Kick off penanaman mangrove di pesisir Jomblom, Cepiring, Kendal. (IG/Mbak Tika Kendal)
Sejuta Mangrove Berjuta Harap : Kick off penanaman mangrove di pesisir Jomblom, Cepiring, Kendal. (IG/Mbak Tika Kendal)
Kick off penanaman mangrove di pesisir Jomblom, Cepiring, Kendal. (IG/Mbak Tika Kendal)

Sejuta Mangrove Berjuta Harap

/ Inspirasi

Konservasi menjadi harga mati demi keberlangsungan dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir.


Singgih Sugiharto
Pegiat konservasi lingkungan
Alumnus FEB UMS 1996

 

Rabu (29/4/2026) menjadi hari yang bersejarah, terutama bagi warga di wilayah pesisir Jomblom, tepatnya Desa Korowelanganyar, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Untuk menanggulangi abrasi, telah dimulai penanaman sejuta bibit mangrove. Gerakan konservasi tersebut diinisiasi oleh Yayasan Masyarakat Peduli lingkungan hidup Kendal (MPLHK).

Mangrove sangat efektif melindungi pantai dari abrasi dan meningkatkan kualitas air. Selain itu, mangrove juga dapat menjadi habitat bagi berbagai jenis hewan dan tumbuhan laut. Penanaman mangrove bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan, mencegah abrasi pantai, meningkatkan keanekaragaman hayati di wilayah pesisir, pelindung dari bencana pesisir, menyerap karbon, serta memperbaiki kualitas air.

Selain itu, mangrove juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat pesisir, khususnya dalam mendukung mata pencarian serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan.

Pesisir Jomblom termasuk salah satu daerah terdampak abrasi yang parah di Kabupaten Kendal. Wilayah ini belum terjamah oleh kegiatan penanggulangan abrasi apa pun, karena medan yang cukup berat. Padahal, dahulu Pantai Jomblom merupakan pantai yang indah dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Garis pantai sekitar 2 km yang dimiliki Desa Korowelanganyar, hampir 90 persennya telah hilang, sehingga air laut langsung berbatasan dengan tanggul tambak. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan tambak hingga lahan pertanian masyarakat.

Penanaman tahap awal melibatkan 200 relawan pencinta lingkungan. Aksi penanaman 2.000 mangrove dilakukan sejak dua minggu sebelumnya. Sekitar 5.000 mangrove akan ditanam dan akan berkelanjutan di pesisir pantai lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan MPLHK, Zaenal Nursikin, berkomitmen untuk melanjutkan penanaman mangrove dengan merawat dan menjaganya. Yayasan bahkan bercita-cita menjadikan pesisir Jomblom sebagai kawasan konservasi mangrove. Meski risiko yang akan dihadapi tidaklah kecil, karena membutuhkan keberanian dan pendanaan yang tidak sedikit.

Di depan Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari serta para pejabat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Pemali Jratun, Kementrian Kelautan dan Perikanan, DPRD Kabupaten Kendal, para relawan peduli lingkungan hidup, akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan pejabat lainnya, Zaenal mengharapkan banyak dukungan.

Merespons Ketua Yayasan MPLHK, Bupati Tika kemudian menyampaikan apresiasinya atas aksi penanaman sejuta mangrove di wilayah kepemimpinannya. Terlebih, abrasi semakin mengkhawatirkan. Bila tidak segera ditanggulangi, dapat membahayakan warga sekitar pesisir.

Perwakilan UMS, Yasir Sidiq, menegaskan bahwa UMS sangat terbuka menjalin kerja sama di bidang lingkungan hidup, baik dalam bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat, penelitian, maupun program kolaboratif lainnya. UMS bukan institusi pendidikan yang hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga aktif dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Dukungan Gubernur Jawa Tengah

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luhfi, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, juga mengapresiasi inisiatif dan dedikasi Yayasan MPLHK untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir serta menjawab berbagai tantangan kerusakan ekosistem yang dihadapi.

Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, luas mangrove existing di Jawa Tengah tercatat sebesar 15.886 hektare, dengan kondisi kerapatan yang beragam, yaitu 2.795 hektare (17,59 persen) berkategori jarang, 1.826 hektare (11,49 persen) berkategori sedang, dan 11.264 hektare (70,91 persen) berkategori lebat.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian kawasan mangrove masih dalam kondisi baik, namun masih terdapat area dengan kerapatan jarang dan sedang yang perlu direhabilitasi dan tingkatkan kualitasnya. Sementara tantangan serius, seperti abrasi, intrusi air laut, penurunan muka tanah, serta banjir rob, tengah mengintai setiap saat.

Dalam kurun waktu 2013 hingga 2021, wilayah pesisir Jawa Tengah telah mengalami abrasi seluas 4.993,87 hektare. Bahkan di beberapa wilayah pantai utara juga terjadi penurunan muka tanah rata-rata sebesar 2,44 hingga 3,74 cm per tahun.

Khusus Kabupaten Kendal, dari total garis pantai sepanjang 41 km, sekitar 19 km atau 46,3 persen telah mengalami abrasi, yang tersebar di tujuh kecamatan, yaitu Rowosari, Kangkung, Cepiring, Kendal, Patebon, Brangsong, dan Kaliwungu. Bahkan berdasarkan studi perubahan spasial periode 1990–2020, luas abrasi di wilayah pesisir timur Kendal mencapai 470,484 hektare.

Penanaman sejuta mangrove bukan hanya formalitas program kerja strategis. Aksi ini mewakili jutaan harap masyarakat kawasan pesisir akan hidup yang lebih baik, dengan bersama-sama membangun konservasi mangrove. Jelas tidak mudah, tapi tak ada jalan lain.

Kesadaran di tingkat Akar-Rumput menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program yang membutuhkan ketekunan dan keuletan tersebut. Selebihnya, dukungan kewenangan dan pembiayaan tidak dapat disepelekan atau dilakukan sambil lalu. Tanpa itu semua, cita-cita mewujudkan kawasan konservasi mangrove akan menguap di tengah jalan.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik