Mengapa Ashabiyah Negara Teluk Begitu Lemah?
/ Opini
Keamanan dan stabilitas Kawasan Teluk menjadi kunci terciptanya perdamaian di Timur Tengah.
Irawan Januari Putra
Kasi Pemerintahan Desa Paseban, Bayat, Klaten
Alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma
Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu yang menargetkan fasilitas militer telah menewaskan warga sipil termasuk ratusan siswa dan guru. Serangan tersebut juga menewaskan Pemimpin Agung, Ali Khamenei, dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Shamkhani.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di Kawasan Teluk Persia. Hampir seluruh pangkalan militer dan fasilitas ekonomi Negeri Paman Sam yang tersebar di wilayah negara-negara Teluk seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta Oman tidak luput dari hantaman rudal dan drone Iran.
Dalam perang itu, negara-negara Teluk dihadapkan pada pilihan yang sulit. Jika membalas serangan, mereka akan dianggap berada di pihak Amerika Serikat-Israel. Sementara jika bersikap pasif maka wilayah dan fasilitas vital mereka menjadi sasaran Iran. Citra dan reputasi negara-negara Teluk sebagai negara yang makmur dan stabil serta menjadi salah satu pusat investasi global pun dipertaruhkan.
Dalam perang tersebut pula tampak satu fakta mengejutkan, yaitu perbedaan respons rakyat di negara-negara Teluk dan rakyat Iran dalam menyikapi perang tersebut. Pascaserangan balasan Iran, di negara-negara Teluk, hampir tidak ada demonstrasi mengecam serangan Iran atau demonstrasi mendukung pemerintah.
Situasi ini kontras dengan apa yang terjadi di Iran. Di sana, rakyat tanpa henti berdemonstrasi mendukung pemerintah. Jutaan rakyat Iran siap mendaftarkan diri menjadi relawan perang. Mereka bahkan berani berbaris membentuk rantai manusia guna melindungi fasilitas vital negara dari ancaman serangan.
Lemahnya respons rakyat negara-negara Teluk itu disebabkan oleh lemahnya ashabiyah. Konsep ashabiyah dikemukakan Ibnu Khaldun melalui karya tulis monumentalnya, Muqaddimah. Ashabiyah adalah solidaritas sosial yang terbentuk secara alamiah dari ikatan primordial tertentu.
Ashabiyah merupakan faktor penentu kekuatan sosial-politik yang mendasari terbentuknya peradaban atau negara. Menurut Ibnu Khaldun, jatuh bangunnya peradaban atau negara berbanding lurus dengan kuat lemahnya ashabiyah.
Transformasi Kawasan Teluk
Sebelum terbentuk negara modern, kawasan Teluk dihuni masyarakat gurun dengan budaya kesukuan yang nomaden. Pada masa kolonialisme Eropa, kawasan itu berada di bawah pengaruh Inggris.
Ditemukannya minyak bumi di kawasan Teluk pada abad ke-20 telah mendorong transformasi sosial ekonomi yang mengubah masyarakat kesukuan menjadi negara monarki modern berserta ashabiyah-nya.
Ibnu Khaldun berpandangan, melemah atau merosotnya ashabiyah terjadi melalui dua cara. Pertama, terbentuknya pola hidup menetap yang mengubah peran para pemimpin peradaban atau pemimpin negara menjadi elite politik dan elite ekonomi dengan kekuasaan politik dan kepemilikan materi yang sangat besar. Kedua, terbentuknya hierarki sosial di mana para elite politik dan elite ekonomi berupaya memapankan kekuasaannya.
Dalam konteks negara Teluk, lemahnya ashabiyah dipengaruhi oleh kuatnya kekuasaan monarki yang nyaris absolut serta segregasi sosial-ekonomi akibat arus modernisasi dan liberalisasi budaya.
Selain itu, alih-alih mewujudkan keamanan negara secara mandiri atau kolektif, negara-negara Teluk justru menjadikan kekuatan asing, yaitu Amerika Serikat sebagai penjaga keamanan. Melalui kerja sama patron-klien dengan Amerika Serikat, negara-negara Teluk memfasilitasi penempatan pangkalan militer di wilayah mereka, sedangkan Amerika Serikat menyediakan perlindungan keamanan dari ancaman regional.
Keunggulan Iran dalam menerapkan perang asimetris melawan militer konvensional Amerika Serikat-Israel membuat Iran semakin percaya diri mengendalikan jalannya perang. Negeri Persia tersebut bahkan mampu menutup Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur vital energi dunia.
Sebuah kenyataan yang menyadarkan negara-negara Teluk bahwa militer Amerika Serikat tidak sekuat perkiraan mereka. Pangkalan militer Amerika Serikat yang seharusnya menjadi jaminan keamanan justru menjadi objek yang mudah diserang oleh Iran.
Di tengah eskalasi perang, Iran mengajak negara-negara Timur Tengah membentuk aliansi keamanan tanpa keterlibatan AS dan Israel. Iran juga mengusulkan agar Islam dan Al-Quran menjadi dasar aliansi. Namun, wacana Iran ini tidak mendapat respons atau dukungan nyata dari negara-negara Timur Tengah.
Pendekatan Baru GCC
Demi meredakan konflik dan ketegangan, negara-negara Teluk melalui Dewan Kerja sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) perlu menerapkan pendekatan baru terhadap Iran. Melalui pendekatan dialog dan diplomasi antara GCC dan Iran diharapkan dapat bermuara pada titik temu bersama (common ground) antara negara-negara Teluk dan Iran.
Dengan dialog dan diplomasi, persaingan pengaruh geopolitik serta kekhawatiran akan instabilitas regional juga diharapkan dapat diatasi.
Untuk itu, GCC perlu membuka diri terhadap Iran sebagai sesama negara Islam di kawasan Teluk, bahkan jika perlu mendorong Iran bergabung menjadi anggota. Bergabungnya Iran ke dalam GCC memungkinkan Iran sebagai kekuatan regional memainkan peran strategis sebagai penjamin keamanan dan stabilitas kawasan.
Upaya tersebut sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun tentang ashabiyah. Menurutnya, semangat persatuan yang tercipta berdasarkan kebenaran agama tidak dapat disamai oleh persatuan yang terbentuk karena faktor lain. Agama dapat memperkuat ashabiyah dengan mengubah basis solidaritas sosial yang sebelumnya hanya berdasarkan ikatan darah, ras, etnis, bahasa, dan budaya menjadi ikatan dan solidaritas sosial berdasarkan nilai-nilai spiritual yang sama.
Sebagai salah satu negara besar di Kawasan Teluk, harus diakui bahwa pengaruh Iran sangat signifikan dan menentukan. Tanpa keterlibatan Iran, keamanan dan stabilitas Kawasan Teluk sulit diwujudkan.
Oleh karenanya, diperlukan perubahan pendekatan keamanan yang melibatkan kekuatan asing dari luar kawasan menjadi keamanan kolektif melalui kerja sama regional. Dengan terwujudnya keamanan dan stabilitas di Kawasan Teluk akan membuka jalan terciptanya perdamaian di Timur Tengah.
