Mendahulukan Sumber Daya Manusia Berkemajuan
/ Opini
Seyogianya, sebuah bangsa lebih utama bergantung pada sumber daya manusia, daripada sumber daya alam.
Ari Anshori
Dewan Syariah Majelis Pendayagunaan Wakaf
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Acapkali terdengar ungkapan tentang kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa yang tergantung pada besarnya sumber daya alam. Padahal seyogianya, sebuah bangsa lebih utama bergantung pada sumber daya manusia, daripada sumber daya alam. Jepang, Singapura, dan Korea Selatan dapat menjadi contohnya.
Apa perbedaan antara sumber daya alam dan sumber daya manusia? Sumber daya alam dikaruniakan oleh Allah SWT, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sedangkan sumber daya manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Manusia dikaruniai Allah berupa fitrah, nafsu, kalbu, ruh, dan akal sebagai kesatuan unsur sebagai khalifah di muka bumi. Lima kesatuan unsur tersebut merupakan pasangan sumber daya alam.
Bagaimana dengan Indonesia? Paradoks telah terjadi di Tanah Air. Negeri ini bahkan nyaris diterpa krisis.
Pada tahun 1970-an, Indonesia booming minyak. Negara seakan terapung di atasnya. Tetapi, akhirnya kita tak dapat suatu apa pun—atau bila dapat, tidaklah banyak—kecuali bahwa Pertamina hampir bangkrut.
Tahun 1980-an ada booming kayu, tetapi yang didapat negara hanya gundulnya hutan tropis di Sumatra dan Kalimantan, serta meningkatnya kerentanan terhadap banjir setiap kali hujan turun.
Tahun 2000-an ada booming mineral, seperti batubara, tetapi minim yang tertinggal untuk negara dan bangsa ini. Walhasil, hancurnya lingkungan dengan depresiasi yang luar biasa berhadapan dengan 95 persen eksportir yang tak mengantongi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Satu-satunya sumber daya alam yang masih terselamatkan, hanyalah laut, meski dengan syarat, pencurian kekayaan laut harus dihentikan dengan tegas.
Menggapai Dunia Demi Akhirat
Islam memiliki paradigma atau pandangan khusus yang positif dan konstruktif tentang dunia dan segala aspeknya. Salah satunya berkaitan dengan tata cara mengurus dunia. Islam mengajarkan kemajuan hidup bagi seluruh umat manusia. Dunia harus digapai demi akhirat, bukan untuk dijauhi (QS Al-Qashash: 77).
Manusia dalam pandangan Islam diciptakan sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi (Al-Baqarah: 11, 30; Hud: 61). Kaum Muslimin bahkan diangkat sebagai umat pilihan atau khayra ummah karena kehadirannya memiliki tugas suci untuk mendakwahkan Islam (QS Ali Imran: 110). Tugas mulia itu guna melanjutkan misi kerisalahan Nabi; rahmatan lil alamin (QS Al-Anbiya: 107). Itulah dasar paradigma Islam tentang kehidupan, yakni prokehidupan untuk kemaslahatan dan bukan antikehidupan.
Prinsip dasarnya, manusia diharuskan membangun di muka bumi, tetapi jangan merusaknya atau berbuat fasad fil-ardl (QS Al-Baqarah: 11). Kemajuan hidup di dunia harus diraih oleh umat manusia, lebih-lebih bagi kaum Muslimin.
Kemajuan hidup kaum Muslimin maupun umat manusia secara umum tidak hanya pesan normatif dan imperatif dari ajaran Islam, tetapi diwujudkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad bersama kaum Muslimin dalam membangun peradaban hidup yang cerah dan mencerahkan kemudian melahirkan era kejayaan Islam di panggung sejarah selama berabad-abad. Majunya peradaban justru karena umat Islam berbuat ihsan dan amal saleh yang melahirkan pencerahan atau al-Madinah al-Munawwarah.
Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas manusia, yakni dengan pendidikan. Pendidikan adalah pengamanan politik kita satu-satunya di luar bahtera yang hanya dikepung banjir dan air bah. Umat Islam kini dituntut untuk memperbanyak berdirinya sekolah-sekolah branding yang berkarakter, seperti Muhammadiyah Boarding School, Trensains, Muhammadiyah Program Khusus, Sekolah Islam Terpadu, atau Sekolah Negeri yang diadopsi dengan tuntutan kebutuhan masa kini.
Jumlah Muslim di Indonesia, mayoritas, tetapi belum dikonversi dalam bentuk kekuatan di bidang ekonomi, pertanian, pertahanan, politik, pendidikan, kesehatan, kelautan, sosial, dalam negeri, luar negeri, dan segala bidang apa pun yang diperlukan negara dalam rangka mewujudkan Indonesia adil dan sejahtera.
Padahal, di dalam Al-Quran Al-Karim surah ar-Ra’d ayat 11, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Ibrah dari Iran-Persia
Marilah mengambil ibrah (pelajaran) dari sejarah dan kegigihan sebuah negara yang tangguh, karena ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), yakni Iran-Persia. Dari negara ini, kita bisa melihat sebuah fenomena yang patut kita renungkan, yaitu hadirnya semangat ilmu Persia. Sebuah keyakinan mendalam bahwa sesungguhnya cinta Ilmu tidak bisa dihentikan oleh kekuatan apa pun di muka bumi.
Negara Iran mampu mengembangkan institusi seperti Syarif University of Technology yang muncul menjadi mercusuar, serta berdiri tegak sebagai pemimpin riset dan teknologi di Timur Tengah. Keberhasilan tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari output kerja keras yang nyata. Bayangkan, mereka mampu menghasilkan 250 ribu artikel ilmiah yang dipublikasi setiap tahunnya.
Kekuatan intelektual itu didorong oleh 4,7 juta mahasiswa aktif yang tersebar di 10 ribu universitas dan institusi pendidikan tinggi. Hasil riset mereka bukan sekadar angka, namun diakui dunia, terutama dalam penguasaan teknologi masa depan seperti AI dan nano-teknologi. Semua ini dilakukan demi satu tujuan mulia, yaitu membangun teknologi dan ilmu pengetahuan, karena mereka percaya bahwa ilmu adalah harga diri bangsa.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah:11)
Strategi Iran sangat jelas. Mereka fokus menyekolahkan rakyatnya secara masif. Mereka berani memimpin riset secara mandiri. Mereka mampu menanam ilmu di padang embargo. Hingga akhirnya, Iran bertransformasi menjadi trendsetter pendidikan dan teknologi di Timur Tengah. Sebuah bukti nyata dari harga diri bangsa.
Dari negara Iran kita bisa belajar bahwa cinta Ilmu tidak bisa diembargo. Meskipun mereka telah diembargo dan dijauhi selama lebih dari 40 tahun bahkan hingga di-blacklist dunia internasional, mereka sanggup berdiri di atas kaki sendiri.
Sejahtera Menurut Islam Berkemajuan
Konsep Islam berkemajuan memandang agama Islam sebagai agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan. Islam yang berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia.
Makna ‘kesejahteraan’ atau ‘sejahtera’ (welfare, prosperity) terkandung mendalam dan luas, yang secara kebahasaan ialah hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketenteraman. Kesejahteraan atau sejahtera dapat memiliki empat arti. Kesejahteraan dalam arti umum mengandung pengertian ‘menunjuk pada keadaan yang baik’. Satu kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, serta dalam keadaan sehat dan damai.
Dalam ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan keuntungan benda, yaitu memiliki arti khusus resmi atau teknikal, seperti dalam istilah fungsi kesejahteraan sosial. Dalam kebijakan sosial, kesejahteraan sosial menunjuk pada jangkauan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebuah istilah yang digunakan dalam ide negara sejahtera.
Islam meletakkan kesejahteraan dalam konteks kehidupan bangsa yang memiliki kaitan substansial dengan perintah Konstitusi kepada Pemerintah Negara sebagaimana terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1942, yaitu ‘memajukan kesejahteraan umum’.
Setelah merdeka, kesejahteraan bangsa Indonesia haruslah maju dan merata kepada seluruh rakyat, bukan terbatas pada sebagian golongan bangsa, lebih-lebih hanya golongan kecil. Dengan demikian, untuk dapat mencapai tahap berkemajuan, diperlukan keadilan, kemakmuran, serta berpegang teguh pada syariat.
Allah SWT. Berfirman dalam QS. Al-Jasiyat ayat 18, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu) maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Selain itu, QS. Al-Maidah ayat 33, “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”
Ada pula QS. An-Nisa ayat 135, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
Strategi Menyongsong SDM Berkemajuan
Islam saat ini berada dalam dinamika kehidupan kebangsaan yang kompleks dan menuntut kesadaran kolektif untuk secara terus-menerus terlibat aktif dalam mewujudkan cita-cita nasional yaitu Indonesia yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Dengan demikian, diperlukan strategi menyongsong SDM yang berkualitas, sehingga terwujud kebangkitan umat. Pertama, pilihan atas lembaga pendidikan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan zaman dan dibantu oleh lingkungan keluarga, masyarakat, dan masjid.
Kedua, persiapan membekali professional leader, kemahiran berbahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran, kemahiran berbahasa Inggris, kepakaran berpenelitian, keterampilan sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta keuletan berwirausaha. Ketiga, kesiapan dana yang memadai.
