Klaten Kota Cagar Budaya
/ Opini
Kota Klaten adalah museum hidup yang ruang nilai-nilai peradabannya sangat tua; jauh lebih tua dari catatan kelahirannya.
Sentot Suparna
Founder Klaten Library
Orang-orang Klaten yang tinggal di luar daerah, sering melontarkan jokes saat sedang berada di Kota Klaten. Uniknya, meskipun berbeda orang, waktu, dan cara penyampaian, namun konotasi kalimatnya hampir sama.
“Klaten kuwi wiwit biyen mung ngono-ngono wae, ning malah ngangeni.” (Klaten itu dari dulu hanya begitu-begitu saja, tetapi malah selalu bikin rindu)
Guyonan sederhana dan spontan tersebut justru sering mengundang rasa haru dan bangga bahwa ternyata, orang-orang Klaten tak pernah lupa kampung halamannya. Kerinduan pada Kota Klaten menurut mereka lantaran toleransi masyarakatnya yang tinggi, juga banyak kuliner tradisional dan bangunan peninggalan sejarah yang masih terawat.
Sejatinya, Kota Klaten memang memiliki sisi lain, namun sering terlupakan. Kota Klaten bukan sekadar pusat pemerintahan daerah, tetapi menyimpan sisi lain, berupa nilai budaya sebagai karakter. Aspek budaya dalam wujud toleransi tinggi, serta kuliner tradisional dan bangunan bersejarah, menjadi nilai lokal dan belum tentu dimiliki oleh daerah lain.
Ragam budaya Kota Klaten banyak dipengaruhi peradaban era pemerintahan Keraton Kasunanan Surakarta dan pemerintahan kolonial. Kota Klaten lahir tahun 1804, ketika pemerintah keraton dan pemerintah kolonial semakin intens menata struktur pemerintahan di daerah. Situasi ini sangat mempengaruhi perkembangan aspek sosial-budaya Kota Klaten.
Pengaruh budaya Keraton Kasunanan Surakarta di Kota Klaten masih dapat dirasakan hingga sekarang. Salah satunya, yakni konsep tata ruang di lingkungan Kantor Kabupaten dengan formasi alun-alun sebagai pusat, Kantor Bupati di sebelah selatan atau timur, masjid di sebelah barat, dan pasar di sebelah utara. Awalnya, tata ruang lingkungan Kantor Bupati Klaten sesuai konsep ini, kemudian mengalami pergeseran.
Nuansa budaya Keraton Kasunanan Surakarta tampak pada rumah joglo, pakaian adat, dan nama-nama kampung. Beberapa nama kampung seperti Blateran, Kanjengan, Kliwonan, Tegal Kepatihan, mengindikasikan bekas tempat kedudukan atau tanah bengkok pejabat keraton.
Dalam tata pemerintahan maupun rumah tangga Keraton Kasunanan Surakarta, kedudukan Kota Klaten dan masyarakatnya cukup berperan. Bahkan pemenuhan kebutuhan bunga melati, makanan tradisional, dan peraga karawitan untuk rumah tangga keraton, dipercayakan pada masyarakat Kota Klaten. Peran dan kedekatan hubungan dengan keraton semakin memengaruhi perkembangan karakter dan ragam budaya.
Akulturasi Budaya
Pada era kolonial, eksistensi dan otoritas Keraton Kasunanan Surakarta selalu dibayangi Pemerintah Kolonial Belanda. Kehadiran Pemerintah Kolonial Belanda mendorong berkembangnya akulturasi budaya di Kota Klaten.
Pemerintah Kolonial Belanda giat membangun infrastruktur, terutama untuk kepentingan militer dan perkebunan. Warisan era kolonial berupa ruas jalan, saluran irigasi, dan beragam bangunan, masih bisa dimanfaatkan hingga sekarang. Di Kota Klaten banyak ditemukan bangunan tua berarsitektur belanda yang sering disebut ‘Omah Lodji’. Sebagai warisan budaya, Omah Lodji perlu dilindungi dan dilestarikan.
Akulturasi budaya era kolonial menumbuhkan nilai budaya baru, berupa etos kerja, sistem administrasi, sistem irigasi, penguasaan bahasa, dan aspek budaya lainnya. Namun, secara perlahan, banyak nilai budaya akhirnya terkikis oleh beragam perkembangan dan perubahan.
Sebagian masyarakat Kota Klaten yang mengalami era kolonial mampu berbahasa Belanda meskipun tidak menguasai sepenuhnya. Kemampuan berbahasa Belanda ini sempat diekspresikan melalui beberapa lagu anak-anak yang pernah populer di Kota Klaten. Satu diantaranya yakni sebagai berikut.
Waarom mijn jangkrik
Horen niet ngerik
Waarom...
Waarom mijn jangkrik
Horen niet ngerik
Omdat...
Ndhase dithothol pitik
(Mengapa jangkrikku tidak terdengar ngerik, ternyata kepalanya dipatuk ayam).
Sejarah Kota Klaten juga diwarnai kedatangan orang-orang Tionghoa yang kemudian menetap sebagai penduduk. Eksistensi masyarakat Tionghoa sejak era kolonial menambah khazanah nilai budaya Kota Klaten. Akulturasi budaya mendorong berkembangnya toleransi dan kerja sama di tengah masyarakat.
Pada umumnya, orang-orang tionghoa bekerja sebagai pedagang dengan membuka toko di sepanjang jalan protokol Kota Klaten. Dahulu, lingkungan itu lazim disebut ‘pecinan’. Di jalan protokol atau Jalan Pemuda saat ini masih ada beberapa bangunan bercorak budaya Tionghoa, salah satunya terletak di perempatan Bareng.
Nilai budaya yang berkembang di Kota Klaten perlu dirawat dan dilestarikan sebagai spirit dan potensi lokal. Pemberdayaan potensi budaya dapat diimplementasikan di seluruh aspek pemerintahan maupun aspek sosial kemasyarakatan. Kesesuaian cara pandang tentang potensi budaya sangat penting untuk pemberdayaan dan pengembangan Kota Klaten di masa depan.
Sebagai basis budaya, Kota Klaten potensial dikembangkan sebagai pendukung sektor pariwisata. Pengembangan lingkungan kota sebagai daya tarik wisata bukan hanya sebatas entitas ekonomi, tetapi juga menjadi wahana konservasi nilai-nilai dan representasi sebuah identitas. Pengembangan pariwisata Kota Klaten dengan orientasi nilai budaya akan menjadikan Kota Klaten semakin ngangeni.
Kota Klaten bukan sekedar kota kecil sebagai pusat pemerintahan daerah, tetapi memiliki sisi lain yang jauh lebih membumi. Kota Klaten adalah ruang pustaka yang menyimpan catatan panjang tentang hamparan bumi loh jinawi. Kota Klaten adalah museum hidup yang ruang nilai-nilai peradabannya sangat tua, jauh lebih tua dari catatan kelahirannya.
Jadi, sungguh layak menyebut Klaten sebagai Kota Cagar Budaya.
