Makna Mitigasi Bencana Bagi Kami
/ Opini
Bencana yang terasa begitu mengerikan di lereng Merapi bukanlah murni karena murka alam, namun akibat perbuatan kita sendiri.
Sukiman
Pegiat kebencanaan, penggerak Sekolah Gunung, dan Ketua Pokdarwis Deles Indah, Sidorejo, Kemalang, Klaten
Kalau kita mendengar istilah ‘mitigasi bencana’, pikiran kita tidak pernah jauh-jauh dari rapat-rapat resmi di kantor pemerintahan, istilah-istilah rumit dari para ahli, atau alat-alat canggih yang asing buat warga desa. Bagi kami yang hidup berdampingan langsung dengan Gunung Merapi, khususnya di kawasan Deles, Klaten, mitigasi bukan hanya teori di atas kertas.
Mitigasi bukanlah hal lain, tetapi cara kami bernapas, membaca tanda-tanda alam, dan merawat rumah tempat kami bertarung hidup setiap hari. Kita tidak boleh memandang sebelah mata bagaimana warga desa bergelut dengan kenyataan hidup di bawah bayang-bayang puncak berapi. Kehidupan di sini tidak berjalan berdasarkan aturan kantor, namun di atas tanah yang sewaktu-waktu bisa bergemuruh memuntahkan isi bumi.
Selama ini, kita tidak boleh terus-menerus memperlakukan gunung berapi seolah-olah musuh besar yang harus ditakuti, atau tempat rekreasi yang didatangi saat dibutuhkan lalu ditinggalkan saat bahaya datang. Merapi bukanlah wujud kemarahan yang datang tiba-tiba tanpa sebab, namun denyut jantung bumi yang tidak pernah berhenti menyeimbangkan dirinya sendiri.
Ketika kita gagal membaca bahasa alam ini, tidak ada satu pun manusia yang akan selamat dari rasa panik jika tatanan kehidupan di lereng gunung kadung rusak. Kita juga tidak dapat berulang kali menyalahkan gunung ketika menunjukkan aktivitasnya, karena hal tersebut bukanlah sesuatu yang asing. Alam raya tidak pernah berniat memusnahkan isinya, tetapi manusialah yang sering kali menempatkan diri di tempat berbahaya, karena tidak paham dan bersikap semena-mena.
Memegangi Kearifan Lokal
Di desa kami, para orang tua dulu tidak pernah mengenyam bangku kuliah tinggi tentang gunung berapi. Namun, mereka tidak pernah kehilangan kedekatan batin yang sangat kuat dengan alam sekitar.
Pengetahuan turun-temurun ini tidak bisa dianggap remeh oleh orang-orang modern yang tidak percaya pada kearifan lokal. Kita tidak akan pernah bisa mengerti watak Merapi secara utuh jika kita tidak mau turun langsung dan hanya duduk manis memandangi layar komputer di pos pemantauan, tanpa mau mendengar denyut kehidupan di hutan tempat kami tinggal.
Padahal, menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan petuah orang tua adalah hal penting yang tidak bisa ditawar. Kita tidak boleh merasa paling pintar hanya karena memegang peta satelit, sementara warga yang merawat tanahnya setiap hari tidak pernah didengarkan suaranya.
Penilaian bahaya tidak akan pernah tepat jika tidak melibatkan warga lokal dan hanya dihitung dari balik meja di kota, jauh dari suara gemuruh banjir lahar di hulu sungai. Para ahli tidak dapat mengabaikan kearifan lokal yang sudah teruji oleh ratusan tahun pengalaman hidup masyarakat di lereng gunung.
Kalau aturan keselamatan dibuat tanpa melibatkan warga yang tinggal di sana, aturan itu biasanya tidak akan berguna saat situasi darurat benar-benar terjadi.
Mari kita jujur melihat ke belakang bahwa bencana yang terasa begitu mengerikan di lereng Merapi bukanlah murni karena murka alam, namun akibat perbuatan kita sendiri.
Penambangan pasir yang sembarangan, perusakan hutan pelindung, dan alih fungsi lahan yang tidak memedulikan kemampuan alam telah mengubah pelindung kita menjadi ancaman. Kita tidak boleh menutup mata terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi demi keuntungan segelintir orang.
Pengerukan material secara berlebihan tidak hanya merusak bentuk fisik tanah, tapi juga tidak menyisakan jalur air yang aman bagi sumber kehidupan orang banyak di bawah.
Ketika bendungan penahan rusak dan hutan di atas gundul, air hujan sedikit saja tidak akan tertahan dan langsung berubah jadi banjir bandang yang menerjang perkampungan. Lihatlah. Kita tidak sepantasnya merasa lebih pandai daripada alam.
Janganlah terus-menerus mengeruk kekayaan bumi tanpa mau mendengarkan jeritannya. Alam tidak akan tinggal diam ketika keseimbangannya dirusak secara sengaja oleh keserakahan manusia.
Akibatnya, setiap kali musim hujan tiba atau status gunung naik, warga di bawah tidak bisa tidur nyenyak dan hidup dalam ketakutan. Bukan karena Merapi meletus, tapi karena lingkungan kita sudah telanjur rusak dan rapuh.
Jangan membiarkan rasa takut ini dan membuat kita patah semangat. Sebaliknya, keadaan tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja dan menjadi pengingat untuk memperbaiki cara kita memperlakukan alam.
Merawat Gotong Royong Warga
Bagaimana cara kita menghadapi rasa cemas itu? Jawabannya tidak lain dengan mengandalkan kekuatan mental dan kebersamaan antarwarga.
Kepanikan adalah musuh utama saat bahaya datang, dan kita jangan sampai membiarkan rasa takut itu membuat akal sehat kita hilang. Karena itulah ruang-ruang berkumpul di desa, seperti Sekolah Gunung atau radio komunitas yang tidak pernah sepi, memainkan peran penting dan tidak tergantikan.
Tempat-tempat berkumpul tidak dibuat untuk menyaingi instansi resmi, tetapi untuk melengkapi dan menyebarkan informasi agar tidak macet sampai ke dusun-dusun pelosok. Begitu penting kekuatan komunikasi antartetangga yang tidak pernah putus dan selalu didasari sikap tolong-menolong setiap hari.
Lewat obrolan santai di pos ronda atau warung kopi, kita melatih diri untuk tidak gampang percaya kabar bohong yang tidak jelas sumbernya saat Merapi batuk. Di tengah banjir informasi saat ini, warga desa tidak boleh kehilangan akal untuk mengecek kebenaran berita yang tidak sesuai dengan keadaan nyata di lapangan.
Rasa tenang tidak muncul begitu saja dan bukanlah sesuatu yang instan. Hadirnya rasa tenang buah dari kebiasaan saling latih dan rasa percaya yang tidak pernah luntur antarwarga. Kita tidak bisa membeli ketenangan hati dengan uang atau alat canggih, karena ketenangan tidak akan lahir tanpa adanya ikatan persaudaraan yang kuat dan kepedulian tulus antar-tetangga.
Merawat Merapi tidak ada bedanya dengan merawat kemanusiaan kita. Tidak perlulah saling menyalahkan antara pemerintah, relawan, dan warga lokal. Sikap mementingkan golongan sendiri bukanlah penghalang untuk membangun sistem keselamatan yang merangkum semua pihak.
Gunung ini bukanlah milik pribadi, tetapi rumah bersama yang tidak boleh dirusak kelestariannya. Segala bentuk aturan pembangunan di daerah rawan bencana haruslah terfokus pada keselamatan jangka panjang, bukan justru tidak peduli pada keselamatan anak cucu kita kelak.
Mari kita mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita yang tidak membutuhkan biaya besar. Kita tidak perlu menunggu bantuan datang dari jauh untuk mulai menanam kembali pohon-pohon penahan air dan merawat sumber-sumber mata air.
Setiap pohon yang kita tanam sekarang tidak akan pernah sia-sia, karena menjadi jaminan keselamatan bagi anak cucu kita di masa depan. Gerakan menjaga alam bukanlah slogan kosong di baliho, tapi harus diwujudkan lewat kerja nyata yang tidak pernah berhenti melibatkan seluruh warga desa.
Keselamatan di tanah kelahiran bukan ditentukan oleh seberapa canggih alat peringatan dini, tetapi oleh seberapa kuat kita merajut persaudaraan dan tidak merusak alam tempat kita tinggal. Jangan menyerah pada keadaan, karena masa depan lereng Merapi sepenuhnya tidak terlepas dari tangan kita yang tulus merawat dan mencintainya.
