Enigma Tunda Makan Ala Gen Z :

Enigma Tunda Makan Ala Gen Z

Tidak sedikit dari Gen Z yang sebenarnya menderita gangguan pada lambung.


Ilham Nuri Sabili
Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris
UIN Raden Mas Said Surakarta

 

Bagi mahasiswa gen Z, hari-hari terasa begitu padat. Kuliah dari pagi hingga siang, berlanjut kegiatan luar kelas, seperti kegiatan organisasi, kerja kelompok, atau bahkan bekerja; dihadapi hanya dengan secangkir kopi dan 1 pcs risol mayo. Tanpa disadari, kebutuhan paling dasar manusia, yaitu makan, justru menjadi aktivitas yang paling mudah ditunda.

Stigma ‘malas’ yang kerap dilekatkan pada generasi ini tidak sepenuhnya salah. Namun, persoalannya kini lebih dalam dari sekadar enggan keluar kamar, tetapi semakin terabaikannya kebutuhan dasar yang bahkan nyaris dianggap lumrah.

Fenomena menunda makan, seperti ditunjukkan oleh penelitian Adam dkk. (2025), berkaitan erat dengan kebiasaan jadwal makan yang tidak teratur akibat berbagai faktor.

Perilaku yang berhubungan dengan pola makan tidak teratur baik dari segi frekuensi makan dalam sehari, jenis makanan yang dikonsumsi, maupun porsi makan akan menjadi pemicu utama gangguan lambung, seperti GERD dan dispepsia.

Artinya, apa yang dianggap sepele oleh mahasiswa kini mulai menampakkan konsekuensi pada sisi kesehatan yang tidak bisa diabaikan.

Pengalaman pribadi Penulis dengan teman-teman yang sakit asam lambung memperkuat kegelisahan ini. Mereka kerap mengeluh perut sakit, bolos kuliah atau rapat, dan harus menghindari berbagai jenis makanan.

Ketika ditanya, mengapa mereka sering menunda makan, sebagian besar menjawab karena ‘tidak sempat’. Sisanya mengaku hanya tidak mood atau malas membeli makan.

Ironisnya, ketika akhirnya makan, pilihan mereka justru lebih memilih makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein, ditambah kebiasaan makan larut malam.

Pola makan seperti inilah yang dalam penelitian Lingga & Elon (2025) disebut sebagai faktor risiko utama GERD yang kini menjadi masalah kesehatan cukup umum di kalangan mahasiswa.

Menariknya, keterlambatan makan di kalangan mahasiswa sering kali tidak lagi dianggap sebagai persoalan. Kalimat seperti “Aku belum makan dari pagi,” atau “Baru sempat makan jam tiga sore,” kerap diucapkan dengan nada santai bahkan terkadang disertai kebanggaan tersendiri.

Kesibukan akademik, organisasi, maupun pekerjaan paruh waktu seolah menjadi pembenaran untuk mengabaikan kebutuhan tubuh.

Dalam situasi seperti ini, lapar tidak lagi dipahami sebagai sinyal biologis yang harus segera direspons, melainkan gangguan kecil yang dapat ditunda kapan saja. Akumulasi kebiasaan kecil inilah yang kelak mendatangkan risiko terhadap masalah yang lebih besar.

Tergantung Gawai

Mengapa Gen Z bisa begitu betah menunda makan? Setidaknya, ada tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu gaya hidup digital, stres akademik, dan gaya hidup sosial.

Ketergantungan mahasiswa terhadap gadget dan internet membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, terpaku pada layar, dan melupakan waktu makan.

Stres akademik memperparah kondisi. Kebanyakan mahasiswa lebih mengingat jadwal deadline tugas daripada jadwal makan. Oleh karenanya, prioritas dasar seperti makan tepat waktu digeser demi mengejar deadline tugas.

Di sisi lain, gaya hidup Gen Z yang gemar ngopi juga turut memengaruhi. Terlebih di Kota Solo yang terkenal memiliki banyak kedai kopi dan tempat nongkrong.Mahasiswa lebih memilih menghabiskan waktu di kafe sambil menikmati kopi yang sifatnya hanya mengenyangkan sementara daripada memenuhi kebutuhan gizi terlebih dahulu.

Persoalannya bukan sekadar sesekali terlambat makan. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika keterlambatan tersebut berubah menjadi kebiasaan, lalu perlahan membudaya.

Mahasiswa diajarkan untuk disiplin terhadap jadwal kuliah, rapat, dan pengumpulan tugas, tetapi sering kali tidak disiplin terhadap kebutuhan tubuhnya sendiri. Tubuh selalu diminta menunggu, menunggu tugas selesai, menunggu rapat berakhir, atau menunggu pekerjaan tuntas.

Padahal, tubuh memiliki batas yang tidak dapat dinegosiasikan terus-menerus. Ketika rasa lapar terus dibiarkan, konsekuensi kesehatan seperti gangguan lambung hanyalah salah satu dampak yang kelihatan.

Mahasiswa sejatinya bukan tidak tahu bahwa ‘menunda makan’ itu berbahaya. Mereka melakukannya karena tuntutan akademik, kesibukan organisasi, dan berbagai distraksi digital yang terasa lebih mendesak daripada rasa lapar.

Dalam situasi tersebut, makan bukan lagi prioritas, tetapi aktivitas yang dapat ditunda dengan ‘nanti-nanti saja’ hingga semua pekerjaan selesai. Masalahnya, pekerjaan itu sering kali tidak pernah benar-benar selesai. Hingga pada suatu titik, sakit asam lambung datang lebih cepat sebelum pekerjaan rampung.

Pada lingkungan akademik yang penuh pressure ini, tentu tidak ada yang salah dengan sesekali memberikan self reward setelah menyelesaikan tugas, presentasi, maupun program kerja.

Menikmati secangkir kopi bersama teman atau menyantap seblak di warung favorit dapat menjadi cara sederhana untuk merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil. Sesekali mengonsumsi mi instan, makanan pedas, atau minuman berkafein juga bukanlah masalah besar.

Persoalannya muncul ketika kebiasaan tersebut dibarengi dengan pola makan yang tidak teratur seperti menunda makan, melewatkan jam makan, atau bahkan begadang. Dalam kondisi demikian, tubuh perlahan kehilangan asupan yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal.

Mungkin sudah saatnya mahasiswa membuat ‘jadwal makan’ di sela-sela jadwal kuliah. Bukan sekadar alarm di gawai, tetapi komitmen bahwa tubuh tidak kalah penting daripada tugas dari dosen atau ketua organisasi. Menyisipkan waktu 15 menit untuk sarapan atau membawa bekal dari rumah adalah langkah kecil yang dampaknya besar. Mengatur prioritas bukan berarti mengorbankan kesehatan.

Pada akhirnya, budaya menunda makan di kalangan mahasiswa bukan hanya persoalan pola hidup kurang sehat. Fenomena ini menunjukkan betapa kebutuhan paling dasar manusia dapat tersisih oleh tuntutan produktivitas dan kesibukan sehari-hari.

Jika mahasiswa mampu mengingat jadwal kuliah, deadline tugas, dan agenda organisasi dengan begitu baik, seyogianya mereka juga mampu mengingat kebutuhan tubuhnya sendiri. Sebab, tidak ada prestasi akademik yang layak dibayar dengan kesehatan yang buruk.

Bahan Bacaan

Adam, H., Lahamu, I. S., & Kairupan, B. H. R. (2025). 'Hubungan antara Pola Makan dengan Gangguan Lambung pada Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado'. Jurnal Kesehatan Tambusai, 6(2), 5053–5060. https://doi.org/10.31004/jkt.v6i2.43103

Lingga, D. E. S., & Elon, Y. (2025). 'Analisis Pola Makan Tidak Teratur sebagai Faktor Risiko GERD pada Mahasiswa Universitas Advent Indonesia'. Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), 1624–1636.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik