Upah Keikhlasan
/ Inspirasi
Dony Hidayat Al-Janan
Hari itu genap sebulan Pak Amir menjalani perannya sebagai guru privat mengaji untuk anak dari keluarga kaya raya, Pak Harto. Di luar profesi mengajinya setiap sore, hari-hari Pak Amir dihabiskan sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang sangat minim demi menyambung hidup keluarganya.
Pada sebuah senja, sebuah percakapan mendalam terjalin di teras rumah megah milik Pak Harto.
“Tak terasa sudah genap satu bulan Pak Amir menjadi guru privat anak saya. Pak Amir ikhlas melakukannya?” tanya Pak Harto membuka obrolan.
Dengan senyum tenang, Pak Amir menjawab, “Insyaallah, alhamdulillah saya diberikan amanah ilmu yang perlu saya sampaikan kepada yang membutuhkan.”
Mendengar itu, Pak Harto tertegun.
“Betapa besar keikhlasan Bapak. Betapa mulia hati Bapak. Saya sebenarnya ingin memberikan sekadar uang lelah bulanan, tetapi saya takut kalau itu justru akan mengganggu kucuran pahala keikhlasan yang telah Allah berikan kepada Bapak.”
Pak Amir tidak langsung tersenyum. Ada jeda sejenak sebelum ia bertutur dengan nada rendah namun tegas.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya paham. Tetapi yang menjadi masalah, saya cukup keberatan jika harus memahamkan sopir angkot tentang kata ‘ikhlas’ agar saya tidak perlu bayar ongkos waktu datang ke mari. Saya juga merasa berat saat utang-utang keperluan keluarga di warung sebelah harus saya bayar dengan keikhlasan. Belum lagi, bagaimana saya harus memahamkan anak dan istri saya di rumah, jika bapaknya pergi mencari tambahan nafkah tapi pulang dengan membawa imbalan ikhlas."
Pak Harto sedikit terusik.
“Tapi, bukankah Bapak tadi bilang, ilmu itu amanah Allah dan harus diamalkan? Jika ilmu diamalkan dengan harus ada biaya, apakah itu bukannya menjual ilmu Allah?"
Tanpa gentar, Pak Amir balik bertanya.
“Adakah sesuatu di dunia ini yang bukan berasal dari Allah? Kelaparan, kelelahan, kebodohan, dan kepandaian, bukankah semuanya dari Allah? Hasil bumi juga dari Allah. Apakah kita lantas dilarang untuk berjual beli? Jika Bapak diberi harta, bukankah itu harus diamanahkan untuk membeli kebutuhan yang Bapak perlukan, yaitu ilmu? Dan berhubung saya mempunyai ilmu, saya gunakan untuk membeli harta bapak.”
Pak Harto terdiam dan mencerna kalimat itu.
“Artinya, saling menukar nikmat amanah Allah?”
“Ya, benar,” sahut Pak Amir.
“Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah, sedang ciptaan-Nya selalu membutuhkan satu sama lain karena masing-masing memiliki keterbatasan, kelemahan, dan kelebihan sendiri-sendiri.”
Penasaran, Pak Harto kembali bertanya, “Lalu apa sebenarnya ikhlas itu?”
“Ikhlas adalah berbuat sesuatu hanya karena mencari keridaan Allah,” jawab Pak Amir mantap.
“Allah rida jika proses dan tujuan dari ‘jual beli’ serta pertukaran amanah tadi didasarkan pada nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dan yang perlu kita pahami, keridaan Allah akan sulit didapat jika kita sendiri tidak rida.”
“Apa itu rida?”
“Senang,” jawab Pak Amir singkat.
“Apakah kita senang jika melihat anak kita menangis kelaparan? Apakah kita senang jika merasakan perut kita kosong? Rida akan berlaku jika semua memperoleh haknya dengan seimbang. Hak tubuh adalah memperoleh sandang, pangan, dan papan. Hak pikiran adalah memperoleh ilmu. Keseimbangan itulah yang akan membuat hidup bahagia.”
"Lalu jika keseimbangan itu tidak terwujud?"
“Yang menimbulkan ketidakseimbangan itulah yang disebut zalim.”
“Apa itu zalim?”
“Menempatkan sesuatu tidak sesuai fungsinya, tidak sesuai amanahnya, dan tidak sesuai dengan kebutuhannya,” tandas Pak Amir.
Seketika wajah Pak Harto cerah. Senyum lega tersungging di bibirnya.
“Terima kasih, Pak. Sekarang saya tidak ragu-ragu lagi untuk memberikan uang kepada Bapak. Saya ikhlas dan rida dengan ini. Semoga demikian juga dengan Bapak."
“Alhamdulillah. Terima kasih, Pak,” ucap Pak Amir sambil menerima haknya.
Mendengar itu, Pak Harto spontan berkata, “Tidak perlu berterima kasih. Karena, nanti bisa mengotori keikhlasan saya.”
Dengan bijak Pak Amir menggeleng pelan.
“Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk menjaga keseimbangan. Karena kewajiban orang yang diberi adalah mengucapkan terima kasih, baik diminta atau tidak oleh orang yang memberi.”
Seketika Pak Harto terhenyak, mengelus dada sambil berbisik lirih, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
* Penulis adalah alumnus Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta yang kini akademisi Universitas Negeri Semarang. Kisah dalam tulisan ini fiktif, dimaksudkan untuk memberi ilustrasi secukupnya atas substansi penulisan.
