Dalang remaja, Muhammad Raffiandra Alvaro, mementaskan lakon 'Brubuh Alengka' dalam gelaran Prabha Zahra. (Humas LBM Al-Falah)
Merawat Jati Diri Sragen dengan Prabha Zahra : Dalang remaja, Muhammad Raffiandra Alvaro, mementaskan lakon 'Brubuh Alengka' dalam gelaran Prabha Zahra. (Humas LBM Al-Falah)
Dalang remaja, Muhammad Raffiandra Alvaro, mementaskan lakon 'Brubuh Alengka' dalam gelaran Prabha Zahra. (Humas LBM Al-Falah)

Merawat Jati Diri Sragen dengan Prabha Zahra

Prabha Zahra berhasil merajut kembali benang merah antara pendidikan Islam, pelestarian seni tradisi, dan kebangkitan ekonomi kerakyatan


Ust. Suparlan Abdul Hakim
Ketua Yayasan Lembaga Bakti Muslim Al-Falah Sragen

 

Alun-Alun Sragen pada tanggal 24–25 Oktober 2026 kemarin menjadi tempat berhimpunnya ribuan warga dari berbagai penjuru daerah. Kemeriahan yang terpancar di pusat kota tersebut mencerminkan kerinduan masyarakat akan ruang publik yang mampu menyatukan berbagai elemen kehidupan.

Lebih dari sekadar perhelatan tahunan yang menyedot perhatian banyak orang, perhelatan Prabha Zahra hadir membawa misi yang jauh lebih mendalam. Kegiatan ini menyuarakan pesan mendasar tentang cita-cita peradaban dan arah pendidikan karakter generasi penerus bangsa.

Rangkaian kegiatan ini lahir dari ikhtiar kolaboratif yang kukuh. Yayasan Lembaga Bakti Muslim (LBM) Al Falah Sragen yang saya pimpin berkolaborasi dengan LAZ Bakti Peduli Indonesia pimpinan Budhi Widyastuti.

Kolaborasi tersebut dibangun atas kesadaran bersama bahwa pembinaan umat dan pembangunan masyarakat tidak dapat berjalan secara parsial. Pendidikan, filantropi Islam, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi seyogianya bergerak bersama dalam satu helatan yang inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah pesatnya gelombang digitalisasi dan derasnya arus modernisasi global yang acap kali memunculkan kekhawatiran akan lunturnya identitas lokal, panggung Prabha Zahra menyajikan pemandangan yang menggetarkan hati. Seorang remaja kelas 9 SMP bernama Muhammad Raffiandra Alvaro berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan khalayak umum.

Tangan jemarinya secara lihai memegang cempala dan memainkan sabetan wayang di balik kelir yang terbentang. Raffiandra membawakan lakon pewayangan klasik ‘Brubuh Alengka’ secara fullset. Sebuah pencapaian yang mengagumkan bagi seorang pelajar seusianya.

Pementasan tersebut disajikan secara utuh, lengkap dengan perangkat pengiring gamelan yang ditabuh secara harmonis serta seluruh unsur pendukung pementasan wayang kulit tradisional. Penampilan memukau ini memberikan penegasan yang teramat jernih bahwa akar kebudayaan Nusantara terus hidup dan berakar kuat di tangan generasi muda ketika kita memberikan mereka ruang serta panggung yang tepat.

Fenomena berharga ini mengajak seluruh masyarakat, para pemangku kebijakan, dan penggiat pendidikan untuk merenungkan kembali pentingnya integrasi antardimensi kehidupan. Pendidikan Islam, pelestarian seni budaya tradisional, pengembangan ekonomi kerakyatan, dan pembentukan karakter anak bangsa merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Kehadiran Prabha Zahra di Alun-Alun Sragen menjadi bukti empiris bahwa nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal dapat dipadukan secara harmonis untuk menjawab tantangan zaman.


Mendidik Lewat Budaya dan Pewayangan

Penampilan dalang cilik Muhammad Raffiandra Alvaro menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan muatan filosofis yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern. Pilihan lakon ‘Brubuh Alengka’ membawa kita pada perenungan mendalam tentang esensi kehidupan manusia. Lakon ini mengisahkan babak akhir atau klimaks dari peperangan besar antara kebenaran yang diwakili oleh Resi Rama bersama pasukan kebaikan, melawan ketakakhlakan, kesombongan, dan ketamakan yang disimbolkan oleh sosok Rahwana.

Dalam kacamata filsafat kebudayaan dan pendidikan moral, peperangan dalam kisah ‘Brubuh Alengka’ merupakan bentuk simbolisasi dari pertarungan abadi yang terjadi di dalam jiwa setiap manusia. Pertarungan tersebut mewakili pergolakan antara nilai-nilai kebaikan (haqq) dan kecenderungan pada kebatilan (bathil).

Ketika seorang siswa kelas 9 SMP mampu memahami, menginternalisasi, dan menyajikan pesan-pesan moral bernilai tinggi tersebut ke dalam wujud seni pertunjukan wayang kulit utuh, kita sedang menyaksikan sebuah preseden pendidikan yang sangat baik.

Seni pewayangan sejak zaman Wali Songo, khususnya melalui pendekatan dakwah yang dirintis oleh Sunan Kalijaga, telah terbukti secara historis sebagai media edukasi moral, saluran dakwah yang efektif, serta sarana perekat hubungan sosial masyarakat.

Budaya dirawat bukan dengan cara mengurungnya di dalam ruang pameran museum yang dingin dan kaku. Warisan tradisi merawat diri dan berkembang dengan cara dimainkan kembali, dihidupkan di tengah ruang publik, serta dijadikan media refleksi bersama untuk memperbaiki kualitas kehidupan bermasyarakat.

Keberanian dan ketangkasan Raffiandra Alvaro di atas panggung menjadi simbol optimisme baru bagi dunia pendidikan kita. Fenomena ini mematahkan anggapan bahwa generasi Z dan generasi Alfa senantiasa berjarak atau asing dengan kearifan lokal tempat mereka membesar. Generasi muda pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keterikatan yang kuat terhadap akar budayanya sendiri. Mereka memerlukan saluran ekspresi yang ramah, keteladanan yang nyata dari para pendidik, serta apresiasi yang tulus dari lingkungan sosialnya.

Ketika lembaga pendidikan Islam dan yayasan keagamaan mengambil inisiatif untuk memberikan ruang apresiasi yang luas bagi seni budaya tradisional, kita sedang melakukan investasi nilai yang sangat mendasar. Langkah ini menanamkan rasa bangga yang mendalam dalam diri anak didik atas identitas kebangsaannya.

 Karakter anak bangsa yang kuat lahir dari rasa percaya diri terhadap warisan luhur bangsanya sendiri, bukan dari sikap meniru tanpa kritis terhadap nilai-nilai luar yang belum tentu selaras dengan moralitas Nusantara.

Keberhasilan pementasan wayang kulit fullset oleh siswa SMP ini juga memberikan pembelajaran berharga mengenai pentingnya ketekunan, kedisiplinan, dan kerja sama tim. Sebuah pertunjukan wayang kulit utuh membutuhkan keharmonisan antara dalang, penabuh gamelan (niyaga), dan penembang (pesinden).

Proses latihan yang panjang hingga mencapai keselarasan di atas panggung merupakan bentuk pendidikan karakter yang nyata, di mana anak-anak belajar menekan ego pribadi demi terciptanya sebuah karya bersama yang indah.

 

Penguatan Jati Diri Masyarakat Sragen

Perhelatan Prabha Zahra dirancang sejak awal untuk membuktikan sebuah tesis penting dalam dunia pendidikan, yakni pendidikan harus menyatu dengan lingkungan masyarakatnya. Pendidikan yang terkurung di dalam tembok-tembok kelas akan kehilangan daya ubah dan kepekaan sosialnya.

Pendidikan yang berdaya guna adalah pendidikan yang hadir langsung di tengah-tengah kehidupan warga, meresapi dinamika sosial yang ada, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama.

Oleh karena itu, rangkaian kegiatan Prabha Zahra dikemas secara komprehensif dengan memadukan berbagai segmen acara yang saling melengkapi. Selain pementasan budaya tradisional, perhelatan ini menghadirkan Edu Expo, yakni panggung pentas seni anak yang melibatkan 35 pertunjukan, pasar rakyat yang diisi oleh 65 tenda UMKM, serta kegiatan kebugaran melalui Zahra Fun Walk. Seluruh rangkaian acara tersebut dirancang untuk merangkul seluruh anggota keluarga dan lapisan masyarakat dalam satu atmosfer kebersamaan.

Ruang yang diberikan kepada anak-anak melalui 35 pertunjukan pentas seni anak merupakan bentuk investasi jangka panjang dalam pembentukan kepribadian. Panggung tersebut menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun rasa percaya diri, melatih keberanian tampil di depan publik, serta menumbuhkan daya cipta dan kreativitas sejak usia dini.

 Keterlibatan aktif 65 tenda UMKM yang berasal dari jejaring 18 sekolah serta elemen masyarakat sekitar menegaskan komitmen kuat yayasan dalam mendukung gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Lembaga pendidikan Islam dan lembaga filantropi seperti LAZ Bakti Peduli Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta memperkuat kemandirian ekonomi umat.

Pendidikan yang berkualitas dan pembinaan karakter yang unggul membutuhkan tumpuan ekonomi masyarakat yang stabil dan sejahtera.

Seluruh rangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 24–25 Oktober 2026 di Alun-Alun Sragen memberikan pesan penegas mengenai pilar penopang jati diri Bumi Sukowati. Perhelatan Prabha Zahra tidak semata panggung hiburan sesaat, tetapi cermin reflektif bagi masyarakat Sragen untuk melihat kembali identitas dirinya. Jati diri Sragen sebagai masyarakat yang religius, berbudaya, berpendidikan, dan berdaya secara ekonomi tecermin secara nyata melalui tiga pilar penting berikut.

Pertama, momentum Prabha Zahra menjadi bukti sejarah bahwa jati diri Sragen tidak pernah luntur oleh perubahan zaman maupun derasnya arus globalisasi. Antusiasme ribuan warga yang hadir serta keberanian anak-anak muda untuk tampil membawa karya seni tradisional adalah saksi hidup bahwa identitas Bumi Sukowati tetap hidup, berakar kuat pada tradisi, dan siap melangkah dengan percaya diri menghadapi masa depan.

Semoga langkah kecil yang kita ayunkan bersama ini dicatat oleh Allah SWT sebagai ikhtiar terbaik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, merawat warisan luhur Nusantara, dan membangun peradaban masyarakat Sragen yang berakhlak mulia, sejahtera, serta berdaya saing tinggi.

Editor: Kusnawati


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik