Menutrisi Tradisi Politik Berbasis Pengetahuan, Pandiva Terbitkan ‘Politik Teknokratis’
/ Literatur
Politik bukan semata menang-kalah, tapi juga pengetahuan yang dapat direproduksi.
TEMBALANG, Semarang | Pandiva Buku, brand penerbitan pendukung Surakarta Daily, kembali merilis karya bernutrisi berjudul Politik Teknokratis: Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu. Disuguhkan dengan apik oleh Muhammad Fikhar Azqeel Kusuma, Wahid Abdulrahman, Jihan Marsya Azahra, dan Kushandajani, buku tersebut diharapkan membuka ruang diskursus strategi perpolitikan yang tidak melulu sekadar tentang menang dan kalah.
Naskah buku bermula dari studi mendalam yang dilakukan Muhammad Fikhar Azqeel Kusuma atas kemenangan Amelia Anggraini, Anggota DPR-RI periode 2024-2029 dari Partai Nasdem pada Pemilu 2024, dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah 7. Ketika itu, Amelia mendapat perolehan suara sebanyak 131.481.
Siapa sangka, kemenangan politik tersebut bukan sekadar ditentukan faktor popularitas, melainkan buah dari strategi teknokratis yang terukur, inklusif, dan sistematis. Kemenangan Amelia dapat disebut sebagai kemenangan politik perempuan, karena ia mampu melampaui hambatan interseksionalitas.
Amelia Anggraini diposisikan sebagai aktor politik yang menghadapi tumpang tindih relasi kuasa antara gender, asal daerah, senioritas politik, dan dominasi elite mapan, sehingga menunjukkan bahwa tantangan politik bersifat majemuk dan berlapis. Pembaca akan dapat memahami bahwa tantangan dalam politik elektoral sering hadir secara simultan, saling menguatkan, dan saling mengunci.
“Sebuah fakta optimistis di tengah masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam perpolitikan Indonesia, meskipun kebijakan kuota 30 persen telah diterapkan,” ujar Fikhar saat peluncuran buku di Auditorium Fimena, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Jumat (13/2/2026).
Fikhar menuturkan, buku Politik Teknokratis membedah strategi pemenangan calon anggota legislatif (caleg) perempuan menggunakan kerangka interseksionalitas, teori mobilisasi sumber daya, dan teori efek kandidat. Penulis menyuguhkan sintesis dari pengalaman empiris di lapangan serta ketajaman analisis akademiknya.
Dengan latar belakang organisasinya yang kuat, pengalaman riset lapangan yang memadai, serta kepekaannya terhadap isu kesetaraan gender dan demokrasi, laki-laki kelahiran Salatiga itu berkontribusi dalam kajian politik Indonesia, khususnya perjuangan representasi yang lebih inklusif dan demokratis.
Peluncuran buku dihadiri anggota DPR Amelia Anggraini, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat, Anggota DPR Sugeng Suparwoto, Rektor UNDIP Suharnomo, Direktur Inovasi dan Kerja Sama UNDIP Dian Wahyu Harjanti, Dekan FISIP UNDIP Teguh Yuwono, Dekan Fakultas Kedokteran UNDIP Yan Wisnu Prajoko, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNDIP Alamsyah, pakar ilmu politik UNDIP Nur Hidayat Sardini, dan beberapa tokoh lainnya.
Politik Berbasis Pengetahuan
Dalam salah satu pengantar, Wakil Ketua Umum Partai NasDem serta Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menggarisbawahi pentingnya tradisi politik berbasis pengetahuan. Menurutnya, perkembangan demokrasi kontemporer menuntut pendekatan analisis politik yang melampaui narasi normatif dan deskriptif.
Saan berpandangan, politik tidak lagi dipahami semata sebagai kompetisi elektoral, melainkan sebagai proses pengambilan keputusan rasional yang dipengaruhi oleh relasi kuasa, struktur sosial, dan konteks institusional yang saling beririsan.
“Sejalan dengan semangat Restorasi Indonesia Partai NasDem, naskah ini menekankan pentingnya rasionalitas, meritokrasi, dan keadilan sosial sebagai fondasi penguatan kualitas praktik politik dan demokrasi yang lebih matang serta bertanggung jawab,” tulisnya.
Ia berharap, buku Politik Teknokratis dapat menjadi rujukan bagi kalangan akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi politik dalam memahami politik tidak semata sebagai arena kontestasi, tetapi sebagai ruang pengambilan keputusan publik yang dipengaruhi oleh struktur sosial yang kompleks.
“Semoga karya ini turut memperkuat tradisi politik berbasis pengetahuan, serta mendorong lahirnya praktik politik yang semakin rasional, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan bangsa,” tutupnya.
Penulis Progresif
Muhammad Fikhar Azqeel Kusuma memiliki fokus mendalam pada isu-isu sosial, politik, dan tata kelola pemerintahan. Ia merupakan lulusan Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, dengan predikat memuaskan.
Selama menempuh pendidikan tinggi, Fikhar tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan dan gerakan sosial. Pengalaman kepemimpinannya dimulai sebagai Senior Staff Executive Student BEM FISIP UNDIP pada Departemen Pengabdian Masyarakat (2023). Ketika itu, ia mengelola program donor darah dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait Corporate Social Responsibility (CSR).
Kiprah organisasi kemahasiswaannya mencapai puncak saat terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UNDIP periode 2023–2024. Kepemimpinannya berhasil mendesain visi, misi, dan nilai organisasi yang menjadi fondasi pergerakan, merancang ulang proses rekrutmen yang berhasil menjaring lebih dari 50 anggota baru, serta memimpin organisasi dengan 5 departemen dan lebih dari 100 anggota aktif.
Dedikasinya terhadap gerakan mahasiswa berlanjut saat ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi HMI Cabang Semarang periode 2024–2025 yang bertanggung jawab atas pembentukan disiplin organisasi dan pengembangan kapasitas kader. Setelahnya, Fikhar diberi amanah sebagai Sekretaris Umum HMI Cabang Semarang periode 2026–2027.
Fikhar memiliki perhatian khusus pada studi demokrasi elektoral dan gender dalam politik. Karena itu, ia berpartisipasi dalam berbagai forum akademik dan pelatihan, termasuk Sekolah Demokrasi Angkatan ke-6 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 2023, serta Democracy Camp yang digelar oleh Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) pada 2024.
Kapasitasnya dalam analisis politik juga terasah melalui pengalaman sebagai surveyor pada berbagai proyek riset politik yang diselenggarakan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Voxpol Indonesia.
Prestasi akademik Fikhar dalam bidang kajian demokrasi terbukti sewaktu ia meraih Juara 1 Focus Group Discussion ‘Demokrasi dan Pemilu’ Kota Semarang 2023, yang menunjukkan kemampuannya dalam menganalisis dinamika politik elektoral secara kritis dan mendalam.
Editor: Rahma Frida
