‘Menjual’ Pasar Mebel Solo
/ Opini
Perekonomian yang lesu, daya beli yang menurun, dan prioritas pemerintah yang sentralistis semakin meminggirkan eksistensi Pasar Mebel Surakarta.
Agus Widodo
Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Surakarta
Anggota Komisi II DPRD Kota Surakarta
Alumnus Fakultas Teknik UMS
Ibarat pepatah Jawa gupak pulute, ora mangan nangkane, fenomena eksistensi Pasar Mebel Solo, atau juga disebut Pasar Mebel Mojo, kini terasa semakin rumit. Digadang-gadang mampu berkontribusi besar sebagai salah satu ikon ekonomi kreatif, pasar bekas makam bong tersebut justru ‘hidup segan mati tak mau’, usai direlokasi dari kawasan Gilingan.
Pasar Mebel yang dibangun dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kota Surakarta sebesar Rp22 miliar ini belum sesuai harapan. Pelaksanaan Festival Pasar 2026 pada bulan Februari lalu untuk mendorong daya saing produk, mendongkrak omzet, dan mempromosikannya ke sekup global belum terlihat hasilnya.
Secara umum, industri mebel nasional memang tengah mengalami tekanan, karena menurunnya daya beli konsumen untuk sektor sekunder, misalnya perabot rumah tangga. Mereka mendahulukan kebutuhan pokok dibanding dengan membeli furnitur baru. Realitas tentang turun kelas bagi sebagian kelompok masyarakat tak dapat diabaikan.
Sementara pasar mebel tradisional semakin tergerus oleh maraknya furnitur fabrikasi impor berbahan partikel atau plastik berikut harga yang jauh lebih murah dan bisa dibeli secara daring dengan layanan pengiriman langsung ke rumah.
Belum lagi, akibat perang berkepanjangan di berbagai belahan dunia memaksa jalur logistik ekspor mebel juga terganggu. Harga pengiriman yang melonjak berkali lipat, karena armada yang harus menemukan rute aman, jelas berdampak pada turunnya permintaan.
Padahal, industri mebel di Kota Solo dan wilayah sekitarnya memiliki kontribusi ekonomi lokal yang sangat vital, terutama sebagai penggerak sektor padat karya dan penyumbang devisa melalui ekspor. Betapa penting dan urgen untuk mengupayakan jalan keluar bagi belum eksisnya Pasar Mebel Solo.
Sebagai industri padat karya, mebel menjadi tumpuan nafkah bagi ribuan kepala keluarga di Kota Solo dan sekitarnya. Jejaring klaster industri mebel menaungi ratusan industri kecil dan menengah formal yang menyerap ribuan tenaga kerja langsung pada bagian produksi, mulai dari tukang gergaji, pengukir, perakit, hingga bagian finishing.
Selain Pasar Mebel Mojo, industri kerajinan dan mebel di Kota Solo juga terkonsentrasi di lokasi eks-Pasar Mebel Gilingan, Banjarsari. Dua titik strategis tersebut terhubung dengan pabrik dan unit usaha manufaktur yang menampung puluhan unit usaha skala besar-sedang serta ratusan bengkel kerja skala mikro.
Artinya, industri mebel memiliki multiplier effect yang tinggi karena mayoritas nilai tambah pendapatannya langsung berputar di tingkat masyarakat lapis bawah. Eksis dan tidaknya Pasar Mebel Mojo adalah indikator penting keberhasilan Pemerintah Kota Surakarta dalam mengawal sektor usaha mebel agar tetap berjalan baik.
Strategi Penyelamatan
Ketika Pasar Mebel Solo mulai sepi pembeli, seyogianya Pemerintah Kota segera merancang strategi penyelamatannya. Beberapanya dapat berupa strategi pemasaran yang perlu didesain ulang, mendanai iklan digital berbasis komunitas, hingga menyewa konsultan bisnis demi mendongkrak kunjungan pembeli.
Bila perlu, mengIntegrasikan langkah-langkah penyelamatan Pasar Mebel dengan kebijakan Pemerintah Kota Surakarta untuk membuka jalur penjualan alternatif berskala besar. Teknisnya, regulasi dibuat agar Pemerintah Kota Solo dapat menyerap produk-produk Pasar Mebel.
Walhasil, semua kantor pemerintah, mulai dari sekolah hingga penjara menjadi konsumen Pasar Mebel. Dengan begitu, meskipun lapak fisik sepi, komoditas tetap terjual habis melalui kontrak pasokan institusional.
Namun, dari sekian banyak pilihan kebijakan untuk menyelamatkan Pasar Mebel Mojo, identitas budaya jelas paling kuat. Maksudnya, Pasar Mebel bukan hanya ruang transaksi, tapi juga identitas lokal Kota Solo yang terwakili dalam gaya hidup warganya.
Pasar Mebel kemudian mirip ruang pamer efektif bagi tren preferensi warga kota dalam menggunakan mebel. Pasar Mebel ibarat miniatur Kota Solo dari aspek furnitur. Orang dapat menilai Kota Solo bahkan dari cara warganya berbelanja mebel. Sebaliknya, warga Solo merasa terikat dengan identitas Solo, karena berbelanja mebel di Pasar Mebel.
Utamanya tentu saja perbaikan fasilitas dan kenyamanan. Infrastruktur yang layak, nyaman, dan bersih akan membuka pintu kreativitas lebih besar. Untuk menjadikan Pasar Mebel sebagai salah satu pusat gaya hidup di Kota Solo, diperlukan akses transportasi memadai serta penambahan nilai edukasi.
Sebuah tempat di Pasar Mebel Mojo bisa diubah menjadi ruang ekspresi kreatif, dengan mengadakan diskusi mebel, literasi mebel, simulasi formula baru teknologi produksi, dan masih banyak lagi. Para pengunjung pada akhirnya mendapatkan keuntungan, lebih dari transaksi permebelan.
Muara dari berbagai upaya tersebut adalah kebanggaan beridentitas Kota Solo. Mebel praktis hanya menjadi simpul atau pembuka komunikasi publik yang berorientasi sama dengan multi-kreativitas. Pemerintah Kota Surakarta dapat mewadahinya dengan regulasi pendukung agar terimplementasi taktis dan efisien.
Sebab, pada masanya, Solo pernah mencatatkan kontribusi ekspor mebel kayu dan rotan yang mengagumkan hingga ratusan miliar rupiah. Sebuah angka fantastis, karena senyatanya berdampak luas pada banyak kalangan, termasuk para pengrajin di level terbawah.
Dengan demikian, Pasar Mebel Surakarta bukan hanya hidup, tapi juga ramai, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi ekonomi lokal. Ibarat sudah telanjur gupak pulute, tapi tetap bisa ikut mangan nangkane.
