Rujukan Buku Karya Desma Husni Demi Merawat Kewarasan
/ Opini
Kesehatan mental sangat bergantung pada kemampuan masyarakat menyeimbangkan produktivitas mekanistis dan kepekaan batin.
Kini, kesehatan mental telah bertransformasi menjadi isu krusial yang menuntut perhatian serius di tengah arus modernitas yang bergerak begitu cepat, di mana desau informasi dan tuntutan hidup seolah tak pernah memberi ruang jeda bagi akal dan batin.
Manusia sekarang tidak hanya dihadapkan pada pergulatan ekonomi atau sosial, tetapi juga pertarungan batin yang pelik, mulai dari kecemasan eksistensial, overthinking atau ruminasi, hingga alienasi diri di tengah keramaian.
Dalam lanskap sosial yang sarat kompleksitas inilah buku berjudul Menyoal Psikologi Manusia karya Desma Husni hadir sebagai sebuah bacaan yang menawarkan oase sekaligus peta navigasi mental yang membumi.
Diterbitkan oleh Pandiva Yogyakarta dengan suntingan yang apik, buku ini merangkum pelbagai renungan dan analisis ilmiah berbasis psikologi yang dekat dengan realitas mutakhir keseharian masyarakat.
Penulisnya, Desma Husni, seorang akademisi UIN Sultan Syarif Kasim Riau alumnus Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan 1997. Ia juga pimpinan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan tahun 2001.
Dalam karyanya tersebut, Desma membedah persoalan kejiwaan manusia secara komprehensif. Buku setebal ratusan halaman ini dibagi ke dalam tiga bagian utama, yakni psikologi keluarga, psikologi komunitas, dan psikologi pendidikan.
Melalui gaya Penulisan yang memadukan kedalaman akademik dan bahasa reflektif, karya ini tidak sekadar memaparkan teori-teori psikologi, tetapi mengajak pembaca untuk melakukan introspeksi diri. Psikologi senyatanya merupakan ilmu terapan yang hidup di setiap denyut interaksi keluarga, ruang kelas, hingga trotoar jalanan perkotaan, dan bukanlah monopoli konseling klinis atau kampus.
Buku Menyoal Psikologi Manusia menawarkan sudut pandang yang sangat relevan bagi masyarakat urban, pendidik, orang tua, maupun mahasiswa yang tengah mencari makna di tengah gegar zaman.
Menjaga Kewarasan di Tengah Mikrosistem
Bagian pertama dan kedua dari buku ini meletakkan fondasi yang kuat mengenai bagaimana unit terkecil masyarakat, yakni keluarga, serta komunitas di sekitarnya memegang peranan vital dalam merawat kesehatan mental individu.
Penulis secara tajam menyoroti bagaimana hantaman krisis global, seperti masa pandemi Covid-19 lalu, telah menguji daya tahan atau resiliensi keluarga Indonesia. Dalam pandangan psikologi modern, resiliensi tidak semata kemampuan bertahan hidup secara pasif, namun kapasitas dinamis sebuah sistem keluarga untuk beradaptasi secara positif di tengah tekanan eksternal yang masif.
Penulis mengelaborasi teori sistem ekologi Bronfenbrenner untuk menjelaskan bagaimana perubahan makrokosmos, seperti krisis sosial dan pembatasan mobilitas, yang berimbas langsung pada mikrosistem terdekat manusia, yakni rumah tangga. Ketika rutinitas hancur dan tekanan ekonomi menumpuk, keluarga sering kali menjadi garda terdepan yang paling rentan mengalami pembajakan emosi (emotional hijacking).
Betapa penting regulasi emosi, optimisme, dan empati sebagai pilar-pilar pembentuk resiliensi keluarga. Penulis memberikan catatan penting bahwa ketahanan sebuah bangsa berakar dari ketahanan mental keluarga-keluarganya. Oleh karena itu, gagasan mengenai perlunya Gerakan Nasional Ketahanan Keluarga menjadi relevan.
Tidak berhenti pada ranah domestik, Penulis juga menyoroti dinamika psikologis masyarakat perkotaan yang hidup dalam ritme bergegas. Mengutip data saintifik, Penulis memaparkan bahwa penduduk kota besar memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi terhadap risiko depresi, kecemasan (anxiety attack), hingga gangguan psikis lainnya dibandingkan masyarakat pedesaan.
Faktor pemicunya tidak hanya sebatas tekanan sosial dan alienasi, tetapi juga stressor fisik seperti polusi udara dan kebisingan kota yang secara biologis memicu inflamasi di otak serta menurunkan performa kognitif.
Di tengah lanskap urban yang kian individualistik, Penulis menawarkan sejumlah penawar psikologis yang menarik, salah satunya konsep filosofi ikigai asal Jepang, yakni sebuah alasan untuk hidup, bangun pagi, dan merasa bermakna. Penulis menjembatani filosofi ini dengan nilai-nilai spiritualitas keagamaan, di mana segala ikhtiar harian manusia bermuara pada pencarian keridaan Sang Pencipta.
Selain itu, bab mengenai pentingnya merawat empati melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti membaca sastra, menikmati alam, hingga memberanikan diri menyapa orang asing, menjadi panduan praktis bagi warga kota untuk merajut kembali kohesi sosial yang mulai retak.
Melalui ulasan itu, pembaca diajak menyadari bahwa kesehatan mental masyarakat perkotaan sangat bergantung pada kemampuan mereka menyeimbangkan antara produktivitas mekanistis dan kepekaan batin.
Merawat Nalar dan Jiwa
Memasuki bagian ketiga, fokus beralih secara tajam ke dunia pendidikan dan perguruan tinggi, sebuah arena yang sarat dengan pergulatan intelektual sekaligus tekanan psikologis bagi para peserta didik dan mahasiswa.
Desma Husni secara bernas membedah berbagai problem laten dunia akademik modern, mulai dari merosotnya diskursus kritis di kalangan organisasi mahasiswa, maraknya fenomena overthinking atau ruminasi, hingga hantaman psikis berupa kompleksitas rasa rendah diri (inferiority complex) di kalangan generasi muda.
Salah satu diskursus paling memikat dalam bagian ini adalah ulasan mendalam mengenai ruminasi. Penulis mendefinisikan ruminasi bukan hanya berpikir kritis, tetapi jebakan mental di mana seseorang terus-menerus memikirkan peristiwa atau kegagalan masa lalu tanpa mampu menemukan solusi, yang berujung pada kelumpuhan kognitif (analysis paralysis) dan depresi.
Dalam dunia mahasiswa, tekanan akademik yang tinggi sering kali diperparah oleh budaya instan dan standar kesempurnaan yang tidak realistis. Ketika ekspektasi tidak sejalan dengan realitas, mahasiswa rentan terjerumus ke dalam lingkaran setan emosi negatif.
Untuk mengatasi hal tersebut, Penulis menawarkan solusi berbasis intervensi bimbingan konseling, khususnya melalui pendekatan cognitive behavioral therapy (CBT). Pendekatan tersebut mengajarkan pentingnya membingkai ulang (reframing) pikiran negatif, melatih pengendalian diri (self-control) yang tepat—bukan overcontrol yang menekan diri secara berlebihan maupun undercontrol yang impulsif—serta membangun kesadaran penuh pada masa kini (mindfulness).
Penulis menegaskan bahwa institusi pendidikan, khususnya kampus, seyogianya tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai kognitif, namun hadir sebagai tempat yang aman secara psikologis melalui optimalisasi layanan konseling yang inklusif dan ramah mahasiswa.
Selain itu, buku ini menyoroti pentingnya membudayakan komunikasi yang efektif dan memberanikan anak serta peserta didik untuk mengemukakan pendapat sejak usia dini. Dengan mengutip teori kecerdasan majemuk dan pola asuh demokratis, Penulis menunjukkan bahwa keberanian berpendapat adalah kunci mengasah keterampilan sosial dan kreativitas kognitif anak.
Pendidik dan orang tua diingatkan untuk meninggalkan pola komunikasi satu arah yang otoriter, dan beralih menjadi mitra dialog yang hangat. Melalui pendekatan psikologi komunikasi, seorang pendidik dapat mengubah opini, sikap, hingga perilaku peserta didik ke arah yang lebih positif dan produktif.
Secara keseluruhan, Menyoal Psikologi Manusia karya Desma Husni berhasil disajikan dengan sangat baik. Buku ini menawarkan kedalaman teoretis yang didukung oleh daftar pustaka dan referensi jurnal ilmiah yang kaya, namun tetap menyuguhkan bahasa penuturan yang membumi dan aplikatif.
Kelemahan kecilnya mungkin terletak pada beberapa bagian transisi antar-esai yang terasa cukup padat, sehingga menuntut pembaca untuk mencernanya secara perlahan. Kendati demikian, buku ini tetap dapat menjadi bacaan wajib bagi siapa saja, baik orang tua, guru, dosen, mahasiswa, maupun pemerhati masalah sosial, yang tertarik memahami seluk-beluk labirin kejiwaan manusia modern.
Di tengah dunia yang kian bising dan menuntut, Menyoal Psikologi Manusia hadir sebagai pengingat bahwa merawat kewarasan mental dan membangun ketahanan jiwa adalah prasyarat mutlak untuk melangkah menuju peradaban yang lebih beradab dan manusiawi.
