Museum Desa, Seberapa Penting, Kah?
/ Opini
Sebuah museum tidak harus berupa bangunan besar atau gedung mewah.
Irawan Januari Putra
Perangkat Desa Paseban, Bayat, Klaten
Indonesia merupakan negara multikultural dengan kekayaan sejarah yang panjang dan beragam. Kekayaan tersebut dipengaruhi letak geografis, kekayaan alam, keragaman etnis dan budaya lokal, serta interaksi panjang dengan peradaban-peradaban besar dunia, seperti peradaban Hindu-Buddha, Islam, Tiongkok, dan Eropa.
Selain itu, kekayaan sejarah Indonesia juga dibentuk dan dipengaruhi langsung oleh keragaman sejarah lokal. Keduanya saling terkait karena peristiwa besar nasional lahir dari himpunan berbagai peristiwa, dinamika, dan pengalaman nyata di setiap daerah.
Namun, hingga saat ini, salah satu bagian sejarah lokal, yaitu sejarah desa, masih belum menarik minat dan perhatian masyarakat, khususnya generasi muda.
Dalam kajian sejarah di Indonesia, peristiwa besar nasional atau kekuasaan pusat masih menjadi arus utama kajian. Akibatnya, asal usul, perkembangan sosial, dan dinamika lokal di perdesaan sering kali kurang mendapat perhatian.
Ditambah kuatnya pengaruh dan ketergantungan pada tradisi lisan, kurangnya dokumentasi tertulis, serta keterbatasan sumber daya manusia di desa, menjadi penyebab minimnya kajian dan upaya pelestarian sejarah desa.
Untuk mendorong minat dan perhatian masyarakat terhadap kajian dan pelestarian sejarah lokal, khususnya sejarah desa, diperlukan ruang hidup inklusif dan ramah komunitas yang sekaligus menjadi langkah awal pelestarian sejarah dan budaya lokal.
Ruang tersebut dapat diwujudkan melalui museum desa. Dengan adanya museum desa, dapat terbangun memori kolektif, rasa memiliki dan rasa bangga warga, serta interaksi dan edukasi berbasis kearifan lokal.
Upaya tersebut sejalan dengan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan upaya pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya.
Pelestarian dengan Nilai dan Narasi
Sebuah museum tidak harus berupa bangunan besar atau gedung mewah dan tidak harus didirikan di kota besar, ibu kota provinsi, atau ibu kota kabupaten. Museum dapat juga didirikan di wilayah perdesaan.
Di desa-desa, di kampung-kampung bahkan di rumah warga yang jauh dari perkotaan atau pusat pemerintahan dapat ditemukan benda-benda bersejarah dan warisan budaya lokal. Benda-benda bersejarah dan warisan budaya lokal tersebut belum seluruhnya terdokumentasi dengan baik.
Tanpa adanya upaya pelestarian, benda-benda bersejarah dan warisan budaya lokal rentan mengalami kerusakan, hilang, atau bahkan berpindah tangan tanpa jejak yang jelas.
Museum desa diharapkan tidak sekadar menjadi tempat memindahkan dan mengumpulkan benda-benda tetapi menjadi ruang untuk menjaga sejarah beserta nilai, narasi, dan kisah yang melekat pada benda-benda tersebut.
Museum desa juga diharapkan tidak hanya menyimpan dan memamerkan koleksi, sebagaimana museum tradisional, tetapi mampu menjadi museum modern yang terbuka dan berorientasi pada masyarakat. Prinsip museum modern, yaitu bagaimana benda-benda koleksi tersampaikan kepada masyarakat, dan bukan bagimana benda-benda tersebut disimpan.
Oleh karena itu, dalam pengelolaan museum desa sebagai museum modern dibutuhkan peran serta masyarakat sebagaimana diatur Pasal 52 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.
Sebagai negara yang kaya sejarah, keberadaan dan persebaran museum di Indonesia belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah.
Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah museum di Indonesia tahun 2025 sebanyak 442 museum. Dari Jumlah tersebut, DKI Jakarta dan Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah museum terbanyak yaitu 63 museum, diikuti Jawa Timur sebanyak 62 museum, Jawa Barat sebanyak 39 museum, dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 35 museum.
Sementara di luar Pulau Jawa, Provinsi Bali tercatat memiliki 34 museum, Sumatra Utara sebanyak 21 museum, Sulawesi Selatan sebanyak 12 museum, dan Aceh sebanyak 9 museum.
Jumlah tersebut masih sedikit jika dibandingkan jumlah museum di negara Asia Tenggara lain, khususnya Thailand.
Menurut estimasi United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2021, Thailand menjadi negara dengan jumlah museum terbanyak di Asia Tenggara, yaitu 1.526 museum.
Jika melihat luasnya wilayah serta besarnya potensi sejarah dan warisan budaya Nusantara jumlah dan persebaran museum di Indonesia perlu ditingkatkan.
Digitalisasi Museum
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi digital mendorong museum bertransformasi dari ruang pameran statis menjadi ruang hidup yang interaktif, dinamis, dan imersif.
Digitalisasi museum dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain mengubah objek museum menjadi data digital, mengolah data digital sebagai koleksi museum, membuat platform atau situs web, dan menyediakan quick response code (QR Code) museum.
Selain itu, teknologi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) juga dapat diterapkan di museum agar pengunjung memperoleh pengalaman interaktif.
Dengan teknologi digital, museum dapat memperluas jangkauan publikasi dan edukasi kepada masyarakat, mendekatkan diri pada generasi muda, serta menghadirkan pengalaman sejarah tanpa batasan fisik.
Digitalisasi museum juga dapat meningkatkan manfaat ekonomi, karena mampu menarik lebih banyak pengunjung, memperluas pasar produk souvenir lokal, menghemat biaya operasional melalui data digital, serta membuka peluang kerja sama atau sponsor baru tanpa batasan wilayah.
Selain menerapkan teknologi digital, pengelola museum desa dapat memperkuat daya tarik dan citra museum dengan menyelenggarakan berbagai event atau kegiatan di desa. Beberapa kegiatan seperti lokakarya kreatif, pentas seni kekinian, kompetisi fotografi desa, malam keakraban di museum, penyediaan spot foto estetis, dan museum keliling di sekolah-sekolah dapat diselenggarakan secara berkala oleh museum desa.
Di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi digital, pelestarian sejarah dan budaya lokal merupakan suatu keharusan. Dengan memadukan kearifan lokal dan teknologi digital ke dalam museum desa diharapkan dapat menarik minat dan perhatian masyarakat, khususnya generasi muda untuk mengenal kembali sejarah, tradisi, dan identitas lokal mereka.
Keberadaan museum desa dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan di tingkat lokal dapat diwujudkan tanpa harus memutus hubungan dengan masa lampau. Melalui pelestarian sejarah dan budaya lokal berbasis teknologi digital dapat terbentuk jati diri lokal, mentalitas nasional, dan daya saing global yang kuat di masa depan
