan negara lain.

Di balik persiapan menghasilkan SDM unggul, sebenarnya kita sudah memulainya, dan memilikinya, bahkan bertahun-tahun lalu. Teringat sosok BJ Habibie yang dipanggil Presiden Soeharto kembali ke Tanah Air untuk memimpin Kementerian Riset dan Tekhnologi. Kita tahu, finalnya menghasilkan pesawat terbang yang tinggal selangkah lagi mampu melesatkan Indonesia sebagai produsen pesawat terbang.

Dukungan pemerintah saat itu adalah modal dan pendirian perusahaan untuk memproduksi pesawat terbang, serta adanya dukungan politik. Namun, rupanya kepentingan kelompok tertentu membuyarkan impian bangsa.

Tapi, setidaknya bisa disepakati bahwa dukungan negara dan pemerintah telah menjadikan Habibie sebagai sosok pengubah nasib bangsa kala itu. Belajar dari hal tersebut maka dukungan serupa juga bisa diberikan pada para talented di Indonesia yang saat ini juga sedang berkiprah.

Misalnya, berapa banyak inovasi yang lahir, tapi layu sebelum berkembang. Di balik gencarnya inovasi itu, karya anak bangsa membutuhkan apresiasi dan dukungan politik untuk bisa mewujudkan impian menjadi bagian dari produsen kelas dunia.

Karya, dukungan pendidikan, dan usia yang masih muda merupakan peluang yang sangat besar. Dukungan modal tidaklah cukup, sebab harus ada dukungan pemerintah dan dukungan politik dengan regulasi yang berpihak pada SDM unggul yang sudah jadi ini.

Tanpa dukungan politik, kesempatan emas negara yang bisa fokus pada kans masa depan dan tren teknologi berikut kontribusi dari universitas, akan sirna. Artinya, ketika banyak orang di luar Indonesia sedang mengembangkan inovasi serupa, bisa saja bangsa lain tertarik pada talented-talented ini serta menghargai kreasinya dengan harga yang sangat tinggi.

Ada yang mengatakan bahwa jumlah hacker di Indonesia begitu banyak. Apakah hal tersebut bisa mengindikasikan bahwa bangsa ini memiliki banyak talented dalam bidang teknologi?

Tidak semua hacker melakukan aksi kriminal. Terkadang mereka hanya iseng untuk mencoba kemampuan mereka. Di saat gencar-gencarnya penerapan teknologi terbaru dan industri automasi, pada akhirnya tidak sulit bangsa ini meng-hire SDM unggul yang berprestasi dalam IT dan permesinan untuk menciptakan robot, mengembangkan artificial intelligent, big data, dan lain-lain.

Kabar baiknya, mereka sudah ada, dan tidak perlu menunggu untuk disiapkan. Namun, banyak di antara mereka telanjur bekerja di luar negeri. Bukan karena tidak cinta Tanah Air, tapi karena mereka melihat bahwa di negara lain, passion mereka lebih berkembang. Di sana pula, kontribusi mereka lebih diakui, sehingga mereka mendapatkan kepuasan dalam menerapkan keahlian mereka.

Apa Kabar Hasil Riset?

Begitu pula, tak kurang jurnal ilmiah diterbitkan oleh para akademisi. Hasil riset tersebut sering hanya mampir di perpustakaan dan internet, namun kurang diimplementasikan. Belum lagi penelitian yang dilakukan oleh lembaga resmi penelitian pemerintah.

Indonesia sebagai negara tropis dengan sifat tanah yang subur tentu saja lebih bisa menghasilkan hasil pertanian yang unggul. Banyak hasil penelitian dalam bidang pertanian yang bisa diterapkan agar Indonesia menjadi negara agraris yang mampu mengekspor hasil pertaniannya.

Misal, banyak buah pepaya di tanah Indonesia, tapi mengapa pepaya Thailand yang dicari? Apakah Indonesia tidak bisa menghasilkan pepaya yang melebihi manisnya rasa pepaya Thailand? Indonesia memiliki mangga yang sangat beragam. Peluang membudidayakannya jelas ada, supaya di luar negeri orang akan menyebutnya dengan ‘mangga Indonesia’.

Bahkan ketika dunia tekstil mengeluhkan bahan baku berupa kapas, sebaiknya ada penelitian bagaimana cara menghasilkan kapas yang berkualitas. Paling tidak memberikan kualifikasi kapas yang dicari dengan spesifikasi tertentu.

Atau bawang, garam, beras, dan lain-lain. Di bumi subur Indonesia tak akan kekurangan pangan jika SDM unggul di Indonesia diberikan apresiasi dan diimplementasikan karya mereka dengan dukungan regulasi secara total.

Banyak SDM telah muncul di negara kita. Masyarakat sudah bisa bergerak cepat, tanpa terlalu lama menyiapkannya, karena sudah lama tercipta. Dukungan dan lingkungan yang mendorong dan menghargai akan menjadi kebiasaan yang mampu menimbulkan SDM-SDM unggul berikutnya.

Namun, tanpa adanya dukungan pemerintah berupa regulasi dan penghargaan maka semua menjadi sirna. Mungkin saja para talented akan diambil oleh orang lain.

Saat ini adalah era talent war. Indonesia yang ingin menjadi negara maju harus peka terhadap kebutuhan SDM di masa depan. Ketika industri sedang mempersiapkan engage dan retain maka bangsa ini harus sudah memulainya terlebih dahulu. Terlebih, industri tidak mengenal negara dan mereka bersaing tanpa melihat asal usul.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik