Mengapa Amerika Serikat Tetap Eksis Meski Utang Lebih Besar dari Pendapatan?
/ Opini
Rasio utang AS terhadap PDB mereka di atas kisaran 101%.
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Bayangkan Anda punya kartu kredit. Karena gaya hidup yang kelewat mewah dan hobi belanja yang tidak bisa direm, tagihan kartu kredit Anda pun membengkak. Alih-alih berhemat atau mencari kerja sampingan, Anda memutuskan untuk membuat kartu kredit baru dari bank lain hanya untuk membayar tagihan minimum kartu kredit yang pertama. Skema ini jamak kita kenal dengan istilah ‘gali lubang tutup lubang’.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mempraktikkan cara tersebut biasanya akan berakhir di dataran suram kebangkrutan, dikejar-kejar debt collector, atau mendekam di penjara. Namun, aturan main finansial itu mendadak berubah total, bila nama yang tertera di kartu kredit adalah Amerika Serikat (AS).
Per Agustus 2026, dunia resmi menyaksikan sebuah rekor sejarah baru yang membuat dahi mengkerut. BBC merujuk pada US Department of the Treasury 2026 memberitakan utang nasional Amerika Serikat secara resmi telah menembus angka fantastis US$ 40 triliun.
Jika uang sebanyak itu ditumpuk dalam pecahan US$ 100, tingginya bisa melampaui jarak dari bumi ke bulan, bolak-balik beberapa kali.
Berdasarkan laporan terbaru dari Congressional Budget Office (CBO), rasio utang AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mereka kini sudah nyaman bertengger di atas kisaran 101%. Artinya, nilai utang pemerintah AS sudah jauh lebih besar daripada seluruh output ekonomi yang dihasilkan oleh negara tersebut dalam satu tahun penuh.
Hal yang membuat geleng-geleng kepala, situasi ini terlihat seperti labirin gelap tanpa jalan keluar. Secara teori ekonomi makro, hanya ada dua cara konvensional untuk mengurangi utang sebuah negara, yakni menaikkan pajak (tax hike) agar pendapatan negara bertambah, atau memangkas belanja pemerintah (spending cut) agar pengeluaran berkurang. Namun, di panggung politik praktis Washington D.C., kedua opsi itu mustahil.
Jika pemerintah AS nekat menaikkan pajak secara radikal, korporasi-korporasi multinasional raksasa akan langsung angkat kaki, memindahkan investasi mereka ke negara lain, dan memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
Sebaliknya, kalau pemerintah memangkas belanja publik, program-program krusial seperti Jaminan Sosial (social security) dan asuransi kesehatan (medicare) untuk jutaan warga lansia dan kelas pekerja akan hancur lebur (Krugman, 2020). Politisi mana pun yang berani mengusulkan ide ini di masa Pemilu dijamin bakal kehilangan kursinya dalam sekejap.
Akhirnya, para pengambil kebijakan di AS memilih jalur paling ‘aman’ secara politik namun paling merusak secara jangka panjang, yakni menerbitkan utang baru melalui surat utang negara (US Treasuries) hanya untuk membayar bunga dari utang-utang yang lama.
Pertanyaan mendasarnya bukan lagi ‘kapan utang ini lunas’, karena jawabannya, tidak akan pernah. Pertanyaan riilnya, jika kapitalisme finansial modern terus bertumpu pada utang yang menumpuk tanpa batas, lantas ke mana sebenarnya sistem tersebut akan membawa masa depan umat manusia? Selamat Datang di era utang US$ 40 Triliun
Mari melihat komparasi data konkret bagaimana utang AS bertransformasi, dari masalah finansial biasa menjadi monster yang mengancam stabilitas moneter global.
Jika tidak ada perubahan kebijakan moneter dan fiskal yang radikal, CBO memproyeksikan laju pertumbuhan utang publik AS yang dipegang oleh masyarakat akan bergerak naik secara eksponensial dalam satu dekade ke depan.
Ada sebuah fenomena berbahaya yang dinamakan Crowding Out Effect. Ketika pemerintah terlalu dominan menarik utang dari pasar modal, likuiditas global tersedot masuk ke dalam lingkaran utang pemerintah AS (Mishkin 2019).
Akibatnya, sektor swasta yang benar-benar produktif justru kekurangan akses permodalan, atau harus membayar suku bunga yang jauh lebih mahal untuk mendapatkan pendanaan.
Muara Akhir
Banyak orang mengira, krisis utang akan berakhir seperti film kiamat Hollywood, seperti bursa saham jatuh, lampu-lampu kota padam, dan peradaban hancur dalam semalam. Realitasnya tidak akan se-dramatis itu. Kapitalisme memiliki daya adaptasi, atau lebih tepatnya, daya manipulasi, yang sangat tinggi. Alih-alih hancur total, sistem ekonomi global akan bermetamorfosis menuju tiga kondisi ekstrem berikut.
Pertama, era the Great Debasement (selamat tinggal tabungan). AS tidak bisa bangkrut dengan cara yang sama seperti Sri Lanka atau Argentina. Mengapa? Karena AS berutang dalam mata uang yang mereka kuasai dan cetak sendiri, yaitu US Dollar (Eichengreen 2011).
Jika tagihan bunga utang sudah terlampau tinggi, trik paling licik yang bisa dilakukan bank sentral mereka (The Fed) adalah melakukan ekspansi moneter alias mencetak uang secara masif.
Proses ini memicu apa yang disebut para ekonom sebagai Great Debasement atau penurunan nilai mata uang secara sistematis (Dalio 2021). Pemerintah sengaja membiarkan tingkat inflasi riil berada di atas tingkat suku bunga tabungan melalui kebijakan Financial Repression (Reinhart & Sbrancia 2015).
Rumus sederhananya, jika utang pemerintah bernilai $10 triliun dan inflasi melonjak 10% maka nilai riil dari daya beli utang tersebut secara teori menyusut sekitar 10%. Pemerintah berhasil ‘mencukur’ utangnya lewat inflasi.
Namun bagi kita, rakyat biasa, itu kabar buruk. Pada era ini, prinsip kuno ‘rajin menabung pangkal kaya’ akan mati. Nilai uang tunai yang Anda simpan di bank akan terus tergerus dari tahun ke tahun. Sistem tersebut memaksa seluruh manusia di bumi untuk berhenti menjadi penabung dan berubah menjadi spekulan.
Anda dipaksa memutar uang ke dalam aset keras, seperti tanah, rumah, emas, atau saham korporasi raksasa demi mengamankan kekayaan dari gerogotan inflasi buatan pemerintah.
Kedua, neo-feodalisme tekno-kapitalis. Ketika sebuah negara menghabiskan sebagian besar pendapatan pajaknya hanya untuk membayar bunga utang kepada para pemilik modal, yaitu kaum elite 1% dan lembaga manajemen aset raksasa seperti BlackRock atau Vanguard, fungsi asli negara dalam mengayomi rakyat akan lumpuh. Negara tidak punya anggaran lagi untuk membangun fasilitas umum yang layak.
Di sinilah pergeseran sistemik menuju neo-feodalisme terjadi. Sektor-sektor vital yang dulunya diurus negara, mulai dari infrastruktur transportasi, pengelolaan air, energi, jaminan kesehatan, hingga platform komunikasi, akan sepenuhnya diambil alih oleh korporasi teknologi dan finansial raksasa (Varoufakis 2023).
Manusia modern diprediksi akan masuk ke dalam perangkap Subscription Economy atau ekonomi berbasis langganan.
Anda tidak akan pernah bisa membeli atau memiliki rumah karena harganya sudah ‘digoreng’ terlampau tinggi oleh investor institusi.
Anda akhirnya terpaksa menyewa rumah seumur hidup, menyewa mobil listrik lewat aplikasi, membayar biaya langganan bulanan untuk akses kesehatan, hingga membeli kebutuhan pangan harian dari jaringan ritel milik oligarki yang sama.
Negara kehilangan taringnya dan CEO korporasi multinasional menjelma menjadi ‘raja-raja feodal’ baru yang mendikte hidup Anda.
Tatanan Baru
Muara ketiga, the Great Reset dan runtuhnya hegemoni US Dollar. Kenapa AS bisa santai berutang selama puluhan tahun? Karena, US Dollar adalah mata uang cadangan global (global reserve currency).
Suka atau tidak suka, jika Indonesia hendak membeli minyak dari Arab Saudi, atau baju dari China, transaksinya harus menggunakan US Dollar (Eichengreen 2011). Hal ini menciptakan permintaan global yang masif terhadap Dollar, sehingga AS bisa terus mengekspor inflasi domestik mereka ke luar negeri.
Namun, sejarah mengajarkan bahwa tidak ada imperium yang abadi (Ferguson 2008). Ketika utang AS sudah menyentuh level yang tidak masuk akal, tingkat kepercayaan dunia terhadap Dollar perlahan tapi pasti akan terkikis.
Aliansi negara berkembang seperti BRICS kini gencar mengampanyekan Dedolarisasi dan berdagang menggunakan mata uang lokal masing-masing melalui mekanisme Local Currency Settlement (Bank Indonesia 2024).
Jika skenario ini mencapai titik jenuh, jutaan atau bahkan miliaran US Dollar yang selama ini mengendap di luar negeri akan berbondong-bondong ‘pulang kampung’ ke tanah Amerika karena tidak lagi dipakai dalam perdagangan internasional.
Banjir Dollar di pasar domestik AS berpotensi memicu hiperinflasi gila-gilaan di sana. Akhir dari fase tersebut adalah krisis moneter global berskala kosmis yang memaksa lahirnya tatanan baru (the Great Reset), di mana dunia akan beralih ke sistem multi-mata uang atau aset digital universal yang disokong oleh komoditas riil seperti emas (Schwab & Malleret 2020).
