Buku Pendidikan Karya Alumnus Fakultas Hukum UMS Berjudul 'Pribadi Insani' :

Buku Pendidikan Karya Alumnus Fakultas Hukum UMS Berjudul 'Pribadi Insani'

Penulis menyadari bahwa akar penegakan keadaban, kejujuran, serta kemajuan bangsa bermula dari cara sebuah generasi dididik.


Sebuah karya pencerah hadir membedah esensi pengelolaan sumber daya manusia di tengah dinamika dunia pendidikan yang kini tidak jarang terjebak dalam orientasi administratif dan mekanistis.

Risalah bertajuk Pribadi Insani: Manajemen Pengembangan Mutu SDM Berbasis Modal Spiritual terbitan Pandiva Buku (2022) karya Abdul Qohin tersebut menawarkan pandangan segar mengenai pembangunan institusi di atas fondasi jiwa tangguh serta nilai transendental.

Daya tarik buku setebal lebih dari 400 halaman ini bukan terletak semata pada ketajaman gagasan teoretis, tetapi karena lahir dari rahim pengabdian nyata serta metamorfosis intelektual sang pengarang yang berakar di Kota Solo.

Karya Pribadi Insani melampaui batas himpunan teori manajemen barat yang dialihbasakan ke dalam ranah lokal, sekaligus jauh lebih mendalam daripada kumpulan ceramah moral hampa metodologi ilmiah. Tulisan ini merupakan intisari keringat, gagasan, pergulatan batin, serta refleksi empiris atas kerja pengabdian bertahun-tahun di lapangan pendidikan Islam.

Dalam lembaran monumental tersebut, Abdul Qohin membedah tesis fundamental bahwa institusi pengajaran tidak jarang terjebak dalam pengelolaan manajerial mekanistis. Badan pengelola sering mengejar indikator kuantitatif seperti akreditasi, sarana prasarana fisik, atau capaian akademis semata, namun mengabaikan substansi vital berupa kualitas jiwa beserta mental (human capital dan spiritual capital) dari para pelakunya.

Ia menawarkan perspektif bahwa manajemen SDM unggul wajib berpijak pada penguatan modal spiritual (spiritual capital). Pengelola, pendidik, serta tenaga kependidikan senantiasa ditempatkan sebagai subjek merdeka yang memerlukan pencerahan batin, motivasi transendental, serta rasa tanggung jawab di hadapan Sang Pencipta, alih-alih diperlakukan sebagai faktor produksi atau sekadar alat pencapai target institusional.

Melalui risalah ini, dirumuskan kerangka kerja cara dalam mengintegrasikan nilai spiritualitas Islam secara sistematis ke dalam fungsi manajemen modern. Penyatuan tersebut bermula dari rekrutmen berlandaskan integritas, pelatihan berkala yang menyentuh dimensi ruhaniah, evaluasi kinerja objektif namun penuh empati, hingga penciptaan budaya kerja organisasi bersemangat ukhuwah, amanah, serta profesionalisme (itqan).

Penerbitan itu dengan cepat menjadi rujukan penting bagi praktisi pedagogi, kepala madrasah, pengawas yayasan, serta mahasiswa pascasarjana. Di tengah gelombang disrupsi digital masa kini, manakala kecerdasan buatan (artificial intelligence) mendominasi hampir seluruh sektor kehidupan, pesan yang disampaikan lewat Pribadi Insani terasa semakin relevan.

Ketika mesin mampu mengambil alih fungsi kognitif mekanis dalam pembelajaran, satu elemen yang senantiasa kekal dan mustahil direplikasi oleh teknologi adalah jiwa, ketulusan, beserta keteladanan spiritual. Pemikiran Penulis menjembatani dua kutub yang sering terpisah, yakni efisiensi manajerial modern di satu sisi, dan kedalaman nilai moral-spiritual di sisi lain.

Metamorfosis Intelektual Penulis

Dari mana gagasan mendalam Pribadi Insani itu bermula? Jawabannya terbentang lewat rekam jejak perjalanan hidup Penulis yang penuh liku serta kejutan tak terduga.

Lahir di Rembang pada 29 November 1979, jejak langkah intelektual awal Abdul Qohin berakar kuat di Kota Solo. Siapa sangka, sosok yang kini mendedikasikan seluruh napas bagi dunia pengajaran dan mutu SDM tersebut dulunya merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta angkatan 1998.

Menelusuri masa mudanya berarti membawa ingatan kembali ke penghujung dekade 1990-an, sebuah era paling dramatis dalam sejarah Republik. Tahun 1998 menjadi tahun pertobatan politik nasional, saat dinding otoritarianisme runtuh dan angin kebebasan berembus kencang di setiap sudut kampus.

Di tengah atmosfer sarat dialektika, demonstrasi, serta perdebatan sengit tentang masa depan bangsa, Fakultas Hukum UMS menjelma sebagai kawah candradimuka tempat para pemuda menempa kesadaran kritis. Menjejakkan kaki sebagai civitas akademika hukum pada 1998 menuntut ketajaman nalar luar biasa.

Abdul Qohin muda mau tak mau harus bergulat dengan kitab undang-undang, teori tata negara, filsafat hukum, sosiologi hukum, hingga dinamika penegakan keadilan yang compang-camping di masa transisi politik. Studi yurisprudensi melampaui batas hafalan pasal serta merupakan latihan mental guna berpikir secara sistematis, analitis, objektif, serta komprehensif dalam melihat sebab-akibat setiap fenomena sosial.

Bagi seorang insan hukum, keadilan memegang tahta sebagai panglima tertinggi. Namun seiring pergelutan akademik serta perenungan filosofis mendalam, Abdul Qohin mulai menangkap realitas yang jauh lebih hakiki yakni kerusakan atau pun perbaikan hukum suatu negara senantiasa bergantung mutlak pada mutu manusia pelaksana di lapangan.

Sistem perundang-undangan paling sempurna dipastikan lumpuh di tangan individu yang kehilangan integritas moral beserta spiritual. Kesadaran itulah yang perlahan menggeser orientasi intelektualnya.

Alih-alih membayangkan masa depan berkutat di ruang sidang pengadilan sebagai advokat litigasi atau pun praktisi hukum korporasi, panggilan jiwa justru mantap melirik ranah yang jauh lebih fundamental bagi peradaban yakni ruang kelas, institusi pendidikan, serta pembinaan karakter manusia. Ia menyadari akar penegakan keadaban, kejujuran, serta kemajuan bangsa bermula dari cara sebuah generasi dididik.

Demi mewujudkan panggilan nurani itu, Ustaz Qohin, begitu ia akrab disapa,  membekali kembali diri dengan menempuh studi mendalam di bidang ilmu keguruan dan pendidikan Islam. Usaha itu sukses mengantarkan perolehan gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.) serta penuntasan program doktor (Dr.) khusus bidang pengembangan mutu sumber daya manusia.

Perpaduan latar belakang yurisprudensi dan ilmu pedagogi melahirkan keunikan gaya kepemimpinan langka. Cara pandang hukum yang terstruktur, taat asas, berorientasi ketertiban, serta menjunjung tinggi akuntabilitas berpadu harmonis bersama nilai etika Islam, keikhlasan, dan pendekatan humanis.

Transformasi ini membawanya menapaki berbagai jenjang tanggung jawab strategis di bawah naungan lembaga Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Ia dipercaya memegang posisi kunci, mulai dari pimpinan satuan tingkat Kepala Madrasah Aliyah (MA) Al Irsyad Al Islamiyyah Boarding School (AABS), pengemban amanah Mudir Syu'un Din Islam (SDI), hingga pemegang kendali strategis Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP).

Sebagai kaum terpelajar yang lahir dan menempa diri di Kota Solo yang kaya dialektika budaya Jawa serta tradisi Islam santri, ia sukses meramu sintesis pemikiran yang senantiasa berpijak kokoh pada akar budaya lokal. Latar belakang pendidikan hukum menyumbangkan kejelasan tata kelola serta kepatuhan aturan (rule of law), sementara pendalaman spiritual menyuplai ruh dan kehangatan dalam setiap kebijakan manajerial yang diambil.

Kaya Keteladanan

Kisah hidup serta lintasan intelektual Abdul Qohin menyajikan spektrum keteladanan sangat kaya bagi generasi muda maupun penggerak pendidikan nasional.

Melalui disiplin ilmu sebagai batu loncatan, ia membuktikan bahwa pengambilan bidang studi di masa muda senantiasa berfungsi memperluas takdir masa depan. Cara pandang analitis-sistematis menjelma modal kuat tatkala seseorang beralih mendedikasikan diri pada manajemen pendidikan.

Terbukti nyata bahwa karya besar lahir dari pengabdian, di mana buku Pribadi Insani tegak berdiri sebagai kristalisasi keringat, perjuangan, serta pergulatan manajerial sehari-hari di lapangan. Literatur tersebut hadir jauh dari sekadar hasil lamunan di menara gading.

Betapa penting kesadaran penuh bahwa pendidikan menuntut ketulusan mutlak dalam mengurus manusia yang jauh lebih kompleks daripada benda mati. Oleh sebab itu, dibutuhkan kombinasi ketegasan manajerial serta kelembutan spiritual demi merawat kualitas insan secara optimal.

Dari kiprahnya sebagai pimpinan lembaga pendidikan di Purwokerto hingga tapak tilas awalnya dalam menyerap semangat intelektual Kampus Pabelan, Abdul Qohin berhasil menorehkan garis hidup memesona.

Melalui risalah Pribadi Insani serta seluruh rekam jejak baktinya, ia mengingatkan kita bahwa kemajuan bangsa mutlak menuntut fondasi manusia utuh secara akal dan kaya modal spiritual, bukan bergantung pada slogan kosong atau pun renovasi fisik bangunan semata.

Dari Solo bagi Indonesia, kisah ini menjadi obor penunjuk jalan bagi siapa pun yang percaya bahwa ketulusan mengabdi pada ilmu serta umat akan selalu menemukan jalannya untuk menerangi semesta.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik