Agus Widodo (ketiga dari kiri) dalam Sidak Komisi II DPRD Kota Surakarta ke Pasar Mebel. (Official Agus Widodo)
Menjaga Jantung Kota, Menjaga Pasar Tradisional : Agus Widodo (ketiga dari kiri) dalam Sidak Komisi II DPRD Kota Surakarta ke Pasar Mebel. (Official Agus Widodo)
Agus Widodo (ketiga dari kiri) dalam Sidak Komisi II DPRD Kota Surakarta ke Pasar Mebel. (Official Agus Widodo)

Menjaga Jantung Kota, Menjaga Pasar Tradisional

Ketika pasar tradisional mati, kota akan kehilangan jantungnya.


Agus Widodo
Wakil Ketua Fraksi PKS
Anggota Komisi II DPRD Kota Surakarta
Alumnus Fakultas Teknik UMS

 

Saya sering berjalan di antara kios-kios pasar tradisional di Solo. Terkadang tanpa rombongan, tanpa kamera, tanpa seremonial. Hanya menyamar sebagai pembeli biasa.

Di sana, saya belajar satu hal. Pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi. Ia adalah denyut kota. Tempat komunikasi, ekonomi, dan kebudayaan saling menempel erat, seperti bau bawang merah dan tanah basah di pagi hari.

Tetapi hari berganti, ada sesuatu yang berubah. Lebih halus, lebih pelan, tapi terasa. Antrean di pasar rakyat itu terlihat semakin pendek. Pembeli semakin jarang dan pedagang semakin sering memandangi layar ponselnya, bukan para pembeli.

Mengapa pasar tradisional kian menyepi? Jawabannya bisa begitu pendek. Kebanyakan dari para pedagang kini berjualan di TikTok dan mereka hanya menunggu para pengunjung yang masih ‘percaya’ pada pasar tradisional.

Kalimat ini seperti tamparan. Karena, pasar tradisional sebenarnya bukan kalah, tapi sedang ditinggalkan. Bukan karena barangnya buruk, malah terkadang lebih segar. Bukan karena harganya yang mahal, justru sering kali lebih murah. Tapi, karena pengalaman belanjanya yang kalah nyaman.

Mari kita jujur. Sebagian pasar kita masih gelap, masih becek, masih bau. Toilet sering rusak. Drainase sering mampet. Sampah menumpuk di sudut kios. Padahal, pembeli zaman sekarang tidak lagi sekadar mencari barang. Mereka mencari kenyamanan, kejelasan harga, estetika, dan akses digital.

Pasar yang dulu menjadi pusat kota, kini justru paling tertinggal dari ritme peradaban baru. Di mall, pembeli disenyumkan. Di marketplace, pembeli dimudahkan. Di pasar tradisional? Pembeli ditantang.

Namun, saya percaya satu hal. Pasar tradisional masih punya masa depan. Selama kita punya keberanian untuk membuatnya lebih bersih, lebih terang, dan lebih manusiawi. Bukan demi estetika, tapi demi martabat pedagang dan kenyamanan pembeli.

Pedagang tidak harus meninggalkan lapaknya. Tapi lapaknya harus bisa muncul di layar ribuan warga yang tidak sempat ke sana. Karena yang membuat pasar hidup bukan hanya barangnya, tapi hubungannya.

Saya membayangkan masa depan pasar tradisional Solo seperti ini. Pedagang sayur bisa live streaming sambil menimbang bayam. Pembeli bisa pesan dari rumah, lalu tinggal ambil tanpa antre. Harga jelas, pembayaran bisa tunai atau dengan QRIS. Sampah organik dikelola, bukan dibiarkan membusuk. Anak muda mau datang, bukan hanya orang tua.

Itu bukan mimpi. Banyak kota di dunia sudah melakukannya. Kita hanya butuh kemauan kolektif.

Saya sering mendengar orang berkata, “Biarkan pasar tetap seperti dulu. Itu ciri khasnya.” Saya tersenyum. Kalimat itu terdengar indah, tapi menyesatkan. Sebab, tradisi bukan museum. Tradisi adalah sesuatu yang bisa bertahan sambil berubah. Jika pasar tidak berubah maka ia bukan tradisi. Ia tinggal kenangan.

Solo kota budaya dan pasar tradisional adalah panggungnya. Tugas kita bukan menjaga baru-lamanya, tetapi napas hidupnya. Karena, ketika pasar tradisional mati, kota akan kehilangan jantungnya.

Dan itu tidak boleh terjadi di Solo. Bukan hari ini. Bukan besok. Tidak selama saya masih diberi amanah duduk di kursi ini.

Editor: Budi Gunawan Sutomo


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik