Krisis Pengasuhan Krisis Peradaban :

Krisis Pengasuhan Krisis Peradaban

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keluarga-keluarga di Indonesia?


Budhi Hartanto
Ketua MPW PKS Jawa Tengah

 

Data ‘Sejuta Keluarga Bercerita, Curhat Bareng Konsultan Keluarga Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Jawa Tengah’ memberikan sinyal yang patut menjadi perhatian bersama. Dari 356 klien yang berkonsultasi kepada 126 konsultan keluarga, persoalan pengasuhan anak menempati urutan tertinggi dengan persentase 22,7 persen. Angka ini melampaui persoalan ekonomi maupun komunikasi keluarga yang masing-masing berada pada angka 15,9 persen.

Temuan tersebut menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sebab, sekian lama, banyak pihak menganggap bahwa problem utama keluarga Indonesia adalah ekonomi. Namun, data tersebut menunjukkan persoalan terbesar justru pada fungsi paling dasar keluarga, yaitu pengasuhan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keluarga-keluarga di Indonesia?

Dalam banyak keluarga modern, pengasuhan sering kali direduksi hanya sebagai pemenuhan kebutuhan fisik anak. Orang tua merasa telah menjalankan kewajibannya ketika kebutuhan makan, pakaian, pendidikan, dan fasilitas anak terpenuhi.

Padahal, pengasuhan jauh lebih luas daripada sekadar pemenuhan kebutuhan material. Pengasuhan adalah proses menanamkan nilai, membangun karakter, mengembangkan kecerdasan emosional, membentuk ketahanan mental, dan menyiapkan anak menghadapi kehidupan.

Psikolog perkembangan, Urie Bronfenbrenner, melalui Ecological Systems Theory menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan yang saling terkait, mulai dari keluarga, sekolah, teman sebaya, media, hingga lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam sistem tersebut, keluarga tetap menjadi lingkungan terdekat dan paling menentukan.

Masalahnya, di era digital saat ini banyak keluarga mulai kehilangan waktu, perhatian, dan kedekatan emosional yang menjadi inti pengasuhan. Kehadiran fisik orang tua tidak selalu diikuti oleh kehadiran psikologis. Banyak anak tumbuh di rumah yang lengkap secara struktur, tetapi miskin interaksi yang bermakna. Rumah terlihat ramai, tetapi kehilangan percakapan.

Tidak sedikit orang tua yang sibuk bekerja, sedangkan anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan gawai daripada dengan ayah dan ibunya. Akibatnya, proses pewarisan nilai dan pembentukan karakter berjalan semakin lemah.

Tingginya angka persoalan komunikasi keluarga dalam data ini sesungguhnya memperkuat dugaan bahwa keluarga kita sedang menghadapi tantangan relasional yang serius.

Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi jarak jauh, tetapi tidak selalu memperkuat komunikasi di dalam rumah. Kita menyaksikan fenomena keluarga yang duduk bersama di ruang tamu, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar telepon genggamnya.

Dalam perspektif Family Systems Theory yang dikembangkan Murray Bowen, keluarga merupakan sebuah sistem yang saling terhubung. Ketika komunikasi terganggu, seluruh sistem keluarga ikut terdampak. Hubungan suami-istri menjadi rentan, hubungan orang tua dan anak menjadi renggang, bahkan kesehatan mental anggota keluarga dapat ikut terpengaruh.

Karena itu, krisis pengasuhan sejatinya tidak berdiri sendiri, tetapi sering kali berkelindan dengan melemahnya komunikasi, berkurangnya kebersamaan, dan menurunnya kualitas relasi dalam keluarga.

Dampak problem pengasuhan tidak berhenti pada tingkat keluarga. Sosiolog Robert Putnam dalam teorinya tentang Social Capital menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh modal sosial, berupa kepercayaan, kerja sama, nilai-nilai bersama, dan partisipasi warga. Modal sosial tersebut pertama kali dibentuk di dalam keluarga.

Keluargalah tempat seorang anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama. Ketika fungsi pengasuhan melemah maka proses pembentukan modal sosial bangsa juga ikut melemah.

Anak-anak yang kehilangan pendampingan berpotensi mengalami kebingungan identitas, rendahnya ketahanan diri, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Karenanya, isu pengasuhan tidak boleh dipandang sebagai urusan privat masing-masing keluarga. Pengasuhan adalah isu strategis pembangunan bangsa. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa krisis pengasuhan hari ini dapat menjadi krisis peradaban pada masa depan.

Membangun Ketahanan Keluarga

Menurut Family Resilience Theory yang dikembangkan Froma Walsh, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang bebas dari masalah. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang mampu menghadapi tekanan, beradaptasi terhadap perubahan, dan bangkit dari berbagai kesulitan.

Ketahanan keluarga dibangun melalui tiga pilar utama, yakni sistem nilai yang kuat, pola hubungan yang sehat, dan komunikasi yang efektif.

Dalam konteks Indonesia sekarang, ketiga pilar tersebut perlu mendapat perhatian lebih besar. Pembangunan keluarga tidak cukup diukur dari peningkatan pendapatan atau kepemilikan aset ekonomi. Hal yang tidak kalah penting yakni kemampuan keluarga dalam menjalankan fungsi pengasuhan, pendidikan karakter, dan pembentukan nilai.

Oleh karenanya, diperlukan keterlibatan semua pihak. Pemerintah, sekolah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, komunitas, dan media perlu bersama-sama menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya keluarga yang sehat dan tangguh.

Data ‘Sejuta Keluarga Bercerita’ sesungguhnya bukan sekadar kumpulan angka statistik, tetapi cermin yang memantulkan kondisi riil keluarga Indonesia sekarang. Ketika persoalan pengasuhan muncul sebagai masalah besar, sesungguhnya alarm bagi masa depan bangsa sedang berbunyi. Sebab, kualitas generasi mendatang sangat ditentukan oleh kualitas pengasuhan yang mereka terima hari ini.

Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045 maka investasi terbesar yang harus dilakukan bukan hanya dengan membangun jalan, pelabuhan, atau kawasan industri. Investasi terbesarnya justru dengan membangun keluarga yang mampu melahirkan generasi berkarakter, berdaya tahan, dan berintegritas.

Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh kekuasaan semata. Masa depan bangsa sedang dibentuk setiap hari di rumah-rumah keluarga Indonesia, melalui pelukan seorang ibu, keteladanan seorang ayah, dan percakapan sederhana yang menumbuhkan harapan bagi anak-anaknya.

 

Referensi

Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design. Harvard University Press; Bowen, M. (1978). Family Therapy in Clinical Practice. Jason Aronson; Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster; Walsh, F. (2016). Strengthening Family Resilience (3rd Edition). Guilford Press; Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2024). Pembangunan Keluarga dan Ketahanan Keluarga Indonesia; Data Kegiatan ‘Sejuta Keluarga Bercerita: Curhat Bareng Konsultan Keluarga Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Jawa Tengah’, 27 Juni 2026.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik