Menjadi Klaten, Sebuah Entitas Kebudayaan
/ Opini
Kebudayaan Klaten hidup selaras dengan alam, mengenang leluhur, merayakan kuliner, serta menatap masa depan dengan kepala tegak serta hati yang prasaja.
Sentot Suparna
Pendiri Pustaka Klaten
Ada sebuah proses batin yang tak pernah selesai ketika membincangkan Klaten. Wilayah subur yang terbentang di bawah lingkar Gunung Merapi dan Pegunungan Kidul ini dalam kacamata umum, sekadar dianggap kota lintasan. Jalur nadi logistik antara Kota Jogja dan Kota Solo yang dilintasi ribuan kendaraan setiap harinya.
Padahal, bila Anda sedikit memperlambat langkah, menepi dari deru kendaraan, dan menunduk membaca lapis-lapis arsip serta memori kolektifnya, Klaten adalah sebuah teater peradaban yang agung.
Klaten ibarat kuali besar tempat bertemunya jejak-jejak masa lampau, aroma gula kolonial, lezat kuliner kerakyatan, keteguhan spiritual, hingga sisa-sisa letusan purba yang membentuk karakter masyarakatnya.
Menuliskan Klaten, atau dalam frasa yang lebih utuh, yakni ‘menjadi Klaten’ bukan perihal tapal batas wilayah atau hitungan windu hari jadi di atas kalender birokrasi. Klaten sebentuk laku batin kultural.
Laku batin ini terus-menerus ditempuh untuk mengenali, merawat, dan menghidupkan kembali memori kolektif yang tercecer di antara reruntuhan candi, lorong-lorong pabrik gula tua, bantaran sungai, hingga ingatan tentang para maestro seni yang pernah mengharumkan Nusantara.
Ingatan Kolektif
Ketika mengurai historiografi Klaten, ingatan kolektif khalayak mau tak mau ditarik jauh ke belakang, melampaui batas-batas administrasi kolonial.
Nama ‘Kalathen’ yang berakar dari kata kalathi sebagai ruang perbincangan atau wacana menyimpan memori tentang sebuah wilayah subur yang sejak dulu menjadi pusat dinamika agraris dan sosial. Tanah ini loh jinawi, gemah ripah, serta tempat peradaban-peradaban kecil tumbuh subur di bawah naungan kesadaran komunal yang kuat.
Jejak itu terekam nyata dalam diamnya batu-batu tua. Kehadiran arca-arca, seperti Arca Gupala (Retja Otonom), bukan hanya artefak bisu peninggalan masa klasik Hindu-Buddha, tetapi penegas jati diri bahwa wilayah Klaten pernah menjadi pusat kosmologi dan penataan ruang yang matang. Masyarakat masa lalu tidak sedang membangun batu, tetapi sedang menata semesta spiritual.
Namun, sejarah Klaten juga mencatat luka dan benturan zaman. Kehadiran Fort Engelenburg di masa kolonial menjadi tapal zaman yang mengingatkan kita bahwa bumi ini adalah arena peregangan kuasa.
Benteng dan loji-loji kolonial hadir mengubah lanskap pedesaan agraris menjadi simpul ekonomi global pada masanya, terutama ketika industri gula mulai menancapkan kukunya lewat titi kala mangsa pabrik-pabrik gula yang megah berdiri di sepanjang jalur kereta api.
Pada titik inilah pentingnya historiografi kritis. Kita tidak sedang bernostalgia secara naif pada masa lalu, tetapi membaca bagaimana struktur ruang, kuasa, dan ekonomi masa lampau membentuk wajah Klaten hari ini.
Pabrik-pabrik gula yang kini banyak tertidur lelap, seperti halnya denyut Lori Gondang yang kini bertransformasi menjadi sumber daya literasi, menyimpan narasi besar tentang keringat buruh, dinamika kaum tani, dan modernisasi awal yang mengubah struktur sosial masyarakat agraris kita.
Membicarakan Klaten berarti juga membicarakan kelangenan, sebuah rasa estetik, kerinduan, dan kelekatan batin terhadap hal-hal yang halus, membumi, serta menghidupkan jiwa. Kelangenan terpelihara di ruang-ruang publik yang intim dan sering kali tergerus oleh modernitas yang kering makna.
Mari menengok Jalan Bhali. Siapa yang hari ini masih mengingat bahwa jalan tersebut di masa lalu adalah sebuah pasar sore yang ramai, tempat para meneer dan noni Belanda menghabiskan sore, sebelum bertransformasi menjadi ruang memori kuliner lintas generasi?
Menikmati semangkuk kupat tahu legendaris di sana bukan soal mengisi perut semata, namun sebuah ritual merayakan keintiman sosial. Di sanalah piring-piring sederhana menyatukan berbagai kelas sosial dalam satu meja kepuasan rasa. Kuliner klasik Jalan Bhali adalah arsip rasa yang tidak tercatat dalam buku sejarah resmi, tetapi hidup dan terawat dalam lidah serta air liur kolektif warga.
Kecintaan pada kelangenan juga terpancar dari bagaimana Klaten melahirkan para empu seni yang mengubah lanskap kebudayaan nasional.
Mengenang Ki Narto Sabdo, sang maestro dalang pembaru asal Klaten, berarti mengenang bagaimana sebuah tradisi pedalangan disentuh oleh modernitas artistik yang revolusioner. Ki Narto tidak hanya memainkan wayang. Ia meracik ulang jiwa kesenian rakyat sebagai tontonan yang menggugah kesadaran kebangsaan. Dari rahim Klaten pula, lakon-lakon kehidupan dipentaskan dengan semangat prasaja, yakni sederhana namun sarat makna.
Belum lagi jika kita menyelisik toponimi di setiap sudut wilayahnya, seperti Bendogantungan. Setiap nama tempat bukanlah label pos atau petunjuk arah, tetapi rajutan toponimi yang merekam peristiwa, legenda, atau flora-fauna yang pernah hidup berdampingan dengan leluhur. Ketika nama-nama itu mulai dilupakan oleh generasi muda, sebenarnya khalayak sedang kehilangan peta batin kebudayaannya sendiri.
Selanjutnya, Klaten Kota Cagar Budaya bukanlah slogan di atas kertas plakat pariwisata, melainkan kesadaran kolektif bahwa setiap jengkal tanah ini bertuliskan kisah.
Bayang-Bayang Merapi
Akan tetapi, peradaban tidak pernah berjalan di atas jalan yang rata. Klaten berada di dalam lingkaran ekologis yang sangat rapuh sekaligus penuh berkah, yaitu bayang-bayang megah Gunung Merapi.
Setiap refleksi erupsi Merapi mengajarkan sebuah pelajaran esensial tentang ketahanan ekologis dan spiritual. Letusan, wedhus gembel, dan hujan abu merupakan siklus kosmik pembersihan bumi, bukanl bencana alam yang datang lalu berlalu dalam statistik kebencanaan. Siklus kosmik itu tak lain pranata alam yang memaksa manusia untuk mendaku prasaja-legawa dengan berjiwa pasrah, jujur, dan legawa menerima kehendak alam.
Masyarakat di lereng Merapi membuktikan bahwa ketahanan bukanlah melawan alam, tetapi hidup berdampingan secara harmonis dengannya. Ketulusan warga merawat tradisi kenduri dan mitigasi kultural pascabencana adalah bentuk kearifan lokal yang jauh lebih tangguh daripada tembok-tembok beton penahan lahar.
Selain api Merapi, kekayaan terbesar Klaten terletak pada airnya. Sumber-sumber air (umbul) yang melimpah ruah menjadikan tanah ini layak dijuluki sebagai kawasan water wonderland spiritual. Umbul bukan tempat mandi atau destinasi wisata tirta hari libur semata. Dalam tradisi agraris-kultural, air merupakan sumber kehidupan (tirta amerta) yang harus disucikan dan dijaga kelestariannya.
Gerakan Air Lestari Suraksa Bhawana, misalnya, sebentuk panggilan moral agar kita tidak memperlakukan air sekadar komoditas ekonomi yang bisa disedot habis oleh industri botol plastik tanpa memikirkan siklus hidrologi jangka panjang.
Dalam sudut pandang lain, Klaten sangat mungkin menjadi kota sungai masa depan jika tata kelola ruangnya berpihak pada ekologi. Ketika sungai-sungai kembali bersih, menjadi ruang hidup ikan, dan disapa dengan senyum oleh warga di bantaran nya, saat itulah peradaban air menemukan bentuk tertingginya.
Lantas, apa artinya ‘Menjadi Klaten’ di tengah pusaran zaman yang serba-instan dan digital ini?
Menjadi Klaten tidak hanya soal Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau kebanggaan administratif. Menjadi Klaten adalah sebuah sikap mental. Sebuah kesadaran untuk merawat akar sejarah tanpa harus menjadi asing terhadap kemajuan zaman. Laku hidup yang memadukan ketajaman nalar intelektual dengan kelembutan rasa estetika, sebagaimana para leluhur merawat tanah-tanah subur di kaki Merapi.
Pelbagai catatan tentang Klaten bukan untuk menutup lembaran sejarah seolah semuanya telah selesai ditulis. Teruntuk entitas Klaten, baik yang lahir di tanah Klaten maupun yang singgah merajut hidup di dalamnya, mari turut serta menulis Klaten pada bab-bab selanjutnya.
Sebab, Klaten tak lain sebuah gagasan tentang bagaimana manusia hidup selaras dengan alamnya, mengenang leluhurnya, merayakan kulinernya, dan menatap masa depan dengan kepala tegak serta hati yang prasaja.
