Mengembalikan Ekonomi ke Bumi
/ Opini
Formalisme matematika dalam ekonomi layak digugat, karena publik membutuhkan ilmu yang bermanfaat langsung.
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Pernahkah Anda duduk di ruang kuliah ekonomi, menatap papan tulis yang penuh dengan coretan grafik, lalu merasa bahwa dunia yang digambarkan di sana sama sekali tidak mirip dengan dunia tempat Anda tinggal?
Bagi hampir setiap orang yang pernah bersentuhan dengan ilmu ekonomi akademis, pengalaman ini adalah sebuah ritus peralihan yang membingungkan sekaligus menjengkelkan. Kita diajarkan untuk memahami perilaku konsumsi manusia melalui lensa yang amat sempit, seperti Model Dua Komoditas yang dipopulerkan oleh Sir John R. Hicks dalam adikaryanya, Value and Capital, pada tahun 1939.
Dalam ruang steril teori neoklasik tersebut, seluruh kompleksitas alam semesta diperas habis-habisan hingga tersisa dua variabel saja, yakni Barang X, misalnya beras atau pakaian, dan Barang Y, yang sering kali diagregasikan sebagai ‘komoditas komposit’ atau representasi dari seluruh barang lain di dunia.
Teorema Agregasi Hicks menjamin secara matematis bahwa penyederhanaan itu sah-sah saja, asalkan harga relatif dari seluruh barang lain bergerak secara paralel dan seragam. Di atas kertas, rumus ini terlihat indah, simetris, dan mudah diselesaikan dengan kalkulus diferensial tingkat pertama.
Namun, begitu kita melangkah keluar dari pintu ruang kelas dan berjalan menuju pasar tradisional atau membuka aplikasi belanja di ponsel, keindahan matematis tersebut langsung berantakan.
Dunia nyata tidak pernah sesederhana dan sejinak itu. Keputusan seorang manusia untuk membeli sepotong roti tidak pernah terjadi begitu saja. Kita hidup dalam era ekosistem digital yang saling mengunci.
Saat seseorang membeli sebuah ponsel pintar, keputusannya tidak hanya ditentukan oleh harga ponsel dan sisa uang di dompetnya, tetapi juga dipengaruhi oleh biaya kuota internet, harga langganan aplikasi streaming, ketersediaan aksesori, pengaruh tren di media sosial, hingga manipulasi psikologis berupa diskon kilat yang berkedip di layarnya.
Menggabungkan jutaan variabel yang acak, emosional, dan saling bergantung ke dalam satu kotak bernama ‘Barang Y’ bukan lagi sebuah penyederhanaan yang cerdas, tetapi pemaksaan yang kasar terhadap realitas.
Benteng Matematika
Jika model-model abstrak itu terbukti cacat sejak dalam asumsi dasarnya, mengapa ilmu ekonomi justru makin terobsesi untuk mempercanggih kerumitan tersebut hingga sekarang? Alih-alih mengevaluasi diri dan bergerak mendekati perilaku manusia yang nyata, arus utama ekonomi akademis justru menutup kuping dan memperlebar benteng matematikanya.
Fenomena inilah yang oleh Paul Romer, seorang ekonom peraih Nobel, disebut sebagai ‘Mathiness’, yakni sebuah kondisi di mana bahasa matematika tidak lagi digunakan untuk menjernihkan kebenaran empiris, tetapi demi mengaburkan agenda teoretis dan membentengi ego akademik dari kritik orang awam.
Pada zaman Hicks, kerumitan teori ekonomi masih dibatasi oleh ketajaman ujung pensil dan luasnya permukaan kertas pengetikan. Namun, di era komputasi modern kini, kecanggihan telah bermutasi menjadi monster yang menakutkan. Dengan menggunakan superkomputer, maha-data (big data), algoritma mutakhir, dan model ekonometrika berlapis-lapis, para ekonom merasa mampu menyimulasikan masa depan.
Ironisnya, semakin canggih metodologi yang mereka gunakan, semakin menjauh pula mereka dari denyut nadi kehidupan masyarakat bawah. Matematika tingkat tinggi telah berubah fungsi menjadi sebuah bahasa sandi eksklusif yang hanya dipahami oleh para ‘pendeta’ di menara gading akademik.
Kerumitan yang sengaja dipercanggih itu menciptakan ilusi bahwa ekonomi adalah ilmu pasti yang setara dengan fisika atau kimia. Asumsi terselubungnya, jika sebuah teori bisa dituliskan dalam persamaan diferensial yang rumit maka teori tersebut pasti benar.
Dampak dari inersia akademik tersebut sangatlah merusak. Jurnal-jurnal ilmiah internasional yang bereputasi tinggi enggan menerima tulisan yang bersifat kualitatif, naratif, atau berbasis pengamatan lapangan yang humanis. Mereka menuntut pemodelan kuantitatif yang rumit.
Akibatnya, para calon ekonom muda dididik bukan untuk memahami manusia dan dinamika sosial di sekitarnya, tetapi dididik untuk menjadi teknokrat angka yang mahir mengutak-atik matriks di layar komputer demi mendapatkan gelar profesor dan kelulusan akademik.
Krisis Kemanfaatan
Ketika berubah menjadi sekadar permainan logika yang elitis, ilmu pengetahuan mengalami krisis eksistensial yang akut berupa hilangnya relevansi dan kemanfaatan praktis. Model ekonomi yang steril tak jarang gagal total ketika dihadapkan pada kekacauan dunia nyata.
Ingatkah kita bagaimana model-model keuangan yang sangat canggih dan rumit gagal memprediksi krisis finansial global pada tahun 2008? Atau bagaimana kebijakan makroekonomi yang dirancang dengan simulasi komputer sangat rapi di atas kertas justru memicu inflasi dan kesengsaraan ketika diterapkan pada masyarakat lokal yang memiliki struktur budaya berbeda?
Kegagalan itu berakar dari asumsi purba yang terus dipertahankan demi menjaga validitas rumus matematika, yaitu asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional sempurna yang selalu memiliki informasi lengkap dan selalu mengambil keputusan demi memaksimalkan utilitas pribadinya (homo economicus).
Ekonom perilaku seperti Daniel Kahneman dan Amos Tversky bertahun-tahun lalu telah membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk yang sering kali tidak rasional, rentan terhadap bias kognitif, mudah panik, dan sangat dipengaruhi oleh emosi serta lingkungan sosial.
Mengabaikan aspek psikologis yang kaya demi menjaga estetika kurva matematika adalah sebuah kebutaan realitas yang nyata. Ilmu ekonomi telah menukar kegunaan praktisnya di dunia nyata dengan kepuasan intelektual semu di dalam laboratorium yang steril.
Kita tidak membutuhkan ilmu ekonomi yang hanya bisa meramal apa yang telah terjadi di masa lalu menggunakan rumus yang rumit. Kita membutuhkan ilmu ekonomi membumi yang bisa menjelaskan, mengapa seorang pedagang kaki lima memilih untuk meminjam uang ke rentenir daripada ke bank formal, atau bagaimana sebuah kebijakan pajak akan memengaruhi daya beli seorang ibu rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya.
Ketika sofistikasi ilmu justru memperlebar jarak antara si pemikir kebijakan dan si objek kebijakan maka sofistikasi tersebut telah berubah menjadi beban, bukan lagi sebuah pencapaian peradaban.
Berkah Ilmu dalam Lensa Hikmah Islam
Dalam titik kebuntuan epistemologis inilah, perspektif spiritual dan nilai moral universal menawarkan sebuah jalan keluar yang menyegarkan. Jika kita menengok pada khazanah hikmah Islam, konsep tentang ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat sakral, namun keterikatannya pada asas kemanfaatan bersifat mutlak.
Ilmu dalam Islam bukan sekadar aksesoris dekoratif untuk meningkatkan status sosial atau alat legitimasi kekuasaan akademik. Ilmu sebentuk sarana untuk membawa kemaslahatan, menegakkan keadilan, dan menghilangkan penderitaan di muka bumi.
Nabi Muhammad SAW secara konsisten mengajarkan sebuah doa yang sangat relevan dengan situasi krisis ekonomi modern, sebagaimana diriwayatkan Muslim.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar.”
Doa ini sebuah peringatan keras bagi para intelektual. Sebuah ilmu, betapa pun canggihnya susunan rumusnya, betapa pun tebalnya buku teksnya, dan betapa pun tingginya penghargaan Nobel yang diraih, jika tidak membawa manfaat nyata bagi perbaikan nasib umat manusia maka dikategorikan sebagai ilmu yang kehilangan berkahnya.
Ekonomi Islam, dalam bentuknya yang paling murni, hadir sebagai antitesis dari formalisme matematika neoklasik yang kering. Alih-alih sibuk menghitung titik keseimbangan kepuasan yang abstrak pada kurva indiferen, ekonomi Islam meletakkan fondasinya pada pertanyaan-pertanyaan etis yang sangat konkret dan membumi.
Apakah roda ekonomi berputar dengan adil, sehingga tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya? Apakah sistem keuangan yang dijalankan bebas dari unsur ketidakpastian dan kerumitan yang menipu (gharar) serta riba yang eksploitatif?
Tolok ukur utama keberhasilan sistem ekonomi dalam kacamata syariat bukanlah angka pertumbuhan PDB makro yang fantastis di atas kertas, namun terpenuhinya kebutuhan dasar (maslahah) setiap individu masyarakat, tegaknya keadilan distributif, serta hilangnya kelaparan dan ketimpangan sosial.
Ekonomi yang Membumi
Sudah saatnya kita melakukan dekonstruksi terhadap cara kita belajar dan memandang ilmu ekonomi. Kita harus berani menolak pemaksaan realitas ke dalam rumus-rumus kaku dua komoditas yang menjauhkan kita dari kebenaran.
Peta dua dimensi yang datar memang berguna untuk memberikan arah kasar, tetapi akan mencelakakan jika kita memaksanya untuk menggambarkan setiap lekuk, jurang, dan bahaya nyata dari sebuah gunung yang terjal.
Begitu pula dengan model ekonomi yang seyogianya diletakkan kembali sebagai alat bantu sekunder, bukan sebagai dogma suci yang tidak boleh digugat.
Masa depan ilmu ekonomi tidak terletak pada semakin rumitnya algoritma simulasi di komputer menara gading, tetapi pada keberaniannya untuk turun ke jalan, mendengarkan jeritan para pedagang pasar tradisional, memahami kecemasan generasi muda yang terjerat pinjaman daring, dan merumuskan solusi-solusi praktis yang berkeadilan.
Kita harus mengembalikan ekonomi kepada khittah asalnya sebagai bagian dari filsafat moral dan ilmu sosial yang humanis, seperti yang dahulu diinisiasi oleh Adam Smith sebelum dicemari oleh obsesi mekanistik.
Karena pada akhirnya, indikator keberhasilan ekonomi yang nyata dan diridai bukanlah kerumitan grafik yang memukau di jurnal akademik, melainkan seberapa banyak perut orang miskin yang bisa terisi dan seberapa adil berkah harta berputar di antara kita semua.
Wallahu a’lam bish-showab
