Air Lestari Suraksa Bhawana
/ Inspirasi
Merawat hutan, air, dan paseduluran adalah kunci kelestarian semesta.
Sentot Suparta
Founder Lori Gondang Library
Cuaca cerah menyelimuti camping ground area Deles Indah, Klaten. Seiring mentari pagi yang terus meninggi, anggota komunitas Sedulur Banyu mulai berdatangan. Komunitas ini berorientasi pada upaya pelestarian alam dan budaya, terkhusus ekologi lereng Merapi sebagai basis pelestarian sumber air.
Hari itu, Sabtu (24/1/2026), bermula gelaran Water Defender Camp (WDC) hingga dua hari satu malam bertajuk ‘Suraksa Bhawana’ yang diisi beberapa agenda, sedari sarasehan, penanaman bibit pohon, kemudian melepas burung ke alam liar.
Seusai opening dan pemasangan tenda, peserta WDC bersiap mengikuti acara sarasehan. Cahaya mentari menembus celah daun, tumpah di atas tikar tempat sarasehan digelar. Kehangatan membias di tanah dan rerumputan, membakar semangat teman-teman Experience Trip; sekelompok talenta muda yang didaulat sebagai panitia WDC.
Sarasehan sesi pertama siang itu bertema Ekologi Lereng Merapi dan Observasi Lingkungan, bersama narasumber berlatar belakang tokoh masyarakat Deles, sekaligus pegiat budaya dan lingkungan hidup. ‘Jiwa Merapi’ sangat mewarnai paparan demi paparan.
Interaksi pun mulai mengalir, lantas merambah relung kehidupan, sejak Merapi Purba hingga sekarang. Berlanjut pada pemaknaan kearifan lokal masyarakat Lereng Merapi dalam menjaga ‘paseduluran’ dengan Merapi, berikut implementasi rasa hormat dan cinta masyarakat terhadap Merapi yang terwujud melalui beragam ritual, semisal menanam pohon, merawat mata air, dan ragam budaya lain.
Etos paseduluran masyarakat Lereng Merapi berakar pada sikap prasaja dan legawa. Menerima setiap kridha Merapi secara tulus-ikhlas. Bagaimana pun Merapi adalah wutah rah, tempat merajut kehidupan dan penghidupan. Lebih dari itu, kearifan lokal Lereng Merapi adalah pengabdian senyap pada kemaslahatan. Berbekal ‘setetes air’ memberi penghidupan kawasan hilir dengan filosofi nandur wiji keli.
Acara sarasehan sesi pertama pun berakhir, dirangkai kegiatan menanam bibit pohon hingga sandyakala menjelang. Seiring mentari melangkah ke peraduan, peserta WDC memasuki saat free time. Jeda acara selama 90 menit, sebelum kegiatan dilanjutkan.
Rembulan muda bercengkerama di langit Dalikeling, menengarai awal bulan Sya'ban 1447 H. Embun malam mengguyur camping ground area, luruh di antara nyanyian belalang di pepohonan. Udara dingin menyapa para peserta WDC yang duduk berjajar di atas tikar, bersiap mengikuti acara sarasehan sesi kedua.
Diskusi hangat berteman singkong goreng dan secangkir kopi, membingkai suasana interaksi malam itu. Pada sarasehan sesi kedua panitia menghadirkan praktisi sebagai narasumber. Tema yang diangkat yakni ‘Menjaga Kehidupan dari Hulu ke Hilir’.
Interaksi diawali penyampaian materi yang berorientasi pada pengelolaan sumber air untuk kepentingan korporasi, pariwisata, dan pertanian. Seiring perkembangan, interpretasi terhadap sistem air hulu-hilir semakin masif. Hal itu mempertegas peran strategis kawasan hulu dalam hal pemenuhan kebutuhan air bagi kawasan hilir. Konsekuensinya, kawasan hilir wajib berkontribusi menjaga kelestarian sumber air kawasan hulu. Dalam lingkup bisnis, kontribusi tersebut mulai diatur secara konkret berupa kompensasi maupun sharing profit.
Kajian akademik pemateri tentang sistem air hulu-hilir membuka khazanah lebih luas. Kajian yang membuka cara pandang terkait nilai strategis ekologi Lereng Merapi terhadap pelestarian sumber air sebagai pemberi kehidupan kawasan hilir.
Peta tangkapan air Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur dan Dengkeng memberi gambaran peran vital daerah tangkapan air Lereng Merapi dalam pemenuhan kebutuhan air kawasan hilir. Tangkapan air Lereng Merapi merambah seluruh wilayah Klaten, bahkan menjadi penyangga kebutuhan air wilayah Surakarta.
Angin malam meremas jemari, sedingin salju. Sarasehan malam itu pun tiba di batas waktu, menyisakan kalimat makna tentang bandawalapati yang tak akan pernah berakhir, antara ketulusan alam dan keserakahan manusia.
Lidah api menjilat tabir malam dan membagi kehangatan kiblat papat. Selepas acara, beberapa peserta WDC melanjutkan obrolan di tepian api unggun. Gendu-gendu rasa seputar pelestarian alam dan budaya. Peserta lainya terlelap dalam tenda, dibuai alunan orkestra Kidung Puspa Rasamala, berselimut suhu 19 derajat Celcius.
Hari pun berganti. Noka Langit, sebuah kedai tak jauh dari lokasi, membuka hari dengan sajian lodeh sambal trasi yang menggugah selera para peserta WDC, sebelum mengikuti acara sarasehan sesi ketiga menghadirkan narasumber bertema ‘Peran Kelestarian Air dan Paseduluran Banyu dalam Pariwisata Berkelanjutan’.
Kisaran jam 10 pagi, sarasehan sesi ketiga dimulai. Dipaparkan pentingnya network berbasis sistem Pentahelix dalam pengelolaan pariwisata. Pentahelix melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Masing-masing unsur berperan dalam kajian potensi, serta pengembangan dan keberlanjutan pariwisata. Di luar aspek manajerial, kelestarian alam merupakan aspek strategis sebagai sumber potensi bagi pariwisata berbasis alam dan air.
Setelahnya, dijelaskan proses pengembangan wisata Kalitalang dengan segala keterbatasan dan dinamika dalam menyikapi segala prospek dan hambatan. Dimulai dari kajian potensi, menyusun tim kerja, merintis kerja sama, sampai penerapan teknologi. Sebuah perjalanan melelahkan dari titik nol hingga terwujud ekowisata Kalitalang seperti sekarang.
Sarasehan sesi ketiga berakhir. Demikian pula rangkaian kegiatan WDC yang berlangsung sejak kemarin pagi. Closing ceremony diisi dengan pelepasan burung ke alam liar. Prosesi ini dipandu oleh pinisepuh dan paranpara WDC maupun Sedulur Banyu.
Risang Panji Udan melangkah perlahan, menulis mantram di relung angan. Bait-bait seloka mengalunkan seribu doa puji-puja kepada Hyang Manon serta mengiba welas-asih-Nya bagi harmoni semesta. Kepak sayap paksi mengabarkan harapan dan cita bhawana langgeng pada setiap nurani.
Tidak ada closing statement pada akhir gelaran WDC. Terlalu pagi untuk merangkum kesimpulan. Terlalu dini untuk merumuskan keputusan. Hanya sebaris catatan tentang keluh kesah alam yang harus segera dikabarkan. WDC adalah proses inteprestasi untuk membuka kacamata awam tentang konsep keberlanjutan.
Suraksa Bhawana adalah sebuah konsep yang lahir dari keresahan alam. Anak polah, bapa kepradah. Alam polah, manusia (imam mayapada) kepradah. Suraksa Bhawana merupakan konsep menjaga alam dari kelalaian, keserakahan, dan kesombongan manusia. Konsep merawat hutan (Suraksa Wana), merawat air (Suraksa Tirta), dan merajut paseduluran-kolaborasi (Suraksa Baraya).
Konsep Suraksa Bhawana harus ‘tersampaikan’ kepada awam, atau pihak yang ‘masih’ merasa awam. Implementasi konsep Suraksa Bhawana harus di-semesta-kan untuk berbagi peran. Gelaran Water Defender Camp (WDC) adalah jembatan untuk me-Pentahelix-kan keluh-kesah alam.
Salam Tirta Bhawana Lestari.
Editor: Astama Izqi Winata
