Transformasi Desa, Buah dari Praktik Demokrasi Lokal
/ Opini
Tradisi demokratis mengantarkan kepemimpinan desa yang progresif dan mampu bertransformasi lebih baik.
Nyuwardi
Anggota KAHMI Boyolali
Komisioner KPU Boyolali
Awal tahun 2026 terasa istimewa bagi warga Kabupaten Boyolali. Tepatnya pada 10-15 Januari 2026, Peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang mengusung tema ‘Bangun Desa, Bangun Indonesia’ dipusatkan di Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.
Puncak peringatan dimeriahkan dengan upacara seremonial Hari Desa Nasional, tasyakuran pagelaran wayang kulit, serta kegiatan Ngopi Bersama antara Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Yandri Susanto, dengan masyarakat dan kepala desa.
Secara resmi disampaikan, penyelenggaraan Peringatan Hari Desa Nasional 2026 menuju lima tujuan utama. Pertama, penyebarluasan kebijakan pembangunan kemandirian desa. Kedua, pertukaran ide dan praktik yang meliputi pembangunan desa.
Ketiga, membangun kebersamaan di tengah keanekaragaman. Keempat, membangun sinergi peran pembangunan desa. Kelima, menguatkan nilai budaya lokal dalam kerangka transformasi menuju kemandirian.
Frasa ‘transformasi menuju kemandirian’ terlihat dominan. Saatnya desa mencapai tahap kemandirian berbasis semua sumber daya yang dimiliki, terutama manusianya. Sekian lama kebijakan pemerintah akan desa berikut pernak-perniknya tetap membutuhkan sentuhan transformis dari berbagai kalangan.
Lantas mengapa Kabupaten Boyolali terpilih sebagai tuan rumah Peringatan Hari Desa Nasional 2026? Tentu saja bukan tanpa alasan, Kota Susu didapuk kesempatan emas tersebut. Bagi pengampu hajat tingkat nasional, Kabupaten Boyolali dinilai telah mencerminkan semangat desa yang terus bertumbuh, berdaya, dan berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Kabupaten Boyolali bermuasal dari 261 desa yang tersebar di 22 kecamatan. Ratusan entitas kewilayahan, dengan sumber daya beragam, mulai dari pertanian hingga kesejarahan tersebut tidak lahir begitu saja. Boyolali disemati torehan masa lalu yang tak biasa. Kraton Pengging, salah satunya. Boyolali hari ini tidak dapat dipisahkan dari sentuhan fenomenal para pendahulunya.
Sedari lama, warga Boyolali telah terbiasa dengan kepemimpinan kolektif yang sarat nilai. Ketika demokratisasi dijadikan indikator kekinian, kepemimpinan diukur dari seberapa efektif dan substantif proses demokrasi berjalan. Apakah itu melibatkan partisipasi warga, tidak berkelit dari transparansi, mengunggulkan akuntabilitas, dan tak ragu menegakkan keadilan.
Tidak mengherankan, bila beberapa capaian monumental desa mewarnai Kabupaten Boyolali. Misalnya, Desa Samiran, Kecamatan Selo, saat memenangi Tiga Besar Lomba Desa tingkat Nasional pada tahun 2010. Samiran memiliki lusinan spot wisata menarik, berikut beberapa destinasi bersejarah dan pertunjukan seni, juga tempat menginap bagi wisatawan yang inspiratif.
Secara ketentuan, mengacu pada Evaluasi Perkembangan Desa (EPDes), Samiran dinilai berdasarkan indikator dengan cakupan bidang pemerintahan, kewilayahan, dan kemasyarakatan. Samiran dinilai beberapa aspek, di antaranya administrasi, kinerja, kemandirian, kesejahteraan, dan partisipasi masyarakat, termasuk indikator pendidikan, kesehatan, ekonomi, keamanan, hingga Lembaga Kemasyarakatan.
Contoh lain, implementasi kebijakan e-voting dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) pada tahun 2019 di Kabupaten Boyolali. Selain terlaksana dengan baik, e-voting ini dinilai dapat mengurangi permasalahan yang terjadi dalam kontestasi Pilkades, terutama saat rekapitulasi penghitungan suara.
Meski bukan kabupaten pertama yang menerapkan e-voting saat Pilkades, praktiknya, terjalin komunikasi dan koordinasi yang konsisten dan akurat, antara Panitia Pemilihan Kabupaten, Panitia Pemilihan Desa, dan Tim Teknis, hingga akhirnya dapat meminimalisasi kesalahan. Kebijakan penggunaan e-voting dalam Pilkades di Kabupaten Boyolali tahun 2019 telah sesuai dengan aspirasi warga, memenuhi asas langsung-umum-bebas-rahasia-jujur-adil (Luber Jurdil), serta dapat mendukung penegakan supremasi hukum.
Transformasi Desa, Sebuah Agenda Kolektif
‘Genderang’ transformasi desa yang didorong Kemendes PDTT tentu saja bagian strategis berjangka panjang. Telah saatnya desa merambah digitalisasi, memberi ruang besar pada ekonomi kreatif, memodernisasi pertanian, memberdayakan warganya, serta bertumpu pada infrastruktur ramah lingkungan agar dapat bermuara pada keberlanjutan.
Tak ada lagi rasa kikuk bila pelayanan publik, administrasi, pemasaran produk, pendidikan, dan kesehatan kemudian disajikan penuh digitalisasi. Digitalitasi juga jelas berpengaruh pada aspek ekonomi kreatif, modernisasi pertanian, dan pemberdayaan warga desa. Untuk itu, partisipasi warga, kompetensi sumber daya manusia, dan kemandirian dapat diupayakan melalui program-program, seperti koperasi desa, sekolah rakyat, dan pelatihan.
Meski demikian, transformasi desa di Kabupaten Boyolali, tidak pula dimaknai parsial dengan berharap pada masing-masing desa untuk tumbuh sendirian. Sebuah desa memiliki keunggulan kompetitif dalam beberapa potensinya, belum tentu unggul pula di sekup selain itu. Pun dengan desa-desa lain.
Kepemimpinan Boyolali yang digalang kolektif menjadi penentu berhasil-tidaknya transformasi desa. Kepemimpinan kolektif di tingkat kabupaten berperan dalam transformasi desa yang terintegrasi, kolaboratif, dan terarah, terutama relasinya dengan lingkup kebijakan yang lebih besar. Kolaborasi kepemimpinan kolektif ini akan melahirkan sistem pemerintahan yang lebih efisien demi tercapainya desa mandiri dan sejahtera.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa arah transformasi desa tidak lain dan tidak bukan merupakan praktik demokrasi lokal yang berhasil. Kepemimpinan daerah sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan desa, sedangkan kepemimpinan desa pun tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan daerah. Meski secara perundangan terdapat batasan-batasan khusus tentang otonomi kewilayahan keduanya, toh tak dapat dipungkiri, sebuah daerah bisa maju bila solid basis dukungan desanya.
Peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang dipusatkan di Kabupaten Boyolali mengirim pesan kuat kepada seluruh desa di Indonesia tentang pentingnya menjaga semangat transformasi desa dengan tetap erat bergandengan tangan. Tatanan mulia dari Boyolali yang secara turun-temurun terus dijaga dengan baik.
Editor: Rahma Frida
