Dari Kampus Pabelan ke DPRD Sukabumi
/ Inspirasi
Kejelian akademis, independensi aktivisme, dan pengalaman jurnalistik mampu melahirkan figur kepemimpinan publik yang utuh dan berintegritas.
Dinamika kepemimpinan publik di Indonesia sering kali mempertemukan kita dengan figur-figur yang lahir dari proses panjang dan tidak instan. Sebuah kepemimpinan politik yang matang, bijaksana, serta memiliki arah kebijakan yang terukur tidak terbentuk dalam semalam.
Fondasi akademik sang figur begitu kukuh, berikut kawah candradimuka aktivisme yang menempa mentalitas, serta rentetan pengalaman lapangan yang menguji integritas secara konsisten.
Satu di antara sedikit figur yang merepresentasikan sintesis sempurna antara idealisme mahasiswa, kejelian akademis, dan kematangan politik adalah Rojab Asy’ari. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi periode 2024–2029 dari PDI Perjuangan.
Namun, jika kita menarik garis waktu jauh ke belakang, jejak keberanian, ketajaman berpikir, dan karakter kepemimpinannya berawal dari satu titik di Kota Surakarta, yaitu Kampus Pabelan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Bagi sivitas akademika UMS dan masyarakat Kota Solo secara umum, rekam jejak Rojab Asy’ari adalah bukti nyata bahwa Kota Surakarta bukan semata tempat menimba ilmu, tetapi laboratorium sosial yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin daerah berkualitas.
Kombinasi antara ilmu ekonomi manajemen yang diterimanya di bangku kuliah dan tempaan keras Pers Mahasiswa (Persma) Pabelan telah membentuk gaya kepemimpinan publik yang unik, yaitu berbasis data, peka terhadap realitas sosial, dan berani bersuara untuk kepentingan rakyat banyak.
Fondasi Ilmu Ekonomi Manajemen UMS
Pada paruh awal dekade 1990-an, Rojab Asy’ari melangkahkan kakinya ke Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi UMS. Memilih disiplin ilmu manajemen pada era tersebut bukanlah keputusan mencari gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) saja, namun bentuk investasi berpikir jangka panjang.
Bagi Rojab, ilmu manajemen adalah seni sekaligus sains dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan yang paling optimal.
Selama masa studinya yang rampung pada tahun 1997, beliau mempelajari berbagai prinsip mendasar yang kelak menjadi instrumen berharga di dunia politik dan pemerintahan daerah. Di dalam ruang-ruang kelas manajemen UMS, para mahasiswa dididik untuk selalu mengambil keputusan berbasis data dan mengesampingkan dorongan emosional.
Pemanfaatan kerangka analitis seperti analisis SWOT, identifikasi variabel sosial-ekonomi, dan kalkulasi risiko membentuk pola pikir Rojab agar setiap gagasannya di ruang publik selalu mendasarkan diri pada fakta empiris.
Selain itu, pemahaman mendalam mengenai tata kelola organisasi dan efisiensi sumber daya memberi pembekalan komprehensif tentang cara sebuah sistem bekerja secara menyeluruh. Logika sistemik ini memadukan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga pengawasan.
Penguasaan fungsi-fungsi tersebut sangat relevan dengan peran legislatifnya hari ini. Relevansi itu terlihat khususnya ketika ia menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta mengevaluasi efektivitas kinerja jajaran eksekutif.
Latar belakang ilmu manajemen strategis tersebut juga memberikan landasan bagi Rojab untuk memetakan dinamika konflik kepentingan, mengukur dampak alokasi anggaran, serta menentukan skala prioritas pembangunan secara presisi.
Dalam konteks pembangunan Kota Sukabumi, penguasaan keilmuan ini membantunya mendorong rancangan regulasi daerah yang terstruktur dan memberikan dampak ekonomi terukur bagi kesejahteraan masyarakat kelas bawah.
Namun demikian, teori-teori manajemen di atas kertas tentu akan tumpul jika tidak diuji dalam realitas organisasi yang kompleks. Pada titik inilah dinamika dunia kemahasiswaan Surakarta mengambil peran vitalnya.
Kawah Candradimuka Persma Pabelan UMS
Menengok ke luar ruang kuliah yang tenang, atmosfer Kampus UMS pada pertengahan 1990-an dipenuhi oleh dinamika gerakan mahasiswa menjelang era Reformasi. Di tengah kehangatan ruang diskusi dan gelombang aksi sosial, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan berdiri teguh sebagai salah satu pers mahasiswa yang disegani di Jawa Tengah hingga tingkat nasional.
Rojab Asy’ari memilih Pabelan sebagai wadah utama untuk menggembleng diri. Keterlibatannya di Koran Pabelan Pos dan Majalah Mahasiswa Pabelan terus berkembang pesat berkat ketekunan, integritas, serta kapasitas kepemimpinannya.
Proses tersebut mengantarkannya dipercaya memegang tampuk kepemimpinan tertinggi sebagai Pemimpin Umum Pabelan. Mengelola pers mahasiswa pada era transisi politik bangsa bukanlah perkara ringan, serta lebih mirip kawah candradimuka yang menempanya menjadi pribadi bermental baja.
Dunia jurnalistik kampus menanamkan prinsip skeptisisme positif dan ketajaman berpikir kritis yang membiasakan Rojab untuk tidak menelan bulat-bulat narasi resmi kekuasaan. Budaya riset yang kuat, disiplin verifikasi, serta kewajiban menguji setiap informasi secara berimbang membentuk ketajamannya dalam melihat akar permasalahan di balik sebuah isu sosial.
Pada saat yang sama, tantangan mengelola media kampus yang kritis melatih daya tahan mental dan independensi berpikirnya di bawah tekanan birokrasi maupun dinamika politik luar kampus.
Proses aktivisme di Pabelan juga mengasah empati kemanusiaan serta kepekaan sosialnya secara mendalam. Melalui liputan lapangan langsung dan investigasi sosial di tengah warga, ia memandang pena pers mahasiswa sebagai alat perjuangan untuk menyuarakan kelompok masyarakat yang sering terabaikan.
Lebih dari itu, peran manajerial sebagai Pemimpin Umum menuntutnya dapat mengelola seluruh ekosistem penerbitan dari segi redaksional hingga keuangan. Pengalaman ini menjadi wujud nyata penerapan teori manajemen UMS dalam dapur redaksi yang dinamis.
Integrasi Keilmuan dalam Kepemimpinan Publik
Melihat rekam jejak digital dan perjalanan hidup Rojab Asy’ari, terlihat benang merah yang sangat konsisten di mana kariernya berevolusi secara alamiah dan saling menguatkan dari satu fase ke fase berikutnya.
Berawal dari aktivis Pabelan UMS, ia melanjutkan kiprahnya sebagai jurnalis profesional selama 16 tahun. Setelah itu, ia mendedikasikan diri sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), hingga akhirnya dipercaya menjadi pimpinan DPRD Kota Sukabumi.
Pengalaman belasan tahun menembus berbagai lapisan masyarakat sebagai jurnalis profesional memberinya pemahaman yang kaya mengenai lanskap pemerintahan, konflik sosial, dan kebutuhan riil di tingkat akar rumput.
Pengalaman tersebut kemudian diperkaya oleh kiprahnya di dunia pendidikan sebagai akademisi. Peran ini mempertegas keterikatannya pada tradisi intelektual Muhammadiyah yang inklusif dan mencerahkan sebelum akhirnya melangkah mantap ke panggung legislatif.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi sekarang, sintesis antara keilmuan manajemen dan kepekaan persma terlihat jelas dalam gaya kepemimpinannya. Rojab menerapkan sikap kritis yang konstruktif dengan cermat menelaah rancangan peraturan daerah serta membedah angka-angka dalam APBD untuk memastikan alokasi anggaran publik benar-benar berpihak pada rakyat.
Kebiasaan mendengar yang dipupuk sejak masa persma dan jurnalisme juga membuat ruang kerjanya selalu terbuka bagi berbagai elemen masyarakat melalui komunikasi publik yang lugas dan tanpa sekat birokrasi.
Di sisi lain, pengawasan pemerintahan yang ia jalankan berbasis pada prinsip-prinsip manajerial yang terukur. Evaluasi terhadap kinerja instansi pemerintah daerah pun tidak hanya berisik di media, tetapi menghasilkan perbaikan nyata.
Kisah perjalanan Rojab Asy’ari dari koridor Kampus UMS Pabelan menuju kursi pimpinan DPRD di Jawa Barat memberikan pelajaran berharga bahwa aktivisme dan keilmuan akademis saling memperkuat. Rekam jejaknya menegaskan reputasi UMS Surakarta sebagai kampus pembina karakter yang terus melahirkan pemimpin berintegritas.
