Manifesto Pembebasan Ilmu Ekonomi
/ Opini
Saatnya menggugat taklid buta akademis dan ilusi mekanika Newton di kampus negara berkembang.
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Dunia akademik kontemporer di negara berkembang sedang mengidap neurosis yang akut. Fakultas ekonomi yang seyogianya menjadi laboratorium berpikir kritis untuk memecahkan persoalan kemanusiaan, kini telah berubah fungsi menjadi pabrik indoktrinasi massal.
Para akademisi dan pengajar muda menelan bulat-bulat teori mainstream Barat, mulai dari asumsi dasarnya hingga ke bungkus-bungkus metodologinya, tanpa ada catatan kritis (reserve).
Tragedi terbesar terjadi ketika ruang kelas ekonomi diperlakukan layaknya laboratorium fisika abad ke-19, di mana perilaku manusia yang kompleks dan sarat moralitas dipaksa tunduk pada persamaan diferensial dan hukum mekanika Newton.
Ketika Manusia Direduksi Menjadi Angka
Gejala keirian terhadap ilmu fisika (physics envy) telah mereduksi ilmu ekonomi menjadi sekadar sains kuantitatif yang steril.
Ketika seorang dosen dengan penuh percaya diri memenuhi papan tulis dengan rumus-rumus rumit dan merayakan kegembiraan luar biasa saat persamaan matematisnya mendapat solusi eksak, terjadi sebuah sesat pikir yang fatal (the fallacy of misplaced concreteness).
Mereka berhalusinasi seolah-olah angka klop di atas kertas tersebut secara otomatis telah membebaskan kemiskinan se-kecamatan di dunia nyata.
Manusia bukanlah apel dalam hukum gravitasi Newton yang bergerak secara mekanis tanpa kehendak. Masyarakat di negara berkembang hidup dalam jalinan realitas yang tidak eksak, dalam rupa cengkeraman tengkulak, hancurnya infrastruktur desa, stunting, hingga birokrasi bansos yang korup.
Membuang seluruh variabel sosial, budaya, dan politik ini demi keindahan kurva ekuilibrium dengan dalih ceteris paribus bukanlah tindakan ilmiah, tetapi pelarian dari kenyataan lapangan.
Lebih parah lagi, taklid buta ini dilanggengkan secara sistemis melalui birokratisasi kebenaran di dalam institusi pendidikan.
Kurikulum sengaja diamputasi dengan meminggirkan mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi dan Filsafat Ilmu. Mahasiswa baru langsung dicekoki doktrin homo economicus tentang makhluk serakah yang rasional, seolah-olah itu adalah hukum alam mutlak.
Struktur akademik modern yang mendewakan akreditasi dan metrik jurnal internasional seperti Scopus memaksa para dosen lokal untuk meneliti topik-topik abstrak yang disukai editor Barat agar karier mereka aman.
Akibatnya, lahirlah mata rantai dogmatisme yang berbahaya. Dosen yang mabuk kepastian melahirkan mahasiswa penurut bernilai A, yang kelak menjadi dosen baru dan mengulangi kebohongan intelektual yang sama kepada generasi berikutnya.
Tanpa ruang bagi perdebatan epistemologis, kampus berubah menjadi pabrik pencetak teknokrat dingin yang defisit empati sosial.
Membangun Nalar Kritis
Untuk mendobrak kesesatan awal tersebut, kita wajib menghidupkan kembali warisan pemikiran para tokoh pionir pemilik visi dekolonisasi yang jelas sekaligus keberanian intelektual.
Gunnar Myrdal telah memperingatkan bahaya mathiness, yakni pemujaan matematika berlebihan yang menyembunyikan ideologi kapitalisme di balik jubah sains dan seolah-olah netral.
Pemikir Ekonomi Islam modern seperti M. Umer Chapra, M. Nejatullah Siddiqi, dan Khurshid Ahmad telah memberikan cetak biru bahwa ekonomi harus tunduk pada filter moral dan keadilan distributif.
Sementara di Tanah Air, Hidayat Nataatmadja secara radikal meruntuhkan epistemologi sains materialisme Barat lewat gagasan Ekonomi Iqra.
Para pionir tersebut membuktikan bahwa menguasai teori mainstream Barat bukan berarti harus menjadi budaknya. Mereka menguasai instrumen Barat luar-dalam untuk menundukkannya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu arah hidup manusia.
Oleh karena itu, manifesto ini disuarakan sebagai bentuk pembangkangan intelektual yang sehat demi menyelamatkan nalar generasi muda.
Pertama, kembalikan fungsi matematika sebagai alat. Matematika ekonomi adalah teleskop untuk melihat pola, bukan benda yang sedang kita amati. Hentikan membuang catatan pembatas (caveats) sosial demi mengejar estetika rumus semata.
Kedua, lakukan dekolonisasi silabus secara radikal. Bongkarlah asumsi cacat homo economicus sejak semester pertama. Hadirkan kembali mazhab ekonomi alternatif, seperti Heterodox dan Institusional, serta Ekonomi Teonomik/Islam ke dalam ruang kelas.
Ketiga, tantang dosen dogmatis dengan realitas. Setiap model abstrak wajib diuji di hadapan kemiskinan struktural riil di lapangan. Jika teori tidak mampu menjelaskan mengapa rakyat di sekitar kampus tetap miskin maka teorinya yang kelak keliru; bukan realitasnya.
Keempat, didik mahasiswa menjadi pemikir, bukan sekrup industri. Orientasi pendidikan ekonomi wajib dikembalikan pada penegakan keadilan distributif dan kesejahteraan sejati (falah); bukan sekadar mencetak buruh korporat pelaksana agenda status quo global.
Wafatnya para pionir ekonomi alternatif meninggalkan generasi muda dalam kondisi yatim piatu intelektual. Tanpa bimbingan yang berani menantang arus, mereka akan terseret arus kapitalisme global tanpa daya kritis.
Pendobrakan ini harus dimulai sekarang, dari setiap coretan di papan tulis, setiap interupsi mahasiswa di ruang kelas, dan setiap artikel yang menolak tunduk pada dogma materialisme global.
