Penulis (berkaos kuning) bersama tim redaksi media publikasi Pondok Shabran tahun 1980-an. (Dok. Pribadi Umar Jahidin)
Ajar Damai dengan Diri, Sebuah Refleksi Februari : Penulis (berkaos kuning) bersama tim redaksi media publikasi Pondok Shabran tahun 1980-an. (Dok. Pribadi Umar Jahidin)
Penulis (berkaos kuning) bersama tim redaksi media publikasi Pondok Shabran tahun 1980-an. (Dok. Pribadi Umar Jahidin)

Ajar Damai dengan Diri, Sebuah Refleksi Februari

Hidup bukan panggung pembuktian, sebab setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing.


Umar Jahidin
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah.
Alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran.

 

Saya pernah berhadapan dengan sebuah kenyataan yang benar-benar tidak nyaman bahwa ternyata dalam hidup, tidak semua orang mampu berbahagia ketika melihat orang lain berbahagia.

Ada orang yang merasa dirinya paling hebat dan paling layak berada di ‘atas’. Selama orang lain tetap berada pada posisi yang ia kenal sebelumnya, yakni lebih rendah, lebih susah, dan lebih terbatas, ia merasa aman.

Tapi, ketika seseorang mulai maju, bertumbuh, atau melampaui batas yang ia bayangkan, suasana pun berubah. Tatapannya menjadi dingin, dukungan menghilang, bahkan terkadang muncul sikap, seolah kemajuan itu adalah kesalahan.

Dari situlah saya belajar mengenali rasa iri. Bukan sekadar rasa tidak suka, tetapi takut kehilangan posisi. Saya mulai memahami bahwa orang seperti ini tidak selalu jahat. Hanya mungkin dan sering terjadi, mereka belum berdamai dengan dirinya sendiri.

Karena, harga diri mereka dibangun dari perbandingan. Nilai diri mereka bergantung pada posisi di atas orang lain. Wajar bila saat orang lain maju, mereka merasa turun, meski sebenarnya tidak ada apa pun yang terambil dari hidup mereka.

Ironisnya, orang yang senang melihat orang lain susah sering kali adalah orang yang paling menderita di dalam hidupnya. Ia penuh kecemasan, khawatir tersaingi, atau resah bila tidak lagi dianggap. Ia sibuk mengawasi langkah orang lain, sampai lupa melangkah untuk dirinya sendiri.

Dari situ saya belajar satu hal penting bahwa kemajuan orang lain tidak pernah menjadi ancaman, kecuali bagi orang-orang berhati sempit.

Berhadapan dengan sikap seperti ini mengharuskan saya untuk memilih. Apakah saya akan mengecilkan diri agar orang lain merasa nyaman, atau saya akan tetap bertumbuh, meski tidak semua orang senang melihatnya?

Saya mengambil pilihan yang kedua dengan catatan, tanpa kesombongan. Saya belajar melindungi diri dengan cara sederhana, yakni berhenti mengharap semua orang akan mengerti; berhenti menunggu semua orang akan mendukung; berhenti menjelaskan diri pada mereka yang sudah berkeputusan untuk tidak memahami.

Saya tetap rendah hati, tapi tidak berhenti maju. Saya tetap sopan, tapi memberi jarak yang sehat. Saya menolak membalas iri dengan kebencian, karena saya tidak ingin meniru sikap itu agar tidak membuat luka yang sama.

Perlahan saya sadar, hidup bukan panggung pembuktian. Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling dulu, paling tinggi, dan paling hebat. Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Setiap orang mempunyai jalannya masing-masing.

Hati yang lapang akan berkata, “Jika Anda berhasil, saya juga akan belajar agar bisa meniru keberhasilan Anda.”

Tapi saya tidak hendak meniru langkah hati yang sempit dan sering berkata, “Jika Anda berhasil, berarti saya kalah.”

Karena itu, saya tidak menginginkan hidup dengan hati sempit. Saya menginginkan hidup dengan hati yang mampu bersyukur atas jalan saya sendiri dan atas banyaknya inspirasi dari kemajuan orang lain.

Karena pada akhirnya, iri hati bukan tanda kekurangan harta atau kemampuan, melainkan tanda bahwa seseorang belum berdamai dengan dirinya sendiri.

Dan saya memilih untuk terus belajar berdamai dengan diri sendiri. Sejatinya saya telah begitu sejak saya merantau dalam usia yang sangat muda, selepas tamat Sekolah Dasar tahun 1970-an, dari Labuan Bajo, Bima, Yogyakarta, Solo, hingga berada di Tangerang dan Jakarta saat ini.

Editor: Rahma Frida


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik