Chief Editor Surakarta Daily alumnus FAI UMS 1998, Budi Gunawan Sutomo. (Dok Pribadi/Gemini)
Indonesia, Rumah Baru Umat Islam Dunia : Chief Editor Surakarta Daily alumnus FAI UMS 1998, Budi Gunawan Sutomo. (Dok Pribadi/Gemini)
Chief Editor Surakarta Daily alumnus FAI UMS 1998, Budi Gunawan Sutomo. (Dok Pribadi/Gemini)

Indonesia, Rumah Baru Umat Islam Dunia

Pemimpin kita seharusnya sudah mulai berbicara geopolitik peradaban, bukan hanya bicara soal subsidi atau bagi-bagi kursi.


Budi Gunawan Sutomo
Chief Editor Surakarta Daily
Alumnus FAI UMS 1998

 

Media massa mainstream nasional kita itu, rabun. Ya rabun dekat, rabun jauh. Sengaja atau tidak, mereka membuat kita menjadi bangsa penakut.

Setiap kali pecah perang di Timur Tengah, beritanya begitu-begitu saja. Harga bensin naik lah, harga plastik naik lah, Rupiah melemah lah. Kita dipaksa sibuk untuk menghitung dompet yang semakin tipis. Kita dipaksa menjadi ‘korban’ yang meratapi nasib. Korban ekonomi global.

Senyatanya, itu strategi semata. Supaya apa? Supaya kita tidak sadar bahwa di tengah api yang membakar negeri Arab, Indonesia sedang dipersiapkan oleh sejarah. Kita tidak sedang sekadar ‘terdampak’. Kita sedang diposisikan. Dan media nasional yang rabun itu—sengaja atau tidak—menjadi alat agar kita tidak pernah sadar akan posisi tersebut.

Lihatlah Timur Tengah, sekarang. Tiada hari tanpa bermusuhan. Negara-negara Teluk—raja-raja itu—rela menjadi ‘satpam’ kepentingan Amerika. Mereka punya uang, tapi tidak punya nyali geopolitik. Mereka takut pada Iran, pun takut pada rakyat sendiri, dan akhirnya berlindung di balik ketiak Paman Sam.

Proyek adu domba Sunni-Syiah sengaja dipelihara di sana, supaya energi umat habis untuk saling membenci dan supaya tahta mereka aman. Induk kekhalifahan di Turki sudah lama mati, lebih dari 100 tahun lalu atau tepatnya tahun 1924, karena kalah Perang Dunia I.

Raja-raja baru di Arab sekarang sibuk menjaga pangkalan militer Amerika. Iran sibuk dengan proyek revolusinya yang tak kunjung sampai. Mesir sedang sibuk bertahan dari kebangkrutan.

Bila demikian, umat Islam hendak lari ke mana? Jawabannya, tidak ada lagi episentrum di Arab. Gagalnya episentrum lama tersebut tinggal menyisakan puing-puing peradaban yang terus-menerus dibakar oleh kepentingan asing dan kebodohan sendiri.

‘Nubuat’ Fazlur Rahman dan Logika Pinggiran

Fazlur Rahman dalam karyanya Islam and Modernity tahun 1982 pernah menulis tesis mengejutkan bahwa pembaruan Islam tidak akan lahir dari pusat Arab, melainkan dari pinggiran. Menurutnya, jantung Islam sudah terlalu lelah dengan beban sejarah dan konflik politik akut.

Jadi logikanya, negara dengan Muslim terbesar di dunia—yaitu kita—otomatis menjadi pewaris sah estafet peradaban.

Guru Besar University of Chicago itu menyerukan epistemological rupture dari otoritas Arab-sentris. Artinya, kita harus berani memutus rantai ketergantungan intelektual pada Arab. Bukan karena anti-Arab, tapi karena sejarah sudah membuktikan bahwa titik pusat lama tidak lagi mampu melahirkan solusi.

Dalam kuliah-kuliahnya di Chicago, ia berulang kali menyebut Asia Tenggara sebagai kawasan yang paling mungkin melahirkan wajah Islam baru. Alasannya sederhana. Kita relatif terbebas dari belenggu politik feodal warisan Bani Umayyah. Kita tidak punya luka sejarah peristiwa Shiffin atau Karbala yang terus-menerus dirawat menjadi dendam politis.

Seorang Indonesianis, Robert Hefner, dalam Civil Islam terbitan Princeton University Press tahun 1999 menuturkan, Indonesia adalah bukti paling kuat bahwa Islam, demokrasi, dan modernitas bisa bersinergi. Hefner menyebut transisi demokrasi Indonesia (1998–2004) sebagai the single most important case study of Muslim democratization. Ungkapan Hefner ini bukan pujian kosong, melainkan fakta yang diakui dunia.

Selanjutnya, Anthony Reid, menambahkan, Nusantara memiliki tradisi otoritas yang dinegosiasikan, bukan absolut seperti kerajaan Timur Tengah. Makanya muslim Indonesia tidak mudah radikal. Sultan bukan khalifah suci, ulama bukan juru fatwa tunggal, dan rakyat punya ruang untuk membantah.

Dalam Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680  terbitan Yale University Press tahun 1993, Reid menggunakan istilah contestatory and negotiative polities untuk membedakan kerajaan Nusantara dari model kerajaan Timur Tengah yang terpusat dan sakral.

Sebutlah ini sebagai akar historis, mengapa Islam Indonesia lebih toleran dan akomodatif terhadap lokalitas. Bukan karena kita ‘kurang Islami’, tapi karena kita punya cara ber-Islam yang berbeda. Dan yakinlah bahwa hal itu adalah sebuah kekuatan.

Gravitasi Nusantara

Sekarang mata angin takdir tengah bergerak ke Timur. Karena, kita punya apa yang tidak dimiliki negeri Arab, berupa ‘ketenangan’.

Di saat negeri Arab sibuk menjalankan Islam yang identik dengan bom, kita punya Islam yang sibuk dengan ambulans dan pendidikan. Di saat mereka sibuk dengan fatwa yang kaku, kita punya NU dan Muhammadiyah yang sudah selesai dengan urusan modernitas dan tradisi sejak seratus tahun lalu.

Kita berada di titik terjauh dari pusat ledakan. Semua itu bukan kebetulan, tapi sebuah algoritma semesta agar masih ada satu tempat yang tetap utuh saat tempat lain hancur.

Indonesia adalah rumah baru umat Islam dunia. Rumah yang utuh. Rumah bagi Islam yang bisa hidup dengan demokrasi. Rumah bagi Islam yang tidak alergi pada kemajuan dengan tetap mencium tangan kiai.

Selama ini, media massa mainstream hanya menyuruh kita takut pada kenaikan harga plastik. Padahal, seharusnya kita bersiap. Gedung peradaban Islam di luar sana sudah runtuh, dan pusat gravitasinya sedang berpindah ke sini. Kalau Timur Tengah adalah masa lalu yang berdarah, Indonesia adalah masa depan yang teduh.

Pemimpin kita seharusnya sudah mulai berbicara geopolitik peradaban, bukan hanya bicara soal subsidi atau bagi-bagi kursi. Kita harus sadar, saat raja-raja di Teluk lelah menjadi satpam, dunia akan menoleh ke Jombang, Sleman, atau Jakarta.

Kita bukan lagi pinggiran. Kita adalah cadangan terakhir umat manusia. Sudah saatnya kita berhenti merasa menjadi korban ekonomi. Mulailah merasa menjadi pemimpin peradaban. Sebab, takdir tidak pernah salah memilih alamat. Dan alamat itu ada di sini. Indonesia.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik