Pentingnya Penguasaan Bahasa Calon Pekerja Migran Indonesia
/ Bisnis
Proses tunggu calon PMI yang lama biasanya menurunkan kemampuan bahasa, sehingga sering kali gagal saat wawancara.
Umar Jahidin
Alumnus FAI dan Pondok Shabran UMS
CEO Alvin Group
Tak sekadar pencari nafkah di luar negeri, Pekerja Migran Indonesia (PMI) membawa nama baik bangsa dan negara. Mereka sesungguhnya representasi kualitas bangsa, duta bangsa, dan pejuang devisa yang signifikan.
Karenanya, penyiapan PMI berkualifikasi global kini menjadi fokus utama pemerintah, melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Diperlukan transformasi, dari sekadar pengiriman tenaga kerja menjadi pengiriman talenta dengan kompetensi tinggi yang terlindungi. Tujuan dari upaya pemerintah tersebut demi memperkuat ekonomi nasional serta meningkatkan daya saing pekerja Indonesia di pasar internasional.
Salah satu kualifikasi krusial bagi PMI, yakni penguasaan bahasa. Dengan penguasaan bahasa yang baik, keselamatan, karier, hingga perlindungan diri dari eksploitasi dapat tercapai. Karena, hambatan bahasa sering kali menyebabkan salah paham instruksi kerja bahkan isolasi sosial. Kemampuan bahasa yang kuat memungkinkan PMI untuk berkarier lebih baik, bergaji lebih tinggi, mendapatkan sertifikasi lokal, serta membantu mediasi komunitas.
Potret kerja keras penyiapan PMI berkualifikasi global, salah satunya terepresentasi dalam diri PT Alvin Duta Mandiri, perusahaan yang saya dirikan, bagian dari Alvin Group. Setelah para siswa memasuki bulan kelima belajar bahasa Jepang, ada dua hal penting penanda kemajuan yang cukup menggembirakan.
Pertama, bertambahnya kelas baru, yaitu kelas C atau kelas ketiga, menyusul kelas A dan B yang telah berjalan. Kelas A mulai belajar pada 17 November 2025, berlanjut kelas B pada akhir Desember 2025. Total siswa dari dua kelas tersebut mencapai 70 orang, dengan komposisi maksimal 35 orang per kelas.
Untuk ukuran lembaga pelatihan bahasa Jepang, jumlah itu terhitung besar. Umumnya, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) hanya mampu menampung 15 hingga 25 siswa per kelas. Hal ini bisa dimaklumi, karena minat sering kali terbentur oleh faktor biaya. Bahkan angka 25 orang per kelas sebenarnya sudah dianggap ideal.
Karena itu, capaian LPK Alvin yang resmi berdiri pada November 2024 serta mulai merekrut dan mengajar 17 siswa pertama sejak Desember 2024 menjadi kebanggaan tersendiri. Dalam waktu sekitar satu tahun, jumlah siswa sudah mencapai 70 orang. Artinya, terjadi peningkatan jumlah siswa lebih dari 400 persen dibanding periode awal.
Dengan tren tersebut, diproyeksikan hingga Desember 2026, jumlah siswa bisa mencapai 400-500 orang. Sebarannya pun mulai meluas, tidak hanya Provinsi Banten tapi juga akan segera merambah Provinsi Jawa Barat, seperti Sukabumi, Bandung, dan Ciamis, juga Provinsi Jawa Tengah, seperti Kota Solo, Sukoharjo, Sragen, dan Wonogiri, bahkan berpotensi berkembang ke Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
Untuk area Solo dan sekitaranya telah dimulai beberapa bulan lalu. Kini tinggal menunggu jadwal sosialisasi dan rekrutmen siswa.
Penguasaan Bahasa
Penanda kemajuan yang kedua, berupa datangnya kabar yang lebih menggembirakan. Memasuki bulan kelima—dari target pembelajaran umum selama enam bulan—para siswa kelas A mulai menjalani uji nyali berupa tes kaiwa (percakapan) langsung dengan tim asal Jepang, yaitu dari PT Koguti Insan Madani, tepatnya pada Jumat (3/4/2026).
Sebagaimana diketahui, LPK PT Alvin Duta Mandiri telah menjalin kerja sama tripartit, yaitu sebagai penyedia SDM sesuai kebutuhan kerja di Jepang, mitra di Indonesia yang menyiapkan job order, serta perusahaan di Jepang yakni PT Tokugi Insan Madani sebagai agen pengguna tenaga kerja, ditambah dukungan pembiayaan melalui skema dana talangan setara Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan milik negara (Himbara).
Dari hasil wawancara yang dimulai pukul 09.00 hingga sekitar pukul 15.30 WIB dengan jeda shalat Jumat, sebanyak 11 peserta mengikuti uji tersebut. Walhasil, seluruhnya dinyatakan diterima untuk bekerja di Jepang dengan jabatan sebagai cargiver dan sektor konstruksi. Selanjutnya, mereka tinggal menunggu kelulusan ujian tes kemampuan bahasa Jepang tingkat N4 yang jadwalnya satu hingga dua bulan ke depan.
Setelahnya, pada tanggal 17 April 2026, seluruh siswa kelas A yang telah belajar selama lima bulan akan mendapatkan kesempatan sama untuk mengikuti wawancara. Jika hasilnya kembali maksimal maka ini bisa menjadi prestasi penting sekaligus role model untuk langkah ke depan.
Mengapa capaian LPK Alvin begitu penting? Karena keberhasilan yang diraih para siswanya bahkan belum genap enam bulan belajar. Mereka tentu belum memiliki sertifikat N4. Sementara dalam praktik umum, banyak yang sudah lulus N4 pun belum tentu berhasil dalam sesi wawancara. Hal ini sering terjadi karena terlalu menitikberatkan pada ijazah, bukan pada kemampuan percakapan (kaiwa) yang justru paling dibutuhkan dunia kerja.
Belum lagi tantangan lain berupa sulitnya mendapatkan kesempatan wawancara dan terbatasnya mitra di Jepang. Akibatnya, tidak sedikit lulusan N4 yang harus menunggu lama hingga satu tahun. Ketika kesempatan datang, kemampuan bahasa Jepang mereka justru sudah menurun, sehingga gagal dalam wawancara.
Di sinilah keunggulan pendekatan LPK Alvin. Para siswa, meskipun belum lulus N4, sudah dipertemukan dengan calon pengguna saat kemampuan kaiwa mereka masih segar serta masih hidup dalam ingatan dan aktif dalam praktik sehari-hari.
Bukan sekadar proses belajar bahasa, LPK Alvin mampu menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan nyata di lapangan secara tepat waktu. Mudah-mudahan kelak jumlah siswa LPK Alvin semakin bertambah dengan kualitas percakapan mumpuni seperti yang dibutuhkan dunia kerja nyata di Jepang.
Karena sekali lagi, penguasaan bahasa begitu penting, bukan hanya demi kelangsungan kerja migran yang membutuhkan detail khusus, tapi juga mewakili wajah Indonesia di pentas global. Kualifikasi PMI mampu mengisahkan wajah bangsa kita nantinya, baik atau buruk.
